14 December 2014

Pura Dalem Segara Madura di Kompleks Kelenteng

Saat menyeruput kelapa muda di kaki Jembatan Suramadu, wilayah Bangkalan, Madura, tadi malam, saya teringat Kosala Mahinda. Beliau pemilik sekaligus pengurus Kelenteng Kwan Im Kiong di Pamekasan, Madura, yang terkenal itu. Melihat udeng dan kaos ala Bali, saya juga ingat pura.

Saya pun menelepon Pak Kosala. Bertanya tentang peresmian pura, tempat ibadah umat Hindu, di dalam kompleks kelenteng di pinggir pantai Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, itu. Saya sudah beberapa kali mampir ke kompleks kelenteng yang belakangan ditambah dengan pura itu. Namun, waktu itu belum ada upacara Ngentek Linggih, sehingga belum dianggap sah sebagai pura menurut ajaran agama Hindu.

Kapan upacara Ngenteg Linggih, Pak Kosala? "Wah, sudah lama, tanggal 14 Oktober 2013. Kayaknya Anda ketinggalan informasi nih. Soalnya, sudah lama nggak datang meliput kegiatan kelenteng kami. Hehehe...," ujar Pak Kosala dengan aksen khas Madura Tionghoa nan ramah.

Wow, saya memang ketinggalan informasi. Luput dari peristiwa penting ini. Padahal, dulu saya pernah bikin tulisan berseri di koran tentang keberadaan pura di kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong alias Vihara Avalokitesvara, Pamekasan. Pak Kosala mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pendiri tempat ibadah untuk LIMA agama sekaligus di sebuah kompleks. Selain tiga rumpun agama Tionghoa alias Tridharma (Tao, Konghucu, Buddha) plus masjid dan pura. Sangat fenomenal memang!

Upacara Ngenteg Linggih itu diikuti sekitar 200 umat Hindu di seluruh Pulau Madura dan Bali. Dengan upacara itu, maka status pura di dalam kompleks kelenteng itu sama dengan pura-pura lain di tanah air. Nama resminya pun menjadi Pura Dalem Segara Madura.

"Saya cuma menyediakan tempat untuk saudara-saudari kita yang beragama Hindu di Madura. Sebab, di Pulau Madura cuma ada satu pura ini," kata Kosala, insinyur lulusan Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Cikal bakal pura sebetulnya sudah dimulai sejak 1985. Waktu itu I Made Sastra, Kapolwil Madura, ingin ada satu tempat ibadah umat Hindu di Pulau Madura. Tapi, tahu sendirilah, bikin tempat ibadah nonmuslim, apalagi pura, di pulau santri macam Madura itu, meminjam istilah Asmuni, ibarat hil yang mustahal. Prosesnya panjang, ribet, harus memenuhi 50 butir persyaratan, yang (hampir) mustahal dipenuhi umat Hindu yang cuma segelintir.

Maka, Pak Kapolwil meminta bantuan Pak Mahinda, orang tuanya Pak Kosala. Langsung setuju! Tanpa syarat macam-macam. Lalu, disediakan lahan di dalam kompleks kelenteng. Hanya saja, belum ada upacara resmi yang disebut Ngenteg Linggih itu. "Urusan ritual dan sebagainya, saya serahkan sepenuhnya kepada umat Hindu. Belum lama ini ada perayaan hari jadi pertama Pura Dalem Segara Madura," kata Pak Kosala.

Di ujung pembicaraan, karena pulsa makin tipis, saya ajukan pertanyaan berbau guyonan, tapi rada serius. "Tempat ibadah Hindu sudah, Buddha, Islam, Konghucu, Tao sudah. Lalu, kapan dibangun tempat ibadah Nasrani, gereja kecil alias kapel? Bukankah Pak Kosala alumni Petra? Istrinya Pak Kosala bahkan beragama Katolik? Sebagian besar teman-teman Kosala juga Nasrani? Sebagian pengunjung kelenteng pun warga Tionghoa yang kristiani?" tanya saya.

"Hahaha... Ide bagus itu! Kita lihat sajalah perkembangannya. Kalau nanti dibangun gereja kecil, saya harus dapat Muri lagi! Hahaha...," jawab Pak Kosala sembari tertawa lepas.

Menurut Pak Kosala, di Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep, orang nasraninya cukup banyak. Gereja Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik... mudah ditemui. Sekolah-sekolah Katolik pun ada sejak zaman dulu. Jadi, umat kristiani tidak kesulitan beribadah. Gereja Katolik Pamekasan bahkan menempati lahan yang cukup luas, megah, di kawasan alun-alun.

"Lha, kalau umat Hindu ini benar-benar tidak punya pura di seluruh Pulau Madura. Jadi, umat Hindu yang perlu difasilitasi," kata pria yang juga pengusaha terkenal di Pamekasan itu.

Nah, bukankah masjid dan musala jauh lebih banyak lagi di Madura? Bahkan di tiap RT/RW ada musala atau masjid? Mengapa dibangun juga di kompleks kelenteng?

Jawabannya begini. Kata Pak Kosala, umat Islam itu harus salat lima waktu secara on time. Banyak sekali pengantar rombongan alias sopir, pekerja, atau pengunjung tempat wisata ini (Kelenteng Kwan Im Kiong memang tempat wisata terkenal) yang butuh istirahat. Bahkan, bermalam beberapa hari. Mereka perlu dibuatkan masjid kecil agar bisa beribadah dengan tenang.

"Kalau istri saya atau anak saya mau misa, ya, cukup ke gereja di Pamekasan. Nggak perlu bikin gereja di sinilah," katanya bercanda.

Bethul, bethul, bethul!!! Kamsia Pak Kosala!

No comments:

Post a Comment