13 December 2014

Kangen Catatan Dahlan Iskan

Setelah lengser dari kursi menteri BUMN, Dahlan Iskan jarang menulis. Catatan-catatannya yang enak, gurih, dan inspiratif sudah lama vakum di Jawa Pos dan berbagai media online, yang juga mengutip Jawa Pos. Tulisan terakhir Pak Bos, sapaan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Group, tentang drama menjelang penentuan nama-nama menteri kabinet kerja pada 27 Oktober 2014 lalu.

Setelah itu, jutaan penggemar tulisan Dahlan Iskan terus menunggu dengan sabar. Kapankah catatan ringan ala sang dewa feature itu muncul lagi di surat kabar? Sejumlah blog klipingan tulisan Dahlan Iskan, yang dibuat penggemar Pak Bos, pun lengang. Ibarat rumah yang ditinggal penghuni. Entah kapan sang penghuni itu pulang.

Ada memang catatan-catatan yang dibuat "murid Dahlan Iskan" di internet. Gaya, pilihan kata, model kalimat pendek, bumbu guyon... sengaja dibuat sama. Tapi tetap saja kualitasnya KW2. Catatan Dahlan Iskan yang orisinal tak tergantikan.

"Saya kangen lho sama tulisan Pak Dahlan Iskan. Kayaknya sudah lama banget beliau gak nulis di Jawa Pos. Mestinya kan beliau punya waktu lebih banyak untuk menulis setelah tidak jadi menteri," ujar beberapa seniman yang rajin membaca catatan Dahlan Iskan, jauh sebelum putra Magetan ini jadi direktur PLN, kemudian menteri BUMN.

"Sabar saja. Pak Dahlan itu jurnalis sejati, penulis kawakan. Beliau selalu bisa menulis bagus kapan saja, di mana saja," saya menjawab. Bahkan, baru sehabis menjalani operasi transplantasi liver di Tianjin, Tiongkok, pun Pak Dahlan menulis catatan tentang ganti hati yang fenomenal itu.

Dus, sulit dibayangkan kalau Pak Dahlan Iskan tidak lagi menulis feature-feature inspiratif untuk pembaca Jawa Pos di tanah air. Mungkin saja timing-nya belum memungkinkan untuk beliau menulis kolom rutin Manufacturing Hope yang terbit setiap Senin pagi di Jawa Pos.

Ternyata bukan hanya penggemar dari Jawa Timur yang kangen catatan Dahlan Iskan. Ali Kusno dari Kalimantan bahkan secara terbuka menulis artikel di Jawa Pos, 12 Desember 2014, yang nadanya sama. Meminta Pak Dahlan segera menulis catatan-catatan lagi. 

"Penulis dan masyarakat akan selalu merindu Dahlan Iskan, hadir dalam untaian tulisan. Merindu feature Dahlan Iskan yang free dari menteri. Semoga Dahlan Iskan terus melahirkan feature-feature baru, seperti moto lamanya: Kerja, Kerja, Kerja," tulis Ali Kusno, yang juga seorang penulis dan penggemar bahasa.

Ali Kusno bahkan menguraikan 9 ciri khas tulisan Dahlan Iskan yang membuatnya sebagai penulis feature terbaik di Indonesia. Sembilan poin ini perlu diperhatikan penulis, khususnya wartawan, agar feature-nya selalu dirundukan ala catatan Dahlan Iskan.

1. Judul yang menarik. 

2. Optimalisasi teras (lead) yang sempurna. Lead yang menarik menjadi daya pikat awal seseorang membaca tulisan. Berhenti membaca atau meneruskan. Dahlan mampu memikat pembaca dengan teras yang sempurna.

3. Humor. Feature Dahlan segar dengan selingan humor. Contoh: "Angin bertiup sejuk. Bulan yang mendekati purnama tampak menor di langit bersih. Seperti baru keluar dari salon."

4. Penggunaan kalimat pendek. Dahlan menghindari kalimat panjang melelahkan. "Garbarata? Yes! Inilah untuk kali pertama penumpang kapal dilewatkan garbarata. Seperti naik pesawat saja. Tidak lagi lewat tangga di dinding kapal yang bergoyang-goyang itu. Yes! Pelindo III memulainya! Sejarah!"

5. Deskripsi yang gamblang. Pembaca ikut merasakan petualangan Dahlan dalam feature-nya. "Seusai rapat, senja sudah lewat. Saya langsung menuju pantai terindah di kawasan Mandalika, di belakang Novotel: Pantai Kuta. Saya duduk di atas pasir putih menghadap laut selatan."

6. Gaya narasi seperti orang berkisah. Bertutur secara naratif dapat diibaratkan seperti orang berkisah. "Setelah meninjau Bandara Baru Sepinggan, Balikpapan, saya berkesimpulan: sudah siap diresmikan kapan saja Presiden SBY menghendaki. Terminal bandara itu sangat membanggakan. Besarnya dua kali lipat dari bandara baru Surabaya."

7. Feature-feature Dahlan kaya akan sentuhan gaya bahasa. Gaya bahasa bagi Dahlan ibarat dandanan bagi tulisan. Tulisan menjadi cantik nan menarik. "Anggaran untuk pesantren, PAUD, dan sekolah swasta. APBN bidang pendidikan itu besarnya seperti gajah bengkak."

8. Tidak terikat kaidah kebahasaan. Dahlan tidak ingin dibatasi aturan-aturan dalam menuangkan gagasan. Dahlan memiliki karakter feature yang mendobrak aturan kebahasaan. 

9. Menutup dengan klimaks atau antiklimaks. Penutup feature yang bagus mampu memberikan kesan yang mendalam. 

"Ricky terdiam sejenak. Kepalanya menunduk. Wajahnya menatap ke bumi. Sesaat kemudian baru dia berucap. 'Saya akan tetap di Indonesia. Seadanya,' jawab Ricky. 'Saya akan meneruskan semua ini semampu saya.'" 

No comments:

Post a Comment