20 December 2014

Revolusi Mental ala Jokowi Sudah Gagal

"Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Revolusi mental yang digemborkan Presiden Jokowi rupanya tidak jalan. Khususnya merevolusi mental aparat yang korup dan sudah nyaman hidup bertahun-tahun sebagai beking bisnis haram. Makan uang yang tidak halal. Delapan anam!

Saya baca di koran, Jumat (19/12/2014), Presiden Jokowi marah-marah karena sekitar 7.000 kapal asing pencuri ikan masih berkeliaran di Indonesia. Berpesta curi ikan tiap hari tanpa diapa-apakan. Negara maritim ini dijadikan bancakan maling-maling asing yang punya kapal besar dan canggih.

Jokowi bilang begini: "Masak, dari ribuan kapal (pencuri ikan) baru tiga yang ditenggelamkan. Harusnya lebih. Saya masih menunggu penenggelaman kapal yang lain."

Hehehe... Rupanya Jokowi baru tahu kalau mafia ikan itu sudah begitu mencengkram Indonesia. Kapal-kapal maling itu bisa berkeliaran tentu karena dibekingi oleh petugas-petugas negara yang mengurusi perikanan dan kelautan. Termasuk tentara yang mengurusi laut, polisi air, hingga pemerintah daerah. 

Dari ribuan kapal, hanya TIGA yang ditenggelamkan. Itu pun kapal-kapal kecil yang sangat sederhana. Bukan kapal-kapal besar yang canggih, yang punya pabrik di dalamnya, yang punya teknologi tinggi. Seharusnya bukan hanya tiga kapal, tapi seribu kapal. Atau 2.000 kapal maling yang ditenggelamkan. Minus manusia-manusia di dalam kapal itu.

Mengapa revolusi mental di kalangan aparat sangat sulit dilakukan? Bahkan hil yang mustahal di Indonesia? Pagi ini saya membaca kitab suci, Alkitab Bahasa Jawa, ketemu omongan Nabi Yohanes (Yahya): "Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Kata-kata disampaikan Yohanes untuk menjawab pertanyaan para prajurit (tentara) yang datang kepadanya. Apa yang harus kami lakukan agar diterima di Kerajaan Tuhan? "Aja padha meres, ngrampas... Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!"

Hehehe.... Saya ketawa sendiri karena ingat omongan Jokowi soal kapal asing yang tidak ditenggelamkan tentara di laut. Di zaman Yohanes Pemandi, tak lama sebelum Yesus lahir, tentara-tentara di Palestina ternyata suka memeras dan merampas harta rakyat. Padahal, mereka ditugasi untuk melindungi dan melayani rakyat.

Karena itu, tentara-tentara diminta "cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!" Cukup tidak cukup, hiduplah dengan gaji resmimu! Jangan jadi beking untuk menambah penghasilan secara haram. Jadilah tentara yang membela rakyat. Yang berbakti 100 persen kepada bangsa dan negara.

Bagaimana kalau gaji resmi tentara tidak cukup untuk hidup? Bolehkah merampas, memeras, jadi beking bisnis haram, melindungi kapal-kapal maling ikan? Di kitab suci tidak dibahas soal gaji yang tidak cukup. "Cukup ora cukup, uripa saka pametumu dhewe!" Titik!

Maka, kalau ada tentara, polisi, atau aparat negara yang tidak bisa hidup dari gajinya ya tidak ada pilihan, selain cabut. Jadi pengusaha ikan atau rakyat biasa. Sebab, sejak awal jadi tentara ketentuan gajinya, tunjangannya, uang lauk pauk... sudah begitu. Tidak ada klausul boleh menjadi beking bisnis haram. Mungkin di era Nabi Yohanes dulu gaji tentara sudah cukup untuk hidup.

Revolusi mental yang digemborkan Presiden Jokowi itu sejatinya sama dengan seruan Yohanes Pemandi di kitab suci. Sasaran seruannya juga sama: aparat negara, petugas pajak, tentara! Pesannya pun sama: makanlah dari gajimu. Jangan makan uang haram!

Tapi bisakah aparat hanya mengandalkan gaji resminya? Mbulet maneh. Hil yang mustahil. Sulit dibayangkan orang yang setiap bulan dapat setoran Rp 20 juta, Rp 50 juta, atau Rp 100 juta sebulan bisa hidup dengan gaji resmi yang cuma Rp 5 juta. Buat anak, istri, dan sebagainya. 

Kecuali aparat-aparat itu mau hidup sederhana, bahkan sangat sederhana, seperti Yohanes Pemandi. Makanan secukupnya, minum madu hutan sekadarnya, tidak menikmati hiburan di kafe, makan enak di hotel, dan gaya hidup hedonistis lainnya. Mengikuti gaya hidup sederhana yang diajarkan kitab suci pancen ora gampang.

Semoga makin banyak kapal maling yang ditenggelamkan. Satu hari lima kapal aja sudah bagus. Merdeka!!! 

2 comments:

  1. Ave Bung Hurek, Selamat Hari Raya Natal 2014 dan Tahun Baru 2015.
    Ora Selamet Ora Opo2, Toleransi Sejati Ala Flores.
    Tanggal 22. Desember petang, kembali ke-Eropa dari Beijing, sebab bojoku setiap achir tahun ingin Natalan bersama anak2 dan cucuk. Malamnya para menantu dan anak2 memasang dan menghias pohon Natal.
    Malam Natal adalah Malam Kudus, Heiligabend, seharusnya Malam Yang Damai Tanpa Cekcok Atau Pertikaian. MENGAPA DI TANAH AIR, JUSTRU HARUS DIJAGA OLEH BELASAN RIBU POLISI, TENTARA DAN BANSER ANSOR ???
    Ada apa dengan Ibu Pertiwi ?? Setiap tahun selalu hal aneh ini diulang-ulang seperti lagu Jingle Bell yang diputar di Mal-Mal Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia Xiangshen atas ucapan, perhatian, dan komentar2nya yang selalu padat berisi, sesekali nyelekit. Kangen juga membaca komentar2 Xiangshen yg cukup lama absen di blog ini. Selamat tahun baru semoga tetap sehat, kuat, dan kritis. Ojo lali ngombe jamu-jamuan cungkuo.

      Delete