01 December 2014

Hilangnya Desa Kedungbendo di Sidoarjo

Sudah 8 tahun 7 bulan lumpur Lapindo menyembur di Porong, Sidoarjo. Saking lamanya, tragedi yang bermula dari sumur Banjarpanji 1 milik Lapindo Brantas ini sudah dianggap biasa. Malah dijadikan objek wisata. Saat ini media massa hanya membahas ganti rugi untuk korban lumpur yang asli (jilid 1) yang belum dituntaskan Lapindo Brantas.

Aneh, korban lumpur jilid 2, 3, 4... sudah tuntas dibayar, pakai dana APBN, sementara ribuan warga Porong yang pertama kali terkena lumpur belum diselesaikan. Di akhir pemerintah Presiden SBY, dua minggu sebelum lengser, ada komitmen pemerintah pusat untuk menalangi dulu ganti rugi yang tinggal sekitar Rp 800 miliar itu. Tapi, anehnya lagi, komitmen itu belum masuk APBN sehingga tidak jelas kapan dana talangan itu diterima warga.

Karena ketidakjelasan itulah, sudah dua bulan lebih korban lumpur PAT (di dalam peta area terdampak) memblokade jalan masuk ke tanggul. Petugas BPLS jelas tidak bisa bekerja. Minggu lalu petugas BPLS sempat nekat bekerja memperkuat tanggul, bikin tanggul baru, saat warga lengah. Tapi Senin, 24 November 2014, warga PAT kembali ramai-ramai memblokade jalan. Semua petugas PAT diusir.

"Pokoknya, sebelum ganti rugi dilunasi, tidak ada pengerjaan tanggul," begitu pernyataan warga PAT yang selalu diulang-ulang. Sangat masuk akal dan memang harus begitu... jika kita pun korban lumpur yang kehilangan rumah, tanah, harta benda, kenangan, kebudayaan, dan sebagainya.

Minggu, 30 November 2014, seperti sudah diduga, tanggul di titik 73 akhirnya jebol. Sebab, hujan deras sudah melanda Kabupaten Sidoarjo dalam seminggu terakhir. Tanggul lama yang kritis makin tidak kuat menaham ar lumpur panas itu. Saat ini volume semburan sekitar 50 ribu meter kubik per hari. Di awal bencana volumenya 150 ribu meter kubik. Sudah berkurang banyak, tapi masih sangat berbahaya.

Jebolnya tanggul kemarin ini sekaligus mengakhiri riwayat sebuah desa yang pernah sangat terkenal di Kecamatan Tanggulangin: Desa Kedungbendo. Wilayah desa ini termasuk yang tenggelam bersama beberapa desa lain di Kecamatan Porong pada enam bulan pertama bencana lumpur Lapindo. Tapi, hingga 8,5 tahun ini ada wilayah Kedungbendo yang masih kelihatan daratannya meskipun tergenang air lumpur.

Ada juga beberapa rumah yang dibiarkan warga sembari menunggu pelunasan ganti rugi oleh Lapindo, yang belakangan bakal diambil alih pemerintah pusat. "Sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya Desa Kedungbendo. Sudah jadi kolam lumpur," kata Nugraha, warga setempat.

Hilangnya sebuah desa sebesar Kedungbendo tak serta-merta menghapus kenangan. Saya masih ingat Pak Hasan, kepala desa Kedungbendo, yang ramah. Pak Hasan yang kemudian sering didemo warganya karena ganti rugi dari Lapindo tak kunjung turun. Pak Hasan yang sempat unjuk rasa bersama warga Kedungbendo di atas tanggul.

Pak Hasan inilah kepala desa Kedungbendo terakhir (di daratan Kedungbendo) yang tercatat dalam sejarah di Kabupaten Sidoarjo. Kalaupun ke depan ada Desa Kedungbendo baru, relokasi atau bedol desa di tempat lain, tentu statusnya jauh berbeda dengan Kedungbendo asli yang sudah tenggelam itu.

Selan usaha kecil menengah (UKM), yang memang sejak dulu jadi unggulan Kecamatan Tanggulangin, Desa Kedungbendo ini terkenal karena ada Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera alias Perum TAS. Begitu banyak karyawan, PNS, anggota TNI/Polri, pendatang yang tinggal di perumahan ini. Tapi, kita tahu, Perum TAS sudah lebih dulu tenggelam setelah pipa gas meledak menjelang akhir 2006.

Lagi-lagi, saat itu Pak Hasan, kepala desa Kedungbendo, juga diprotes karena dianggap kurang memperjuangkan nasib warga Perum TAS. Mengapa warga perumahan dan warga kampung seperti dibedakan? Padahal, sama-sama penduduk Desa Kedungbendo? Begitu kira-kira protes warga pada 2006 dan 2007. Pak Hasan akhirnya turun ke lapangan, menjadi pemimpin warga desa, tak peduli warga asli, kampung, pendatang, dan sebagainya.

Yah, itu semua cuma cerita lalu. Saya tidak tahu di mana sekarang Pak Hasan tinggal. Begitu pula teman-teman dan kenalan yang dulu menghuni Desa Kedungbendo yang asri dan bersih itu.

Saya hanya bisa berdoa, semoga ganti rugi itu segera dibayar agar mereka tidak terus-menerus terpuruk di dalam lumpur panas Lapindo.

1 comment:

  1. salam kenal pak lambertus... saya termasuk korban perumtas blok k3 pak.. ;) sedih kalo liat tempat saya main di renokenongo,siring,, semenjak th 2007 saya sudah balik ke kalsel.. itulahpak negeri kita beda pemerintahan beda kebijakan.. :) semoga yg belum dapat gantirugi bisa direalisasi secepatnya.. amin..

    ReplyDelete