04 December 2014

Belajar Ikhlas di Sidang Sopir Maut

Bayangkan bila ayah kandung atau suami Anda ditabrak mati. Anda kemudian jadi saksi di pengadilan. Dan... Anda memaafkan sopir bus yang menyebabkan ayah atau suami/istri Anda pergi untuk selamatnya. 

Luar biasa!  Memberikan maaf kepada sang sopir yang ugal-ugalan. Yang ngebut demi mengejar setoran. Yang mengabaikan keselamatan orang lain. Yang berusaha melarikan diri sebelum dikejar dan dihentikan oleh seorang sopir taksi. Yang merasa sebagai raja jalanan. 

Saya hanya diam, terpaku, mengikuti sidang itu di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Sang terdakwa, Agus Indrianto,  tak lain adalah sopir bus Sumber Selamat (dulu namanya Sumber Kencono, tapi karena sering bikin celaka, diganti namanya jadi Sumber Selamat. Tapi tabiat sopirnya yang ugal-ugalan masih belum hilang. Apalah artinya nama Bung!). Pada 2 Agustus 2014, bus yang disopiri Agus ini menabrak Mas Rukin di dekat pintu keluar Terminal Bungurasih. Mas Rukin yang naik motor tewas di tempat.

Anissa, putri almarhum Rukin Firdha, wartawan senior Jawa Pos,  saat itu dihadirkan sebagai saksi. "Bagaimana tanggapan saksi sebagai anak kandung korban?" tanya hakim.

"Kami, pihak keluarga, sudah mengikhlaskan," jawab Anissa yang biasa disapa Chacha.

"Lalu, apa harapan Saudari Saksi. Apakah Saudari ingin agar terdakwa dihukum seberat-beratnya, sering-ringannya, atau seadil-adilnya?" kejar Pak Hakim lagi.

Tiga opsi: berat, ringan, adil. Saksi dari keluarga korban, Anissa, sang gadis manis berjilbab, terdiam sejenak. Lalu menjawab, "Kami ingin hukuman yang seadil-adilnya."

Suasana sidang pun berubah haru. Terdakwa Agus, sopir Sumber Selamat, tertunduk. Begitu juga dengan beberapa keluarga terdakwa, termasuk istri pak sopir, yang duduk di kursi pengunjung. Kunci jawaban dari pihak keluarga yang pemaaf, tak balas dendam, ikhlas, tidak minta hukuman seberat-beratnya untuk terdakwa membuat suasana sidang lekas cair. 

Tidak mudah menjadi manusia yang ikhlas. Memberi maaf kepada orang, apalagi yang merenggut nyawa kepala keluarga, tiang utama ekonomi. Iklas, maaf, pengampunan... begitu gampang diucapkan tapi amboi sulitnya dijalankan dalam hidup ini. 

Setiap hari kita berdoa (doanya orang kristiani): "... ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami!"

Tapi berapa banyak manusia yang ikhlas, pengampun, pemberi maaf? Siang itu, di ruang Pengadilan Negeri Sidoarjo, saya belajar banyak tentang ikhlas dan pengampunan. Tentang Tuhan yang Maharahim, maha pengampun, sehingga manusia yang merupakan ciptaan-Nya yang termulia harus belajar ikhlas dan rahim.

Kabar terakhir, terdakwa Agus, sopir maut ini, dituntut hukuman penjara selama 1,5 tahun. Putusan majelis hakim belum dijatuhkan.

6 comments:

  1. Bung Lambertus, apakah kepasrahan tsb budaya Jawa atau lebih merupakan iman Islamiah?

    ReplyDelete
  2. Bukan budaya Jawa, tapi menurut saya karena keimanan islamiah yg sangat kuat. Orang beriman percaya bahwa kematian sudah jadi garis takdir dari Sang Pencipta. Keluarga korban yg gak ikhlas biasanya mengamuk atau menyerang terdakwa dalam sidang pengadilan. salam.

    ReplyDelete
  3. Mas Rukin tampaknya memang berhasil memimpin dan mendidik keluarganya menjadi pribadi-pribadi yang ikhlas dan tidak pendendam. Semoga kita semua juga begitu.

    ReplyDelete
  4. menarik dan inspiratif. tapi perlu ada efek jera utk sopir2 sumber kencono.

    ReplyDelete
  5. Agus Indrianto (47), sopir bus Sumber Slamet yang terlibat tabrakan dengan Rukin Firda Redaktur Jawa Pos pada (02/08/2014) di depan Pintu keluar Terminal Purabaya, divonis 1 tahun 6 bulan oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo yang dipimpin oleh Tutut Topi Sri Purwati, Rabu (17/12/2014).
    Vonis yang diterima pria asal nganjuk itu, sesuai dengan tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum Zen Hardianto.
    “Terdakwa melanggar pasal 312 Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), oleh karena itu, terdakwa divonis penjara 1 tahun 6 bulan ” kata Tutut.
    Adapun yang memberatkan terdakwa, usai terlibat tabrakan, terdakwa sempat melarikan diri dan akhirnya diberhentikan oleh supir taksi. Meski sudah diingatkan menabrak orang.
    Sementara itu, Agus mengaku lega usai mendegar vonis dari hakim tersebut dan vonisnya sesuai tuntutan dari JPU. “Besyukur, vonisnya tidak berubah ” ucapnya lirih.

    ReplyDelete
  6. Ikhlas tentunya karena yg meninggal sudah tidak dapat kembali hidup
    Namun seharusnya Sopir Bis Sumber Selamat ini selamanya Tidak Boleh menyetir kendaraan alisa SIM nya Di CABUT, karena tindakannya jelasa akan membahayakan orang lain jika diberikan izin menyetir kendaraan lagi, sudahkah ini dilakukan oleh Pengadilan / Kepolisian ?

    ReplyDelete