10 December 2014

Jokowi, Namo Buddhaya, dan Om Swastiastu

Saat kampanya pemilihan presiden lalu, Juni 2014, capres Prabowo Subianto tak hanya mengucapkan assalamualaikum... dan salam sejahtera. Prabowo sengaja merangkul semua golongan dengan menambahkan beberapa salam khas agama minoritas: Syalom (populer di lingkungan nasrani, khususnya aliran Karismatik dan Pentakosta), Om Swastiastu (Hindu, khususnya di Bali), dan Namo Buddhaya (Buddha).

Capres Joko Widodo saat kampanye hanya menyampaikan salam yang standar saja: Assalamualaikum..., salam sejahtera, dan selamat malam. Namun, ketika menyampaikan pidato pertama di sidang MPR, dalam kapasitas sebagai presiden Republik Indonesia yang baru dilantik, Presiden Jokowi mengucapkan beberapa jenis salam sekaligus. Hanya salam khasnya umat Khonghucu yang tidak diucapkan. Mungkin belum tahu.

Kelihatannya sepele urusan salam ini. Namun, setelah saya blusukan ke beberapa umat dan tokoh Buddha di Sidoarjo dan Surabaya, sambutannya luar biasa menggembirakan. Inilah pertama kali seorang presiden Indonesia menyampaikan Namo Buddhaya dalam pidato resminya.

"Syukurlah, akhirnya salamnya umat Buddha, Namo Buddhaya, disampaikan oleh seorang presiden Indonesia yang beragama Islam. Bangga luar biasa," kata Tante Tok, warga Tionghoa Sidoarjo, yang juga aktivis umat Buddha di kota petis itu.

Pak Nugroho, pimpinan umat Buddha di Kabupaten Sidoarjo, juga sangat mengapresasi salam tulus yang disampaikan Presiden Jokowi. Betapa bangganya umat Buddha, kaum minoritas, disapa dengan Namo Buddhaya. Meskipun hanya salam, basa-basi atau sopan santun pergaulan, bagi teman-teman buddhis, kepala negara secara terbuka merangkul dan menyapa mereka sebagai bagian dari republik ini.

"Orang yang tadinya belum tahu Namo Buddhaya akhirnya cari tahu salamnya agama sih? Dari situ eksistensi umat Buddha semakin diakui oleh negara," kata teman saya yang beragama Buddha. Presiden Jokowi dinilai seorang pluralis, menjunjung semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda dengan Islam yang mayoritas dan Kristen/Katolik yang tak bisa lepas dari kedatangan bangsa Eropa ke nusantara, perjuangan para pemimpin Buddha untuk diterima sebagai agama resmi di Indonesia tidak mudah. Aneh juga karena Buddha pernah jadi agama resmi Kerajaan Sriwijaya. Zaman Kerajaan Majapahit pun Buddha tumbuh subur meskipun kerajaannya Hindu.

"Tahun 1960-an almarhum Bhikkhu Ashin Jinarakkhita bersama sejumlah pemimpin Buddha di Indonesia berjuang keras agar agama Buddha diakui sebagai agama resmi. Bhikkhu Ashin menjelaskan dengan gamblang konsep ketuhanan, teologi, doktrin, kitab suci, dan sebagainya," kata Romo Suyono, rohaniwan Buddha di Surabaya yang juga murid almarhum Bhikkhu Ashin. 

Pemerintah akhirnya menerima Buddha sebagai salah satu dari  6 agama resmi di Indonesia pada 1960-an. Sejak itulah Bhikkhu Ashin mempopulerkan salam Namo Buddhaya di lingkungan umat Buddha di Indonesia. Hanya saja, karena umat Buddha itu minoritas, sebagian besar orang Indonesia tidak pernah mendengar salam itu. Apalagi, di lingkungan Buddha sendiri pun terdapat banyak aliran. Dan tidak semuanya pakai salam Namo Buddhaya.

Kalau Om Swastiastu saya kira sudah sangat populer. Berbeda dengan umat Buddha yang diaspora, umat Hindu di Indonesia punya satu pulau yang sangat terkenal: Bali. Bahkan, kata orang, Bali justru lebih populer di luar negeri daripada Indonesia. "Bali itu apa dekat Indonesia?" begitu guyonan yang sering kita dengar.

Orang Bali juga tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan, di situlah salam khas Om Swastiastu bergema di mana-mana. Tapi di lingkungan sendiri saja. Hanya pejabat-pejabat di Bali yang mengucapkan salam ini. 

Baru tahun ini, saat kampanye, capres Prabowo selalu mengucapkan Om Swastiastu tanpa Namo Buddhaya. (Belakangan dalam kampanye terakhir ditambah Namo Buddhaya). Presiden Jokowi saat pidato pertamanya mengucapkan salam Om Swastiastu ini dengan lantang. 

Sekitar 1,5 bulan kemudian, saya baru tahu bahwa salam Om Swastiastu yang disampaikan Presiden Jokowi di sidang MPR itu mendapat apresiasi yang luas dari umat Hindu, khususnya di Bali. Ada iklan setengah halaman di majalah TEMPO edisi 7 Desember 2014 dari Gusti Wedakarna, anggota DPD dari Provinsi Bali, yang juga tokoh masyarakat pulau dewata.

Berikut kutipan pernyataan Gusti Wedakarna di iklan tersebut: 

"Atas nama umat Siwa Buddha (Hindu) Indonesia, saya ucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi karena sudah mengucapkan salam Om Swastiastu di pelantikan presiden lalu. Dan banyak kutipan beliau yang diambil dari bahasa Sansekerta Hindu seperti Jalesveva Jaya Mahe, Cakrawarti Samudra, Trisakti.... Itu semua menunjukkan beliau pro terhadap minoritas di Indonesia." 

No comments:

Post a Comment