08 November 2014

Obbie Messakh keluhkan pembajakan



Obbie Messakh ternyata masih ada. Pagi ini, saya baca di Kompas, pencipta lagu lawas era 1980-an dan 1990-an itu membahas masalah pembajakan karya musik yang merajalela di tanah air. Begitu parahnya pembajakan kaset, CD/VCD/DVD, dan sebagainya sehingga para seniman gigit jari.

Kerja keras bikin lagu, musik, rekaman, dsb, tapi hasilnya nol. Dulu, menurut Obbie, para pembajak juga sudah ada tapi tidak separah di era internet dan digital ini. Aparat keamanan pun tidak berdaya melindungi para pelaku industri kreatif di bidang musik, film, dsb.

"Tahun 1980-an, penyanyi, pencipta lagu, pengusaha rekaman masih dapat 80 persen, 20 persen dinikmati pembajak. Sekarang terbalik: pembajak yang dapat 80 persen," kata pemusik dan penyanyi pop melankolis asal Pulau Rote, NTT, itu.

Obbie Messakh sebetulnya sudah sering mengungkapkan hal ini. Ketika berada di Surabaya, seniman yang melejit lewat JK Records itu pun mengungkapkan kegundahan yang sama. Gara-gara dibajak, banyak musisi yang stres, kurang gairah, bahkan merana di usia senja.

Lagu-lagu Obbie Messakh misalnya masih terus diputar sampai sekarang. Tapi berapa royalti yang dia nikmati? "Nggak ada," katanya. Iklim industri musik yang jelek inilah yang membuat sebagian besar perusahaan rekaman di Indonesia tutup. Hanya ada beberapa gelintir pengusaha yang masih nekat bermain di industri ini.

Obbie sendiri, di usia 57 tahun, masih terus berkarya. Bikin lagu, hobi yang tak disangka menjadi pekerjaannya selama bertahun-tahun. Tapi, karena industri musik yang galau, jarang sekali ada lagu ciptaan Obbie Messakh yang direkam untuk dinikmati masyarakat.

Satu-satunya lagu terbarunya yang dirilis tahun 2014 ini berjudul Yang Ku Sayang Sudah Jadi Milik Orang. Obbie dapat pesanan dari Leonard Kristianto, putra JK (Judhi Kristianto) untuk membuat lagu baru yang benar-benar bernuansa 80an khas Obbie. Lagu ini direkam Bang Nyo, sapaan akrab Leonard, yang kini tengah berjuang untuk meghidupkan kembali JK Records yang sudah lama tenggelam.

Manis juga lagu yang dibawakan Novika, penyanyi pendatang baru asal Bandung. Gaya Obbie benar-benar terasa di sini. Tapi lebih mirip lagu-lagu Obbie di luar JK Records seperti versi Ratih Purwasih atau Tio Fanta. Toh, banyak orang lawas, yang pernah menikmati lagu pop lawas, antusias meyambut kehadiran kembali Obbie Messakh ke blantika musik pop yang penuh ranjau bajakan itu.

"Musik itu sudah jadi jalan hidup saya. Yah, saya jalani saja," kata Obbie Messakh. Meskipun di zaman internet ini, kita tak perlu lagi ke toko kaset agar bisa menikmati lagu. Cukup duduk di depan komputer (laptop), masuk ke YouTube, dan... Novika pun menyanyikan lagu ciptaan Obbie Messakh, Yang Ku Sayang Sudah Punya Orang:


Ketika kulewati jalan ini
Aku ingat kau...
Ingat kenangan bersamamu

Di situ di lorong itu 
Rumah mantan pacarku
Yang pernah ada dalam hidupku

Rasanya kuingin kembali 
Kembali ke masa lalu

Memang harus kuakui
di antara rasa benci 
masih ada juga rasa rindu
....................

1 comment:

  1. Keluhan Obbie tentang pembajakan musik melalui Internet, sudah saya dengar dari seorang teman baik di Jakarta, pemilik studio Aquarius Musikindo, 4 atau 5 tahun silam. Hidup memang seperti baling2, sebentar diatas, sebentar dibawah.
    Seperti pernah saya ungkapkan; tiap benda punya dua sisi. Saya pencinta lagu2 Maluku, kalau tidak ada Youtube, darimana saya bisa melamun sambil mendengarkan lagu2 Kole kole, Manise-manise, Sayang dilale, Sio mama, Hujan sore2, dll.-nya. Ketika masih duduk dibangku SMP betapa saya iri melihat beberapa teman yang punya alat Gramophon atau Tape Recorder. Zaman doeloe boro-boro punya Gramophon, radio saja masih pakai mata-kucing. Sekarang tinggal ngeklick, jika ingin dengar lagu kesayangan.
    Menurut teman saya itu, dulu sebuah lagu Hit, rekamannya bisa terjual 300 sampai 500 ribu keping. Sekarang 30 ribu saja sudah susah.

    ReplyDelete