17 November 2014

Sidoarjo Kota Dangdut

Tiada hari tanpa dangdut di Sidoarjo. Kabupaten yang punya 18 kecamatan, tetangga terdekat Kota Surabaya, ini memang sejak dulu demam musik dangdut. Kalau ada hajatan seperti pernikahan atau khitanan, orkes dangdut selalu diundang... bagi yang mampu. Kalau bukan orkes lengkap, biasanya penyanyi dangdut tunggal plus pemain keyboard. Biasa disebut organ tunggal.
"Saya tiap malam keliling ke berbagai tempat di Sidoarjo. Ada saja hajatan yang perlu dangdut," kata Mustakim, pengurus Orkes Melayu (OM) Rolista (jga ditulis Rollysta), kepada saya pekan lalu. 
OM Rolista punya puluhan penyanyi yang siap ditanggap kapan saja. Tergantung bujet yang punya hajatan. Kalau dananya sedikit, Mas Takim biasanya menurunkan penyanyi-penyanyi STW (setengah tua), usia di atas 30 tahun, wajah kurang menawan. Sebaliknya, nona-nona manis, seksi, muda di bawah 24 tahun, yang tampil kalau anggarannya besar.
"Kami ini sangat luwes. Tinggal pemesan saja," ujar Mas Takim di sela pertunjukan dangdut di Lingkar Timur, Sidoarjo. 
Bagaimana kalau dalam sehari ada tiga atau empat job? Gampang. Mas Takim bisa dengan mudah memanggil penyanyi dan pemusik yang tersebar di Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Gresik, Jombang, dan sebagainya. Benderanya tetap OM Rolista.
Saking banyaknya orkes dangdut di Sidoarjo, kita sulit menyebut angka yang pasti. Anggap saja satu desa/kelurahan punya satu orkes, maka di seluruh Kabupaten Sidoarjo terdapat 353 orkes. Padahal, biasanya di sebuah desa/kelurahan selalu ada lebih dari satu orkes. Namun, biasanya pula para pemusik dangdut, juga penyanyi-penyanyi seksi itu, sering bermain dengan bendera OM yang berbeda.
"Orkesnya sih banyak sekali. Tapi banyak yang nggak aktif. Soalnya, persangan orkes saat ini sangat ketat. Kalau nggak punya jaringan, ya, susah," kata Mas Takim yang karatan mengurus musisi dan penyanyi dangdut dengan segala lika-likunya.
Begitu dahsyatnya pengaruh musik dangdut di Sidoarjo, hampir semua kegiatan yang melibatkan massa selalu disertai hiburan dangdut. Acara-acara pemerintah kabupaten hampir pasti ada dangdutnya. Kebetulan Mas Mustakim ini jadi langganan tetap event-event plat merah. Jalan sehat ada dangdut. Car free day pasti dimeriahkan dangdut. Promosi produk apa pun ada dangdutnya. 
Karena itu, kafe-kafe di Sidoarjo yang dulu getol menjajakan musik pop kini tinggal nama saja. Kafe de Shin, Delta Cafe, Akar Jati, Delta Sepanjang... tak ada lagi jejaknya. Kafe Java Mocha di Deltasari yang dulu khusus menampilkan musik jazz lebih dulu gulung tikar. "Suka tidak suka, dangdut itu sudah melekat di hati warga Sidoarjo. Anda bisa lihat, semua kafe yang hidup di Sidoarjo sekarang, ya, kafe-kafe dangdut," kata Mas Takim yang punya peralatan sound system lengkap ini.
Tesis Sidoarjo sebagai kota dangdut, berdasar pengamatan sepintas ini, dibuktikan pula dengan kajian Karyadi, pengamat sosial budaya yang tinggal di Kecamatan Sedati, dekat Bandara Juanda. Karyadi menulis:
"Hasil studi saya menunjukkan adanya dominasi musik dangdut di atas jenis musik lain seperti samroh, pop, keroncong dan hiburan lainnya. Warga Sidoarjo kerap memperdengarkan musik dangdut, baik lewat pementasan hiburan dangdut bersifat live show atau memperdengarkan irama dangdut lewat kaset dengan sistem audio yang berkekuatan besar yang memekakkan telinga. Boleh dikatakan musik dangdut menjadi ikon Sidoarjo baru sebagai Sidoarjo Kota Dangdut."
Dominasi dangdut di Sidoarjo ini, menurut Karyadi, akhirnya melahirkan regenerasi penyanyi dan pemusik yang sangat cepat. Anak-anak muda belasan tahun, pelajar, banyak yang terjun ke dangdut. Mereka sekolah sambil ngamen alias manggung dari satu hajatan ke hajatan lain setiap malam. Ironisnya, ada pelajar yang putus sekolah karena keasyikan ngamen.
"Kegandrungan dan regenerasi pemusik dangdut di Sidoarjo dipastikan relatif lebih lestari di banding kesenian lain, seperti perkembangan ludruk di Surabaya yang kian luluh saja," kata Karyadi. 
Di sisi lain, perkembangan dangdut yang dahsyat ini juga menimbulkan persoalan baru di kalangan sebagian masyarakat Sidoarjo, khususnya kalangan santri dan anggota DPRD Sidoarjo, yang didominasi politisi santri PKB. Mereka resah melihat begitu banyak kafe dangdut yang tumbuh tak terkendali di hampir semua (18) kecamatan. Kafe-kafe dangdut itu malah jadi tempat mangkal wanita penghibur alias purel dan dicurigai sebagai tempat maksiat.
Karena itu, beberapa waktu lalu Banser Sidoarjo ramai-ramai menutup kafe dangdut di depan Gelora Delta. Di Krian, Banser bersama Satpol PP, polisi, dan pemerintah kecamatan menertibkan kafe-kafe dangdut di kawasan pasar baru dan beberapa titik lainnya. Toh, beberapa hari kemudian kafe-kafe dangdut itu beroperasi lagi seperti biasa. 
Predikat "kota santri" yang sudah lama disandang Kabupaten Sidoarjo pun makin dipertanyakan. Kota santri kok banyak kafe-kafe yang menyediakan purel dan minuman keras? Nah, pergeseran itu memang tidak lepas dari "revolusi" dangdut dari musik santri (ala Rhoma Irama, Ida Laila, Sinar Kemala, A Rafiq, S Achmady) ke musik yang benar-benar murni untuk konsumsi hiburan malam yang remang-remang menggemaskan.

No comments:

Post a Comment