05 December 2014

Perginya Misionaris Sejati Romo Bieler CM

Masih adakah misionaris asing, Katolik, di Jawa Timur? Hampir tidak ada lagi. Sejak 1980-an, para pastor asal Eropa, kebanyakan Belanda, ini pensiun, kembali ke negaranya, dan akhirnya berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Banyak pula romo-romo Eropa yang memilih bertahan di tanah air. Saking cintanya pada umatnya di sini, kemudian akhirnya meninggal dunia.

Di Indonesia, para misionaris bule ini tidak pernah kesepian. Sibuk terus. Meski sudah pensiun, mereka tetap diajak untuk melayani sakramen perminyakan, memimpin misa, rekoleksi, retret, dan sebagainya. Sebaliknya, di Eropa, mereka justru kesepian di rumah jompo. Tanpa sanak keluarga. Tanpa umat yang "mengorangkan" mereka karena masyarakatnya memang sudah sangat sekuler. 

Mendiang Romo Heijne SVD, yang puluhan tahun bertugas di Surabaya, pernah berbagi cerita tentang kehidupannya di rumah jompo di Belanda. Betapa sedih jadi imam tua yang sebatang kara di rumah milik kongregasi. Beliau seperti merasa disia-siakan. Seakan menyesal kembali ke Belanda untuk pensiun dan menyiapkan diri menghadap Sang Pencipta. Surat itu ditulis tangan sambil... meneteskan air mata.

Nah, Romo Emile Victor Bieler CM baru saja meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Nirmala, Malang. Misionaris berusia 85 tahun ini terkena serangan jantung... dan usia yang uzur. Selamat jalan, Romo Bieler! 

Romo Emile Victor Bieler CM memilih tidak pensiun, pelayanan terus, enggan balik ke Belanda. Dia bahkan baru saja kembali dari Taiwan, memberikan retret kepada romo-romo muda di sana. 

Setelah ditahbiskan sebagai imam pada 15 Desember 1957, Romo Bieler langsung ditugaskan ke Indonesia, yang waktu itu dianggap tanah misi. Tahun 1958 sudah jadi guru di Seminari Garum, Blitar. Sebagai filsuf, beliau juga sering ditugaskan ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. 

Pernah jadi rektor Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, kemudian kepala SMAK St. Louis I Surabaya. Sempat jadi dosen filsafat di Solomon Island selama sembilan tahun di akhir hidupnya, hingga 2013, Romo Bieler kembali lagi ke Jawa Timur.

Begitu cintanya beliau dengan Indonesia, khususnya Jawa Timur, apalagi kongregasi Vinsensian melayani Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang, Romo Bieler memilih "mengakhiri pertandingan" di Jawa Timur. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Gua Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri. 

Romo Armada Riyanto CM, dosen STFT Widya Sasana, yang juga muridnya, mengatakan Romo Bieler merupakan misionaris intelektual yang pernah mengajar filsafat, teologi, kitab suci, bahasa Inggris, bahasa Yunani, bahasa Latin, dan beberapa mata kuliah lagi. "Beliau selalu jadi idola para muridnya. Beliau sangat sederhana dan selalu gembira," kenang Romo Armada.

No comments:

Post a Comment