09 December 2014

Mengapa Napi China Cenderung Masuk Kristen?

Akhir pekan lalu, saya diajak mengikuti kebaktian Natal bersama (sebetulnya sih persiapan menyambut Natal) di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Medaeng, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Salah satu rutan alias penjara terbesar di Indonesia Timur yang menampung para tahanan yang menunggu proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya. Setelah divonis, biasanya para warga binaan ini (sebutan resmi tahanan atau narapidana) dipindahkan ke Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo.

Seperti biasa, suasana sangat meriah. Gereja Efesus di dalam kompleks rutan itu tak mampu lagi menampung warga binaan yang nasrani (Katolik, Protestan, Pentakosta, Baptis, dll) sehingga dibuatlah tenda di lapangan. Pertambahan jemaat kristiani ini justru sangat menyedihkan. Ini menunjukkan makin banyak orang Kristen yang terjerat berbagai kasus kejahatan. Lebih prihatin lagi banyak di antara mereka terlibat kasus narkoba. Bahkan, bandar-bandar narkoba kelas kakap itu banyak yang kristiani. 

Kali ini, yang menarik perhatian saya adalah Zheng Qiuyun alias Lisa asal Tiongkok. Gadis ini juga terjerat narkoba jenis sabu-sabu. Dia mendapat kiriman paket dari orang tak dikenal. Saat menerima kiriman sabu itu, dia dicokok. Lisa ini sering diberitakan karena ulahnya di kepolisian dan kejaksaan. Sebab, dia merasa tidak pernah terlibat narkoba.

"Saya datang ke Surabaya untuk bisnis LED," kata nona asal Provinsi Fujian ini.

Nah, saat Natalan di Rutan Medaeng ini Lisa tampak sumringah. Rupanya dia sudah bisa mengontrol emosi dan siap membuktikan di PN Surabaya bahwa dirinya tidak bersalah. "Lisa ini anak Tuhan yang penuh sukacita. Kasih Tuhan begitu besar untuk dia," kata Tante Lanny, pendamping rohani dari Pelita Kasih, sekaligus penerjemah bahasa Mandarin selama Lisa menghadapi proses hukum di Surabaya.

"Oh, Lisa beragama Kristen?" tanya saya basa-basi dan pura-pura. 

Ya, jelas saja, kalau bukan Kristen tentu tidak ikut ramai-ramai natalan bersama warga binaan lain yang memang semuanya nasrani.

"Lisa ini Kristennya sudah dari Tiongkok sana," kata Tante Lanny. 

"Tapi, setelah di sini (dalam penjara), saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Saya makin sering berdoa, baca Alkitab, ikut kebaktian, dan sebagainya. Banyak kegiatan rohani di Medaeng sini," Lisa menambahkan dengan bahasa Cungkuo yang diterjemahkan tante sahabat warga binaan itu.

Lisa alias Zheng Qiuyun, 37 tahun, ini termasuk pengecualian. Dia sudah Kristen sejak dari kampung halamannya di Fuzhou sana. Selama ini tahanan asal Tiongkok, hampir semuanya penyelundup narkoba, tidak punya agama. Sebagai negara komunis, masyarakat Tiongkok memang tidak diwajibkan beragama. Karena itu, persentase orang yang tak beragama (tak sama dengan ateis!) jauh lebih banyak ketimbang yang beragama.

Ajaibnya, semua tahanan asal Tiongkok yang pernah saya temui di Rutan Medaeng ini semuanya beragama Kristen. Yang beragama Buddha atau Khonghucu, agama yang lebih dekat dengan sosiokultural Tionghoa, malah tidak ada. Apalagi yang beragama Islam. Kok bisa begitu? 

"Itulah kuasa Tuhan. Roh Kudus selalu bekerja dalam penjara," kata Tante Lanny dengan retorika evangelis kawakan.

"Hehehe.... Kata-katanya Tante Lanny persis kayak pendeta senior," ujar saya menggoda.

"Oh, saya bukan pendeta. Tapi Tuhan bisa pakai siapa saja untuk memenangkan jiwa-jiwa. Puji Tuhan," kata tante yang sering jadi tempat curhat narapidana kelas kakap yang nasrani itu.

Bagi orang beriman, apalagi evangelis macam Tante Lanny, pilihan agama napi-napi Tiongkok ini karena kuasa Tuhan, roh kudus bekerja, atau dijamah sentuhan kasih Yesus. Tapi bisa juga karena alasan yang sangat pragmatis. Di penjara-penjara di Jawa Timur banyak sekali yayasan, ministry, atau gereja-gereja yang rutin mengunjungi warga binaan. Selalu ada orang yang fasih Mandarin macam Tante Lanny ini.

