14 November 2014

Mukjizat Tuhan dalam sunyi

Minggu lalu sebuah gereja di Surabaya memasang iklan besar di koran. Isinya mengajak umat kristiani untuk ikut kebaktian di gereja aliran karismatik itu. Rasakan dahsyatnya mukjizat! Kuasa Allah akan Anda rasakan!

Di koran yang sama, juga gereja sealiran, dipampang foto lima artis ibukota yang akan memberikan kesaksian. Termasuk Asmirandah, yang dikabarkan baru masuk Kristen. Wow, modus iklan lawas rupanya masih laku. Yakni menjual selebriti-selebriti sebagai penarik jemaat.


Sudah bertahun-tahun saya tertegun setiap kali melihat iklan kebaktian, KKR, ibadah raya, atau apa pun namanya yang kayak begini. Kata-katanya selalu dahsyat, ajaib, mukjizat, kuasa Allah ditunjukkan, dst. Pujian penyembahan yang bergelora. "Anda akan merasakan dahsyatnya kuasa roh kudus," kata iklan itu.


Syukurlah, tadi saya membaca situs Katolik di internet, Catholic Herald. Media terkenal di Inggris ini mengutip pesan Paus Fransiskus di kediamannya di Vatikan. Paus mengingatkan bahwa kerajaan Tuhan, karya Allah, itu justru lebih sering bekerja dalam senyap. Bekerja di jalan yang tersembunyi.


"Sementara manusia mungkin lebih suka melihat langsung mukjizat Allah yang spektakuler," kata Paus asal Argentina ini.


Paus Frans mengibaratkan karya Tuhan itu seperti benih yang berada di dalam tanah. Roh kudus akan membuat benih itu tumbuh dan berkembang. Namun kita harus terbuka dan mempersiapkan diri agar benih itu tumbuh.


Paus mengingatkan, Yesus berkali-kali mengingatkan kepada para pengikutnya bahwa kerajaan Allah itu tidak jauh. Begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.


Sayang, kita, manusia, kadang lebih suka melihat tontonan mukjizat Allah yang spektakuler. Yang dahsyat. Yang heboh. Yang disampaikan dalam kesaksian artis-artis top.


Paus kemudian menyinggung pernikahan. Bukannya mempersiapkan diri untuk menerima sakramen nikah, menurut Paus Frans, pasangan penganten justru lebih fokus mempersiapkan gaun pengantin.


"The couple arrives for a fashion show, to be seen," ujar Paus Frans.

1 comment:

  1. om hurek, saya lagi gandrung banget sama yg namanya TAIZE... ketika mendengarkan nyanyian pujian ala Taize, saya merasakan kehadiran Tuhan dan beban saya hilang... sayang sekali saya belum berkesempatan untuk menghadiri ibadat Taize... tapi saya rutin mendengarkan siaran doa malam di Taize yg disiarkan oleh radio milik Keuskupan Agung Koln, Jerman...

    kalau ada ibadat Taize di Surabaya dan sekitarnya coba om datang deh... sebagai alternatif metode untuk berjumpa kedamaian di dalam Kristus...

    ReplyDelete