14 November 2014

Pidato Pejabat Makin Renyah

Dibandingkan masa lalu, khususnya Orde Baru, bahasa para pejabat kita saat ini jauh lebih renyah. Kalimat-kalimat panjang, teknik, majemuk, berbelit-belit, makin jarang terdengar. Ini tak lepas dari banyaknya orang swasta yang jadi pejabat baik di pusat maupun di daerah.

Gaya bahasa orang swasta yang informal, santai, cakapan, dibawa juga ke dunia birokrasi. Di Jawa Timur, orang sangat senang mendengar pidato Gus Ipul, wakil gubernur Jatim, karena retorikanya yang cair dan penuh humor. Selalu ada kejutan-kejutan humor yang bikin orang ger-geran. Tidak heran, kedatangan Gus Ipul dalam sebuah acara sangat dinantikan orang, yang sudah paham gaya Gus Ipul.

Maklum, Gus Ipul ini meskipun sudah lama jadi pejabat, bahkan pernah jadi menteri urusan daerah tertinggal, latar belakangnya bukan birokrat. Pria asal Pasuruan ini santri NU yang aktif di organisasi nahdliyin sejak kecil. Tentu saja dia sudah biasa berkhotbah di depan ratusan atau ribuan orang dengan gaya yang menghibur. 

Jangan harap Gus Ipul ini membacakan pidato. Biarkan Pak Wagub ini bicara mengalir saja dan nikmati humornya yang genuine dan sangat lucu.

Rupanya, retorika Gus Ipul ini pelan-pelain ikut mempengaruhi gaya pidato Gubernur Jatim Soekarwo yang berlatar belakang birokrat murni. Pakde Karwo ini sejak Orde Baru sudah jadi pejabat penting. Dia merintis karir dari bawah, tahu betul isi perut birokrasi, termasuk tata bahasa dan gaya pidato pejabat. 

Kalau saya simak retorikanya, Pakde Karwo ini makin lama makin cair dan conversational. Selalu ada bumbu-bumbu humor, sedikit sentilan, meskipun tidak selucu Gus Ipul. 

Orang swasta yang benar-benar merevolusi gaya bahasa pejabat adalah Dahlan Iskan. Pak Dahlan asli swasta, pengusaha koran, mantan wartawan yang tulisan-tulisannya paling asyik dibaca. Jauh sebelum jadi pejabat, Dahlan Iskan sudah mengkritik kebiasaan pejabat-pejabat Indonesia, khususnya di Jawa Timur, yang suka membacakan sambutan. Pidato tertulis, menurut Pak Dahlan, sudah tidak cocok dengan tuntutan zaman. Apalagi kalau acara itu disiarkan televisi.

Nah, ketika dipercaya jadi pejabat, mulai dirut PLN sampai menteri BUMN, gaya swasta Dahlan Iskan yang pendek, efisien, cerdas, dan elegan dibawa ke birokrasi. Sambutan Pak Dahlan selalu ditunggu karena memang selalu memberikan wawasan baru. Selalu di luar kotak, out of the box! Ketika harus membuat pidato tertulis untuk pengukuhan doktor kehormatan pun gaya asli Pak Dahlan tidak hilang. Jauh dari bahasa pejabat yang mbulet, berbelit-belit tak karuan.

Suatu ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Pendidikan M Nuh menghadi acara jalan santai di Surabaya. Sebelum peserta diberangkatkan, kedua menteri dari Surabaya itu diminta memberikan sambutan. Pak Nuh bicara pertama, agak panjang dan mendalam. Setelah itu giliran Pak Dahlan diminta memberikan sambutan. Apa isi pidato Pak Dahlan?

"Assalamualaikum.... Sambutan saya sama persis dengan sambutan Pak Nuh. Jadi, saya tidak perlu mengulang lagi. Sekian. Assalamualaikum...," kata Pak Dahlan disambut tepuk tangan dan tawa renyah peserta jalan sehat. Saya pun terkaget-kaget dengan gaya swasta Pak Dahlan yang tetap melekat meski saat itu berstatus menteri BUMN.

Tadi pagi, Jumat 14 November 2014, saya pun terkejut dengan gaya Bahrul Amig, kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo. Pak Amig yang berlatar belakang birokrat, mantan camat, orang dinas alias SKPD, diminta pembawa acara untuk menyampaikan sambutan sekaligus laporan di hadapan bupati, wakil bupati, dan pejabat-pejabat lain di Pemkab Sidoarjo. Tentang peluncuran acara Sidoarjo Berhsih dan Hijau plus peresmian Taman Tandjoeng Puri di kawasan lingkar timur.

Pak Amig tampak berlari kecil dari tempat duduknya ke atas panggung. Tidak pakai contekan apa pun, Pak Amig bicara dengan enak dan fasih tentang program-program DKP, khususnya SBH serta pembuatan taman-taman di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Gaya Pak Amig sangat informal dan asyik. Poin-poin yang disampaikan pun runut dan jelas. 

Gaya Pak Amig ini sangat kontras dengan beberapa kepala dinas sebelumnya. Biasanya, di acara seperti ini, sang kepala dinas membacakan laporan yang disusun mirip makalah. Tentu saja hadirin malas menyimak, bahkan bicara sendiri-sendiri. Pak Amig ini tipe pejabat baru yang membawa angin segar ke Pemkab Sidoarjo.

Gaya pidato Pak Saiful Ilah, bupati Sidoarjo, pun sebentulnya informal dan santai karena latar belakangnya yang pengusaha dan swasta murni. Pak Saiful begitu enak ketika bicara lisan di luar teks. Sayang, bupati yang biasa disapa Abah Ipul ini biasanya membacakan sambutan (tertulis) lagi meskipun sudah bicara lisan. 

Sambutan tertulis inilah yang membuat pidato Pak Bupati yang juga nahdliyin, sekaligus ketua PKB, ini jadi panjang dan membosankan. Padahal, poin-poin penting di sambutan tertulis itu sebetulnya sudah disampaikan Abah Ipul di luar teks. 

No comments:

Post a Comment