17 December 2014

Gak, Ndak, Nggak, ENGGAK, Ora, Mboten

Bahasa menunjukkan bangsa. Kita bisa menebak jitu asal daerah seseorang di Jawa Timur dengan sangat mudah. Perhatikan kata negasi dalam ujarannya. Kata TIDAK hampir tidak pernah dipakai dalam obrolan orang Jawa sehari-hari meskipun dia sedang berbahasa Indonesia. Kata TIDAK hanya dipakai di buku-buku atau tulisan resmi.

Kata TIDAK dianggap terlalu formal. Kaku. Kurang cocok untuk obrolan ringan sehari-hari. Bahkan, guru-guru dan dosen pun jarang pakai TIDAK di kelas. Nah, bahasa Jawa punya beberapa versi untuk menggantikan TIDAK. Sangat khas untuk 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

1. GAK

Kalau Anda mendengar kata GAK, bisa dipastikan yang ngomong itu orang Surabaya, Sidoarjo, Gresik, atau Malang. Aku gak gelem! Aku tidak mau!  

2. NDAK

Sangat khas untuk warga Jawa Timur di kawasan barat alias kulonan. Orang-orang dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, dan sekitarnya selalu pakai NDAK. Biarpun sudah tinggal di Surabaya atau Sidoarjo 20 tahun, NDAK-nya ini ndak bisa hilang. Permisi, Bapak ada di rumah? "Ndak ada," kata pembantu asal Kediri.

3. NGGAK

Kata negasi ini sangat umum digunakan orang Jawa Timur, kecuali orang Surabaya/Sidoarjo/Gresik yang lebih suka GAK. Orang Surabaya lebih hemat huruf: NG-nya dihilangkan, cukup 3 huruf saja: GAK.

4. ENGGAK

Satu-satunya kata negasi bahasa Jawa yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tambahan huruf E ini sangat penting agar memenuhi kaidah bahasa Indonesia. NGGAK tidak berterima karena diawali tiga konsonan. 

Karena itu, media-media yang standar bahasa Indonesianya tinggi seperti majalah TEMPO atau KOMPAS selalu menggunakan kata ENGGAK untuk kutipan langsung seseorang. Sebaliknya, media-media lain cenderung menggunakan kata NGGAK (tanpa E di depan). Bahkan, wartawan-wartawan di Surabaya biasanya menulis petikan langsung narasumber sesuai dengan asal daerah si wartawan itu. 

Misalnya, wartawan X dari Kediri selalu menulis NDAK, padahal narasumber yang bicara itu orang Surabaya yang pakai GAK. Saya tentu lebih setuju ENGGAK karena sudah lama masuk kamus baku bahasa Indonesia. Kata NDAK, NGGAK, dan GAK itu di luar kamus.

5. ORA

Sangat jelas kata ini kulonan alias dari kawasan barat. Khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Orang-orang dengan kultur mataraman ini selalu pakai ORA dalam ujaran maupun tulisan. Mangan ORA mangan waton kumpul. Kata ORA ini dianggap standar Jawa sehingga tidak bisa ditukar menjadi "mangan nggak mangan waton kumpul".

Majalah berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat dan Joyo Boyo pun menggunakan kata ORA untuk negasi. Kita sulit menemukan kata GAK, NDAK, NGGAK, atau ENGGAK di majalah bahasa Jawa. Sebab, ORA ini yang diterima sebagai standar bahasa Jawa ngaka (baca: ngoko) yang dipakai dalam obrolan sehari-hari.

Kata negasi ORA pun dipakai dalam kitab suci (Alkitab) berbahasa Jawa. Saya kutip Ayub 15:1. Tentang nasihat Elifas kepada Ayub yang baru saja kehilangan segala yang dia miliki.

"Ayub, kandhamu kuwi ngawur, ORA ana gunane. ORA ana wong wicaksana sing wangsulane kaya mengkono. ORA bakal ngelone anake dhewe nganggo tembung sing ORA ana tegese."

Karena Surabaya tidak mengenal ORA, anak-anak sekolah di Surabaya (dan Sidoarjo) sangat kesulitan menyerap pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Sebab, pelajaran bahasa Jawa di Jatim ternyata menggunakan standar Jawa Tengah atau Jatim bagian barat. Ini pula yang menyebabkan program bahasa Jawa setiap hari Jumat di Surabaya sejak dulu gagal total.

Anak-anak Surabaya tidak paham "Mangan ORA mangan waton kumpul". yang dipahami adalah "Mangan GAK mangan pokoke kumpul".

6. MBOTEN

Sama dengan ORA, tapi kelasnya lebih tinggi. Masuk kelas krama (baca: kromo). Lagi-lagi, anak Surabaya yang setiap hari bicara Suroboyoan merasa asing. "Iku bosone ketoprak," kata anak Surabaya. 

No comments:

Post a Comment