01 November 2014

PDIP masih dibuat mainan!

PDI Perjuangan yang dipimpin putri Bung Karno justru sering melupakan pesan Bung Karno: Jas merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Di awal reformasi PDIP menang dalam pemilu 1999. Tapi, kita tahu, Megawati gagal jadi presiden. Yang jadi presiden justru Gus Dur yang didukung koalisi Poros Tengah. PDIP gagal merangkul partai-partai lain di MPR untuk mendukung Bu Mega.

Masih untung waktu itu poros tengah tidak kemaruk. Koalisi yang dipimpin Amien Rais, ketua MPR, itu masih memberi kesempatan kepada Bu Mega jadi wakil presiden. Kalau mau, sebetulnya poros tengah bisa memutuskan orang lain sebagai wapres. Dan PDIP sebagai pemenang pemilu akan ngaplo. Tidak dapat apa-apa.

Sayang, pengalaman pahit ini tidak menjadi bahan pelajaran bagi PDIP untuk berbenah. Dan belajar siasat politik, merangkul lawan jadi teman, bikin strategi di parlemen. Maka, PDIP yang menang pemilu 9 April 2014 kembali terantuk batu yang sama. Menang pemilu tapi tidak dapat posisi apa pun di DPR, MPR, bahkan komisi.

PAN dan PKS yang suaranya sedikit justru menduduki banyak kursi penting di legislatif. PDIP lagi-lagi gagal menggalang koalisi dan hanya bisa interupsi, walkout, stres. Bu Mega sebagai ketua umum PDIP rupanya tidak sadar bahwa kursinya di parlemen masih jauh di bawah 50 persen!

Suara 20 persen sama saja dengan 10 persen, 7 persen, atau 5 persen. Bahkan, PDIP membuktikan bahwa suara 20 persen malah lebih buruk ketimbang 7 persen. Kasihan PDIP! Kasihan Bu Mega! Kasihan Puan! Kasihan semua kadernya yang sebetulnya gak jelek-jelek amat.

Masih untung PDIP punya kader cemerlang bernama Jokowi alias Joko Widodo. Jokowi menang dalam pilpres langsung pada 9 Juli 2014 meski beda suaranya dengan Prabowo tidak terlalu jauh. Seandainya pilpres lewat MPR bisa dipastikan Jokowi tak akan pernah jadi presiden. Selama tetap ikut PDIP yang naif itu.

Bagaimana jika pilpres kemarin yang menang Prabowo? Koalisi merah putih pendukung Prabowo akan menguasai secara sempurna posisi pimpinan di DPR, MPR, komisi, alat kelengkapan... dan presiden. Jangan harap koalisi Prabowo merelakan posisi legislatif kepada PDIP dan koalisinya yang lemah itu.

Koalisi merah putih ini raja tega, Bung! Beda dengan poros tengah yang tidak tega membiarkan Bu Mega kalah pilpres dan kalah pilwapres. Koalisi poros tengah juga berjasa menurunkan Gus Dur dan menaikkan Bu Mega ke kursi presiden kelima.

Sebagai partai besar, terlepas berbagai kelemahannya, PDIP sebetulnya punya modal yang kuat untuk membentuk koalisi 51 persen. Sejelek-jeleknya PDIP pasti adalah partai yang mau diajak kerja sama. Termasuk dengan Gerindra atau PKS atau PAN atau Golkar. Kebencian yang luar biasa terhadap PDIP tidak akan abadi. Bukankah politik itu urusan kepentingan, siapa dapat apa?

Sekarang tinggal kader-kader PDIP, khususnya Bu Mega sebagai orang nomor satu, untuk mendengarkan pesan Bung Karno: Jas Merah! Masak partai pemenang pemilu tidak mampu mengajak koalisi partai-partai lain! Kalau memang tidak bisa berkoalisi ya silakan berjuang agar bisa menang 50 persen. Dan itu bukan hil yang mustahal.

1 comment:

  1. Pemerhati Indonesia1:32 AM, November 03, 2014

    Itu karena sikap Bu Mega sebagai putri Bung Karno dan sebagai pemimpin partai yang dulunya ditindas Pak Harto lalu menjadi pemenang, jadinya dia merasa "entitled", merasa berhak untuk melakukan kehendaknya karena mentang-mentang nomer satu, padahal nomer satunya bukan mayoritas.

    Dalam politik tidak ada permusuhan atau pertemanan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Dan PDI-P di bawah Bu Mega tidak mampu menggalang kepentingan partai dengan partai-partai lain yang sejalan dengan kepentingan rakyat Indonesia.

    ReplyDelete