03 December 2014

Orang Belanda Susur Sungai Brantas

Sudah puluhan tahun, sejak Belanda diusir, orang Indonesia memunggungi sungai. Rumah-rumah di pinggir kali selalu membelakangi sungai. Bahkan, maaf, orang-orang membuang kotoran di sungai. Sungai Brantas atau Kali Surabaya sempat disebut sebagai jamban terpanjang di Jawa Timur.

Membuang sampah di sungai biasa dilakukan setiap hari. Jangan heran, sungai-sungai di Jawa Timur tampak kotor, kumuh, penuh lumpur. Tak ada lagi perahu-perahu yang melintas di Sungai Brantas wilayah Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya. Yang ada cuma latihan petugas SAR dengan perahu karet. Itu pun tidak setiap hari.

Karena itu, saya terkejut melihat enam turis cum peneliti asal Belanda dan Afrika Selatan sangat antusias berlayar di Sungai Brantas, batas alami Kecamatan Balongbendo (Sidoarjo) dan Kecamatan Wringanom (Gresik). Enam peneliti sungai ini mengambil sampel, syuting, serta wawancara dengan warga di pinggir kali. 

"Kondisi sungai ini saya nilai 8. Bagus untuk wisata lingkungan," kata Rob Koudstaal, peneliti asal Belanda. 

Meneer ini paling antusias menikmati perjalanan susur Kali Brantas yang pernah tercemar berat itu. Asal tahu saja, di sepanjang sungai ini, mulai dari Mlirip di Tarik hingga muaranya di Surabaya banyak sekali pabrik yang berdiri di pinggir sungai. Limbah-limbah cairnya dibuang ke mana lagi, kalau bukan ke sungai yang berhulu di Batu, Malang, itu.

Meneer Rob rupanya sudah melihat foto-foto atau film tentang suasana kolonial Belanda di wilayah Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya. Tempo doeloe Sungai Brantas ini menjadi jalur utama transportasi. Banyak perahu hilir mudik. Angkutan tebu pun selalu melewati sungai itu. 

Maka, dia mengusulkan agar pemerintah menghidupkan kembali angkutan sungai. Jadi, warga Tarik atau Balongbendo yang ingin ke Surabaya cukup naik perahu. Lebih santai, hemat, dan aman. Ketimbang naik motor atau mobil yang dijebak kemacetan di banyak titik serta sangat tidak aman. 

Malam Minggu lalu, seorang ibu dan bayinya tewas di Jalan Singkalan, Balongbendo, karena motor yang dikemudikan suaminya tergelincir. Lalu, disantap truk gandeng. Sang suami dan dua anak lainnya selamat. Naik sepeda motor, apalagi berboncengan lima orang seperti keluarga asal Geluran, Taman, ini jelas sangat berbahaya.

"Sungai Brantas ini jauh lebih bagus daripada Sungai Ciliwung yang banyak sampahnya," kata Rob yang didukung teman-temannya sesama aktivis NGO asal Belanda dan Afrika Selatan.

Menghidupkan kembali angkutan sungai tentu tidak sulit. Di Sidoarjo, khususnya Banjarkemuning, Balongdowo, dan Blurukidul, banyak perahu yang nganggur. Tapi siapa konsumennya? Adakah warga yang mau naik perahu (kapal kecil), sementara kredit motor sangat terjangkau? Bukankah lebih punya kendaraan pribadi yang bisa dipakai ke mana-mana setiap saat?

Meneer Rob lupa bahwa Indonesia sudah 50-an tahun masuk jebakan kendaraan pribadi. Semua orang seakan dirangsang untuk memiliki kendaraan bermotor sendiri, entah mobil entah motor. Pemerintah sejak Orde Baru juga sengaja mendorong kepemilikan kendaraan pribadi tanpa batas. Bahkan, bensin dan solarnya pun disubsidi. Kendaraan pribadi pun bisa parkir di mana saja. Termasuk menggunakan separo badan jalan.

Jebakan kendaraan pribadi sudah begitu parahnya, ibarat kanker stadium lanjut. Karena itu, usulan orang Belanda agar angkutan umum di Sungai Brantas untuk menghubungkan Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya rasanya seperti mimpi di siang bolong.  Sekaligus mimpi yang menyadarkan kita bahwa selama ini kita sudah menyia-nyiakan anugerah Tuhan berupa sungai yang lebar dengan air yang tak pernah kering itu. 

Dank u wel, Meneer Rob! 

No comments:

Post a Comment