23 December 2014

Jumaadi main wayang suket di Amerika




Jumaadi, seniman asal Sekardangan, Sidoarjo, baru saja menggelar pameran seni rupa di Amerika Serikat. Di Halsey Institute of Contemporary Art, South Carolina, pria yang lama bermukim di Sydney, Australia, itu juga menggelar pertunjukan wayang suket di depan publik Amerika. 

"Saya memperkenalkan shadow art, seni bayang-bayang yang memang sudah ada di berbagai kawasan, termasuk wayang kulit di Jawa," kata Jumaadi kepada saya di Rumah Budaya Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo. Rumah budaya, sanggar seni, dan panggung pertunjukan tradisional setiap malam purnama ini vakum bertahun-tahun setelah ditinggal Jumaadi ke Australia.

Mula-mula pria 40 tahun ini bermain-main dengan wayang suket buatannya sendiri. Aneka figur pewayangan yang dibuat dari rumput liar ini kemudian dimainkan Jumaadi ala dalang profesional. Dia juga berusaha bercerita seringkas mungkin dalam bahasa Inggris yang fasih. "Tapi, karena saya bukan dalang, ya, pertunjukan saya cuma main-main saja. Eh, orang Amerika itu ternyata sangat antusias menyaksikan permainan saya," kenangnya lantas tertawa kecil.

Bukan itu saja. Dibantu temannya yang bule, Jumaadi kemudian berman bayang-bayang menggunakan semacam overhead projector. Penonton menyaksikan aneka figur yang dibuat sendiri oleh Jumaadi. Ada figur tokoh-tokoh pewayangan, tapi ada juga bayangan pohon, manusia yang memikul beban berat, hingga kehidupan warga kampung di Sidoarjo.

"Saya memang sengaja mengangkat shadow art karena wayang kulit di Jawa itu dulunya benar-benar seni bayangan. Orang dulu menonton wayang kulit dari balik layar. Beda dengan wayang kulit sekarang yang ditonton justru membelakangi ki dalang. Seni bayangan malah jadi hilang," kata seniman yang aktif dalam gerakan advokasi lingkungan hidup itu.

Meski mengangkat wayang suket dan wayang kontemporer di luar negeri, Jumaadi mengaku bukan dalang profesional semacam Ki Anom Suroto atau Ki Mantheb Soedarsono yang punya jam terbang tinggi di dunia pewayangan. Dia mengaku hanya ingin memperkenalkan ke publik mancanegara bahwa Indonesia punya teater tradisional wayang kulit yang dianggap sebagai kesenian adiluhung. 

"Enaknya main di Amerika itu orang-orang di sana enggan mengerti jalannya cerita. Beda dengan mendalang di Jawa, semua orang sudah tahu ceritanya," kata penerima sejumlah penghargaan seni di Australia itu.

Pameran dan pertunjukan Jumaadi ini ternyata mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat seni di Amerika. Kolumnis Elizabeth Pandolfi menyebut karya Jumaadi mengingatkan dia pada seni yang hidup di era Yunani kuno. Gambar-gambar Jumaadi memang mirip figur di gua-gua tempo doeloe ketika manusia masih hidup dalam kondisi yang sangat sederhana. 

Ketika anak-anak di Sidoarjo saat ini sudah tak lagi main wayang suket, mencari ikan di kali, tapi sibuk dengan aneka games modern, Jumadi justru membawa kita kembali ke masa lalu. "Saya masih punya kenangan bersama teman-teman masa kecil dulu saat bermain-main di sawah di Sekardangan ini," katanya.

No comments:

Post a Comment