08 December 2014

Roedhi Poernama, Pendiri Komunitas Jazz C-26 Surabaya, Berpulang

Baru saja selesai membuat catatan ringan tentang jazz di Surabaya, tiba-tiba datang SMS dari Mbak Sari. Isinya sangat mengagetkan: "Mohon datang di acara In Memoriam Roedhi Poernama, Rabu 10 Desember 2014, di Medokan Asri Utara IV/MA 33C-26. Tks."

Oh, Tuhan, Mas Roedhi Poernama meninggal dunia? Saya pun langsung menelepon Mbak Sari, istri Mas Roedhi. "Mas Hurek...," ujarnya dengan suara tersekat. "Mas Roedhi sudah nggak ada. Saya sempat syok, nggak bisa kasih tahu teman-teman," katanya. 

Saya pun hanya terdiam mendengar suara Mbak Sari yang masih terbata-bata. Rupanya, wanita yang selalu mendampingi Mas Roedhi di berbagai event jazz di Surabaya ini sangat kehilangan suami tercinta. Di usia yang masih relatif muda. "Kalau bisa datang ya Mas," pintanya.

Bukan hanya saya, komunitas jazz di Kota Surabaya, bahkan Jawa Timur, kehilangan Roedhi Poernama. Dialah pendiri C.TWOSIX JAZZ COMMUNITY yang getol mempromosikan musik jazz di Surabaya sejak awal tahun 2000. Berbekal kecintaan yang luar biasa pada jazz, Mas Roedhi bersama Mbak Sari tak henti-hentinya masuk keluar kampus, masuk kafe-kafe, bikin festival kecil-kecilan, hingga diskusi tentang jazz.

"Jazz itu tidak akan mati. Cuma kita harus telaten menyebarluaskannya ke masyarakat, khususnya anak-anak muda," kata Roedhi Poernama kepada saya suatu ketika. Itulah alasannya membuat acara Jazz Goes to Campus di Surabaya. Gerakan jazz masuk kampus ini cukup berhasil membangunan bibit-bibit muda jazzer, plus penggemar jazz, di Surabaya.

Sadar bahwa jazz itu bukan pop yang penggemarnya jutaan, tapi juga cepat hilang, Roedhi Poernama mendirikan komunitas jazz yang terorganisir. Namanya C-TwoSix Jazz Community, sesuai dengan nomor rumahnya. Saya juga tercatat sebagai anggota. Setiap member bayar iuran bulanan untuk konsumsi dan bayar bintang tamu untuk jam session. 

"Ada yang rajin bayar, tapi lebih banyak yang nggak bayar," katanya lantas tertawa. Karena itulah, Mas Roedhi harus keluar banyak uang untuk menghidup komunitas jazz ini. Sampai akhir hidupnya. Ini juga yang membuat C-26 paling eksis di Kota Surabaya, sementara banyak komunitas jazz yang mati suri.

Cita-cita Roedhi Poernama sederhana saja. "Saya ingin agar jazz ini kayak sepak bola. Disukai banyak orang, dinikmati, jadi sumber inspirasi dan kebahagiaan selama kita masih hidup. Jazz itu musik yang luar biasa," katanya dalam berbagai kesempatan.

Namun, mewujudkan cita-cita menjadikan jazz seperti sepak bola itu tidak mudah. Selama 10 tahun terakhir, Roedhi dan komunitasnya harus pindah-pindah main jazz dari kafe ke kafe lain. Sebab, kafe-kafe yang mencoba menawarkan sajian jazz itu ternyata tidak bisa bertahan lama. Buyar satu per satu. Kafe-kafe jazz memang sejak dulu sepi pengunjung.

Toh, bagi Roedhi Poernama, jazz tidak boleh mati. Maka, dia selalu bikin pertunjukan atau jam session jazz di rumahnya. Dia undang musisi baik yang senior, junior, pemula, bahkan awam untuk... main jazz. Kita yang bukan musisi, cuma penonton, bisa ikut main dengan bertepuk tangan atau sekadar mengeluarkan suara secara bebas. Bla bla bla bala... 

Asyik juga!

Sayang, Roedhi Poernama tak lagi bersama kita. Dia sudah dipanggil Sang Pencipta kembali ke pangkuan-Nya. Semoga beliau beristirahat dalam damai Tuhan!

Cita-cita Roedhi Poernama, yang ingin menjadikan musik jazz populer kayak sepak bola, masih jauh dari selesai. Kita yang masih hidup harus melanjutkan perjuangan Mas Roedhi. Dengan cara kita masing-masing! 

Selamat jalan Mas Roedhi Poernama!

No comments:

Post a Comment