02 November 2014

Wartawan Indonesia Malas Membaca

Gairah membaca buku di Paris. Luar biasa!!!!

Banyak orang Barat yang mengikuti proses pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2014. Apalagi, sebagian besar televisi meliput secara detail, panjang, berjam-jam, diulang-ulang dari pagi sampai tengah malam. Ada seorang wartawan Australia, Pak Duncan, yang menyindir kualitas pertanyaan wartawan-wartawan kepada Jokowi dan istri, juga anaknya.

"Pertanyaan wartawan-wartawan Indonesia fokus pada sarapan. Makanan apa yang dimakan saat sarapan. Kemudian pakaian yang dipakai Iriana, ibu negara," tulis Pak Duncan.

Selanjutnya, wartawan senior yang banyak mengupas masalah Indonesia itu menulis begini:

"There has been no interest in what books are on the couple’s bedside table, probably because the reporters, like many Indonesians, are not great readers of anything longer than a 140 character tweet."

Waduh, sentilan yang sangat mengena. Jujur, memang tidak ada wartawan Indonesia yang berpikir untuk menanyakan buku-buku apa saja yang dibaca sang pejabat. Buku-buku di atas meja, kamar, perpustakaan (memangnya ada perpustakaan di rumah), dan sejenisnya. Dari dulu kita melulu bertanya soal makanan kesukaan, hobi, band atau artis favorit.

Budaya membaca di Indonesia, harus diakui, memang belum terbentuk. Budaya lisan jauh lebih menonjol. Ketika budaya baca belum ada, muncullah kelisanan baru berupa media sosial. Maka, orang Indonesia pun lebih asyik membaca 140 karakter di Twitter seperti disinggung Duncan Graham tadi.

Seperti disentil Duncan Graham, wartawan-wartawan Indonesia pun sama saja. Sangat jarang ada wartawan yang betah berlama-lama membaca buku-buku tebal. Kecuali wartawan lama sekelas Dahlan Iskan yang setiap hari berkawan dengan buku tebal dan selalu dibaca sampai tuntas.

Dulu, sebelum jadi menteri, Pak Dahlan sering ndelosor begitu saja di Graha Pena, Surabaya, untuk membaca buku-buku tebal. Biasanya novel atau buku-buku best seller baik dalam maupun luar negeri. Sayang, reading habit para jurnalis senior ini tidak bisa diikuti para juniornya yang sudah telanjur berteman dengan internet dan media sosial.

Ketahuilah, saudara-saudara, barangsiapa yang terlalu asyik chatting, gaul di media sosial, bisa dipastikan kehilangan minat membaca buku, majalah, atau koran. Saya melihat beberapa putra-putri wartawan senior yang jarang membaca buku. Padahal, ayahnya dulu pembaca buku yang rakus. "Gak ada waktu baca buku. Gak asyik. Enak baca internet," begitu alasan adik-adik wartawan generasi baru.

Karena itu, beberapa wartawan Barat, yang bertugas di Indonesia, sejak dulu mengeluhkan tulisan-tulisan di media massa Indonesia yang tidak mendalam. Tidak ada referensi atau kutipan dari buku-buku yang berbobot. Jauh berbeda dengan Bung Karno dan generasi pendiri bangsa ini yang tulisan-tulisannya menggambarkan betapa luas dan dalamnya bacaan mereka.

Pak Duncan bertanya: "Has Indonesia’s new president Joko (Jokowi) Widodo read the ancient works of Chinese general Sun Tzu, author of The Art of War?"

2 comments:

  1. Iya, tuh. Tadi sore Kompas TV nayangin trending topic twitter. Pramugari kepresiden yang cantiklah,.... segala tweet tantangan Joko Anwar ke anak Jokowi si Kaesang buat ngedeketin anak menteri dibahas juga. Heran sama tipi satu ini...............

    ReplyDelete
  2. itulah kenyataannya, terkadang kemampuan pada lebih mengulas sesuatu yg tidak memberi suatu makna, baik dari pengetahuan maupun keilmuaan.

    ReplyDelete