02 December 2014

Mengapa Wanita Tidak Boleh Merokok?

Sejumlah petugas marketing perusahaan seluler siang tadi bikin rapat di sebuah sentra PKL di Surabaya. Sebagian besar wanita, muda, lumayan cakep. Yang menarik, banyak dari wanita-wanita itu yang merokok. Wuih, keren banget gayanya menyedot rokok! Mirip bintang-bintang film lawas, ketika merokok di depan umum belum diutik-utik seperti sekarang.

"Aneh, cewek-cewek kok rokokan!" gerutu seorang laki-laki 30-an tahun dalam bahasa Jawa Suroboyoan.

"Memangnya kenapa kalau wanita merokok?" tanya saya.

"Rasanya kok gak enak. Gak umum kalau wanita merokok. Gimana gitu lho..," kata orang itu seraya tertawa ditahan.

"Dari dulu wanita-wanita sudah biasa merokok. Cuma tidak sebanyak laki-laki. Dulu wanita gak main sepak bola. Sekarang sudah banyak wanita yang menekuni sepak bola. Petinju wanita juga banyak," kata saya.

Wanita-wanita seluler itu tampak asyik mengikuti rapat sambil sesekali menyedot rokok. Karyawan yang laki-laki malah tidak kelihatan merokok. "Aku kalau lihat wanita rokokan kok langsung ingat wilayah yang sudah ditutup Bu Risma itu," kata pria yang tinggal di kawasan Nginden itu.

Materi obrolan khas warung kopi macam ini memang sudah sering saya dengar. Di Surabaya pula! Di kota besar nomor dua di Indonesa itu (atau nomor 6?), masih banyak laki-laki yang tidak rela melihat kaum perempuan merokok. Image wanita yang merokok kurang begitu baik setidaknya di kalangan sebagian laki-laki yang berpikiran konservatif.

Dulunya saya pikir hanya orang-orang kampung, wong ndeso, orang pelosok NTT saja yang merasa aneh melihat wanita merokok dengan leluasa. Di NTT, khususnya Flores Timur, yang penduduknya masih terbelakang dan cenderung konservatif, wanita memang tidak merokok. Merokok itu dianggap hiburan untuk laki-laki untuk pengisi waktu senggang atau sosialisasi.

Ketika ada laki-laki yang melintas di depan rumah, kita wajib menyapa dan menawari dia mampir sebentar untuk merokok. "Ama, mo pai golo bako ki," begitu ungkapan khas bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Artinya: "Bapak (atau Abang), mampir dulu untuk melinting rokok!"

Dulu, setiap rumah orang NTT ada daun lontar (siwalan) yang disiapkan untuk lintingan rokok. Kemudian ada tembakau yang disiapkan di atas meja. Tembakau itu dimasukkan ke daun lontar kemudian dilinting. Kemudian si tamu merokok plus disiapkan kopi. Lalu ngobrol lama sampai rokok dan kopinya selesai dinikmati.

Sebaliknya, jika yang melintas di depan rumah itu wanita (INA), maka dia pun perlu diajak mampir ke rumah. "Ina, mo pai gon wua malu ki," begitu ajakan untuk mama-mama atau kaum wanita. "Ibu (atau Kakak), mampir dulu untuk makan sirih dan pinang!"

Budaya makan sirih memang sangat kental di NTT, khususnya wanita. Budaya lama ini tergusur pelan-pelan dengan meluasnya pendidikan kaum wanita. Perubahan lantai rumah dari tanah ke semen (atau tegel) juga membuat budaya makan sirih pinang ini makin berkurang. Tapi tidak di desa-desa pelosok macam kampung halaman saya di Lembata.

Dengan latar belakang budaya seperti ini, orang NTT yang baru pertama kali ke kota-kota di Jawa (atau Malaysia) biasanya terkejut melihat wanita merokok. Sebab memang tidak ada presedennya di kampung. Kalaupun wanita tak tahan nikmatnya tembakau, cara konsumsinya bukan dihisap asapnya, tapi disusur. Mama-mama yang nyusur ini tidak banyak.

Tapi, begitulah, lain padang lain belalang. Lain daerah lain adat dan kebiasaannya. Di kota-kota nyaris tak ada perbedaan habit laki-laki dengan perempuan. Laki-laki dan wanita sama-sama merokok. Sama-sama minum bir. Sama-sama mendhem alias mabuk. "Minum bir itu untuk cari inspirasi," kata Mbak Lilik, warga Bungurasih, yang doyan bir dan merokok.

Belakangan banyak sorotan tertuju kepada Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti yang sangat doyan merokok. Merokoknya Bu Susi ini sudah kelas berat. Pita suaranya pun jadi berubah. Sejumlah artikel di surat kabar mengkritik tajam kebiasaan Menteri Susi yang suka merokok ini.

Bukankah pemerintah dari dulu menulis peringatan di bungkus rokok bahwa merokok itu bisa merugikan kesehatan, bisa menimbukan macam-macam penyakit? Kok bu menteri, pemerintah sendiri, malah merokok terang-terangan di depan publik? Yang paling keras mengecam smoking habit Menteri Susi ini justru wanita-wanita juga.

Yang jelas, belum lama ini WHO mengungkapkan bahwa setiap tahun 6 juta orang meninggal dunia akibat rokok. Dr Douglas Bettcher mengatakan, rata-rata setiap 6 detik terdapat 1 orang yang meninggal akibat tembakau atau rokok. Laki-laki atau perempuan tak ada bedanya. Sama-sama terancam jika tidak segera menghentikan kebiasaan merokok itu.

Maka, budaya GOLO BAKO (linting rokok) yang tempo doeloe sangat dibangga-banggakan sebagai sopan santun ala etnis Lamaholot di NTT sudah tak layak dipertahankan di era modern ini. Bukan karena persoalan gender, wanita atau pria, tapi karena alasan kesehatan.

1 comment:

  1. maaf, biasanya cewek yg rokokan itu arek2 nakal. soalnya psk2 mulai kelas bawah, kelas purel sampe high class suka merokok sebagai pertanda. kemudian digeneralisasi seakan2 wanita perokok itu gak bagus.

    ReplyDelete