Maka, rombongan dari gereja-gereja atau yayasan bisa dengan mudah berkomunikasi dengan tahanan asal Cungkuo. Tak hanya komunikasi, hubungan dengan para tahanan ini biasanya menjadi sangat akrab layaknya keluarga sendiri. Beberapa waktu lalu ada tahanan asal Tiongkok, wanita, yang melahirkan di Rutan Medaeng. Bayinya pun dititipkan kepada Tante Lanny untuk diurus.

Kasih Tuhan pun tersalur melalui orang-orang seperti Tante Lanny yang jumlahnya cukup banyak. Mereka kemudian mengikuti kegiatan warga binaan kristiani di gereja dan sebagainya. Lalu, biasanya dibawakan Alkitab berbahasa Mandarin untuk dipelajari. Plus makanan dan jajanan yang banyak.

"Warga binaan yang nasrani ini memang paling diperhatikan sesama nasrani dari luar. Beda dengan warga binaan yang bukan nasrani," ujar Ahmad, warga binaan yang bukan nasrani.

Apakah setelah lepas dari penjara, para eks napi Tiongkok ini masih tetap Kristen? 

"Wah, kalau itu sih urusan yang bersangkutan. Tugas kita hanya mendampingi selama di dalam (rutan). Kalau sudah di luar ya urusan sendiri-sendiri," kata Lanny seraya tersenyum. "Mau jadi komunis lagi di negaranya ya silakan," tambahnya.

Orang Tionghoa, khususnya asal Tiongkok, Taiwan, atau Hongkong, memang punya keluwesan yang luar biasa dalam soal agama. Berdasar pengalaman, napi-napi yang masuk Kristen di dalam penjara ini setelah jadi orang bebas pindah agama lagi. Mengikuti agama sang pacar. "Saya sekarang Islam, ikut agamanya Mr Chen. Dulu saya ikut Kristen, sekarang nggak perlu lagi," kata Nona Yeyen yang pernah dipelihara seorang pengusaha lokal.

Namanya juga wanita peliharaan, asmaranya tidak bisa bertahan lama. Lalu si nona Shanghai itu digandeng lagi bos lain yang beragama Katolik. "Kamu sekarang ikut Katolik?" tanya saya.

"Ya, saya ikut agama pacar saya yang baru," katanya enteng.

Begitulah. Di Indonesia, nona manis ini baru mengenal dan menganut agama dari sebelumnya tidak punya agama. Bukan satu agama, tapi beberapa agama sesuai kepentingan bisnis, ekonomi, dan asmara. Setelah tak lagi punya kepentingan, agama-agama itu pun lenyap. 

Petugas administrasi kependudukan akan kesulitan menulis agamanya di KTP karena agamanya bisa berubah-ubah setiap saat. Hari ini Kristen, enam bulan lagi bisa beragama X, kemudian ganti Y, kemudian Z, dan seterusnya. Sementara orang Indonesia asli cenderung menganggap bahwa agama itu warisan dari orang tua yang dipeluk dan diyakini seumur hidup. 

"Si Yeyen itu wanita nakal. Sekarang sudah nggak punya agama," kata mantan 'suami' yang pernah mengislamkan si nona Cungkuo. "Biar saja dia masuk neraka!"

Syukurlah, sampeyan akhirnya taubat dan sadar! Hehehe....

1 comment:

  1. Bung Hurek, saya sebagai keturunan cina merasa geram, jika membaca di-surat2 kabar, tentang orang2 Cungkuo yang neko-neko ( jual narkoba, prostitusi, penyelundup, penipuan, imigran gelap ) dinegeri orang lain. Kalau mau jadi bajingan, silahkan di Tiongkok saja. Ojo ngisin-ngisini wong cino.
    Para missionaris ala Amerika memang sangat lihay mencari pengikut2 dari kalangan manusia yang sedang kebingungan dan lemah bathinnya.
    Methoda ini juga sedang ditiru oleh para ustadz kaum Salafiya dibenua Eropa,
    dengan membagi-bagikan Al Quran gratis di-tempat2 yang ramai. Banyak anak2
    muda yang terpengaruh dan direkrut untuk dikirim ke Syria jadi anggota ISIS.

    ReplyDelete