20 November 2014

Pendeta Meninggal, Gereja Ikut Mati

Gereja di pinggir jalan raya di kawasan Surabaya Selatan itu kini berubah menjadi bangunan mangkrak. Kusam. Tak ada lagi kesibukan jemaat, khususnya anak-anak muda, yang dulu rajin bikin macam-macam kegiatan. Tak ada lagi bursa barang murah untuk warga kurang mampu. Tak ada lagi tanda-tanda kalau bangunan itu bekas gereja. Kecuali logo 4 huruf kapital yang masih tersisa.

Yah, sejak ditinggal mati pendetanya, HS, gereja aliran pentakosta-karismatik itu rupanya cuma tinggal nama. Ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Bahkan, belum sempat jadi bunga. "Jemaatnya sudah ikut gereja lain. Sudah nggak ada kegiatan di sini," ujar seorang ibu yang bisnis cuci pakaian di samping eks gereja itu.

Sang gembala, HS, meninggal dalam usia yang masih relatif muda, 40-an tahun. Anak-anaknya pun masih kecil sehingga sulit diharap meneruskan jejak ayahnya sebagai pendeta. Dan, kalaupun anak-anak HS sudah dewasa pun, belum tentu ada yang terpanggil menjadi pendeta. Sebab, orang Kristen percaya bahwa pendeta atau pastor itu panggilan Tuhan, bukan profesi atau pekerjaan biasa.

Sayang, gereja yang sempat terkenal ini, dulu sering masuk koran, meski tidak apa-apanya dibandingkan Bethany atau Mawar Sharon, mati muda. Tenggelam bersama gembalanya yang dipanggil Sang Pencipta. "Mengapa nggak dilanjutkan? Sayang, bangunan gereja sampai telantar seperti ini," kata saya kepada ibu laundry itu.

"Mau bagaimana lagi? Memang jalannya sudah seperti itu. Kita serahkan saja kepada Tuhan," ujar sang ibu yang ramah itu.

Saya pun segera meninggalkan halaman bekas gereja itu. Di tengah perjalanan ke Sidoarjo, saya pun merenung. Seandainya gereja ini GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) atau GKI (Gereja Kristen Indonesia) atau GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), gereja ini tak akan mati. Sang gembala, pendeta, boleh tiada, tapi sinode atau organisasi gerejawi jalan terus. Bahkan, ketika sang pendeta sakit keras, otomatis pihak sinode otomatis mengirim pendeta-pendeta lain untuk melayani jemaat.

Tapi yang ini bukan gereja ala GKJW atau GKI, apalagi Katolik. Ini gereja pribadi yang dimodali sendiri oleh sang pendeta yang meninggal dunia itu. Dia jadi majikan atas dirinya sendiri. Tak punya atasan. Jemaatnya pun dia cari sendiri dengan berbagai teknik marketing dan persuasi. Maka, ketika sang pendeta tidak bisa aktif karena sakit keras, gereja ini sebenarnya sudah lumpuh. Yang namanya kebaktian, ibadah raya, dan sebagainya sudah tak ada lagi.

Syukurlah, para domba gereja-gereja macam ini pun sangat luwes.Mereka bisa dengan enteng pindah ke gereja lain kapan saja dia mau. Dan gereja-gereja macam ini sedang booming di kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Biasanya mereka ngontrak ruko untuk dijadikan gereja dalam jangka pendek. Habis kontrak bisa diperpanjang atau pindah ke ruko lain. Kebetulan Pendeta HS ini memilih membeli (atau menyewa) bangunan di pinggir jalan raya untuk merintis gerejanya.

Begitu banyak hikmah yang saya petik dari kasus gereja mangkrak ini. Tapi kurang elok rasanya kalau ditulis di sini karena pasti akan menyinggung perasaan jemaat gereja-gereja aliran itu. Teologi sukses itu ternyata tidak selamanya sukses!

Haleluyaaaaa!!!!

No comments:

Post a Comment