08 December 2014

Jazz Traffic Minus Roh Bubi Chen

Sudah dua tahun lebih saya tidak menulis catatan tentang jazz. Tulisan terakhir tentang kremasi jenazah mendiang Bubi Chen, maestro jazz asal Surabaya, di Eka Praya, Kembang Kuning. Tepatnya pertengahan Februari 2014.

Sebelumnya, masih dalam rangka menghormati jasa besar Om Bubi di jagat jazz Indonesia, saya ikut melekan menunggui jenazah Om Bubi di Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya. Juga ikut misa requiem mengelilingi jenazah sang maestro yang dikoordinir artis senior Ervinna, yang juga ketua komunitas Bunda Kudus Keuskupan Surabaya.

Lama banget tak menulis jazz. Dan, memang sejak kepergian Bubi Chen pada 16 Februari 2012, Kota Surabaya memang kehilangan greget jazz. Jazz yang benar-benar jazz, bukan sekadar jes-jesan. Banyak sekali memang musisi muda yang bermain jazz di Surabaya, juga di kota-kota lain di Indonesia. Tapi, maaf saja, belum ada yang punya aura jazz macam Om Bubi. 

Bubi Chen seniman jazz yang luar biasa. Beliau seperti dikirim Tuhan ke dunia ini untuk main musik apa saja, tapi selalu mnghasilkan rasa jazz. Lagu daerah, dangdut, Rek Ayo Rek, Kopi Dangdut... di tangan Om Bubi keluar jazz. Saya begitu terpukau setiap kali menyaksikan sang maestro ini bermain piano dan keyboards.

Dua minggu lalu, teman-teman Suara Surabaya kembali bikin Jazz Traffic Festival. Satu-satunya festival jazz yang rutin dan berskala besar di Jawa Timur. Jazz Traffic tak lain nama program jazz di Suara Surabaya FM yang diasuh Bubi Chen setiap malam kecuali Jumat, Sabtu, Minggu. Saya penggemar setiap Jazz Traffic di radio itu ketika Om Bubi masih aktif jadi pengasuh. 

Pengetahuan dan wawasan saya tentang jazz, ya, dari menguping Bubi Chen di Jazz Traffic. Kemudian wawancara panjang berkali-kali dengan beliau, ngobrol, lalu bikin tulisan pendek di koran. Begitu kentalnya referensi jazz dari Om Bubi, saya kadang sulit menerima ramuan jazz lain, yang bukan standar Bubi Chen. 

"Masak sih musik kayak gitu disebut jazz? Swing-nya mana? Blue note-nya gak berasa...," begitu penilaian saya setiap kali mendengar musik jazz yang tak sesuai dengan kriteria standar jazz lawas itu.

Maka, melihat nama-nama musisi dan penyanyi yang tampil di Jazz Traffic Festival 2014, dua minggu lalu, saya langsung tidak tertarik menonton. Gratis sekalipun! Membaca preview yang ditulis di koran saja sudah jelas bahwa artis-artis itu bukanlah jazzer yang saya pahami. Hampir semuanya musisi pop. Kok tiba-tiba jadi pengisi festival jazz? Jejak rekamnya di jazz tidak jelas.

Hanya musisi senior yang menolong Jazz Traffic Festival, yakni Krakatau, yang mewakili orang jazz. Lumayanlah ada nama macam Indra Lesmana, Dwiki, Dewa Budjana. Tapi nama-nama macam Yovie n Nuno atau Afgan, bisakah dikategorikan musisi jazz? 

Rupanya teman-teman SS sengaja merangkul musisi pop yang lagi naik daun agar penontonnya ramai. Bukan festival jazz asli seperti nomor-nomor yang selalu diputar Mas Isa setiap malam di Jazz Traffic Suara Surabaya. 

Begitulah... Dunia sudah banyak berubah, termasuk konsep jazz yang makin ngepop, dan makin kehilangan rasa jazz-nya. Maka, jangan kaget suatu ketika penyanyi macam Inul, Ayu Ting Ting, atau Rhoma Irama bisa jadi bintang festival jazz di Indonesia. Jes ora jes pokoke ora stres!

No comments:

Post a Comment