10 November 2014

Menjajakan Agama di Pasar Bebas

Bolehkah menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama? Bukankah (hampir) semua orang di sini beragama Islam? Mengapa buku-buku, majalah, dan selebaran nasrani dipamer dan dibagikan?

Begitu antara lain keluhan seorang kenalan di Sidoarjo pekan lalu. Pria 30-an tahun ini tidak suka ulah beberapa aktivis sebuah gereja made in America yang gencar bikin pameran buku, majalah, selebaran, mendadak di tempat umum.

"Kalau yang dipamerkan itu buku-buku umum sih bagus. Harus kita dukung. Lha, yang dipamerkan ini semuanya buku-buku tentang ajaran agama dari sekte itu. Nggak ada satu pun majalah atau buku umum," kata karyawan tersebut.

Syamsul, sebut saja begitu, menganggap semua yang berbau nasrani atau kristiani itu sama saja. Baik itu Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent, Baptis, itu sami mawon. Sama-sama percaya Yesus Kristus, sama-sama paka salib. Karena itu, dia curhat agar saya yang dia kenal sebagai orang Katolik ikut membantu menghentikan kegiatan kristenisasi berkedok pameran buku itu.

"Jangankan sampean yang Islam, Mas, saya yang Katolik malah jadi target utama. Sekte itu mnganggap kami sesat sehingga perlu ditobatkan. Supaya jadi jemaatnya sekte itu," kata saya saat ngopi.

Kita jadi serba salah. Menghentikan paksa bisa dianggap melanggar HAM. Membiarkan saja bisa menimbulkan kesalahpahaman, khususnya di kalangan umat Islam. Evangelisasi jalanan berkedok pameran buku rohani itu semakin menjustifikasi serangan umat Islam sejak 1970-an bahwa kristenisasi di Indonesia sangat sistematis, gencar, dan eksesif.

Maka, saya lalu berusaha menjelaskan latar belakang sekte dari USA itu. Dulu, di zaman Orde Baru, dilarang karena dianggap sesat oleh gereja-gereja mainstream di Indonesia. Tapi, setelah reformasi, larangan itu dicabut jaksa agung, yang juga mantan komisioner Komnas HAM, Marzuki Darusman. Maka, begitulah jadinya.

"Negara Indonesia ini begitu lekas merespons keluhan ulama Islam, tapi tidak mau mendengar masukan dari PGI dan KWI yang mewakili umat Kristen Protestan dan Katolik di Indonesia," kata saya mengutip pendapat banyak tokoh kristiani (mainstream) yang saya baca di majalah rohani.

Tapi, memang di era keterbukaan, banjir informasi di internet, yang mudah diakses di HP, rasanya pemerintah semakin sulit melarang kegiatan agama atau sekte tertentu. Negara ibarat pasar bebas yang menyediakan komoditas apa saja. Termasuk agama-agama dengan sekte-sektenya yang begitu banyak. Orang bebas menjajakan apa saja, termasuk keyakinannya, di pasar itu. Selanjutnya, terserah konsumen, mau beli atau tidak.

4 comments:

  1. Ulasan yang menarik dari Bung Hurek. Namun kita sebagai orang Kristen yg kebebasan beribadatnya di Indonesia masih agak status waspada, sebenarnya hal tersebut sih ndak perlu di-khawatirkan, karena kelompok agama yg Bung Hurek maksud, sejauh mana mereka dapat bebas mengekspresikan iman mereka sebenarnya menjadi semacam garda depan barometer penentu kebebasan beragama di suatu negeri. Kalau di suatu negeri, mereka sudah ndak bebas, maka biasanya kelompok (baik mainstream ataupun minoritas) yg lain agak mengalami semacam pembatasan juga. Lagipula sebenarnya agama Kristen sejak awal mulanya dahulu memang adalah agama yg terkenal selalu berbicara kepada umum dimana-mana. Beberapa waktu yg lalu saya ke Detroit, Michigan, saya pun agak kaget, bukan hanya kelompok tersebut yg Mas Hurek maksud, bahkan Pastor Katolik dan street preacher lainnya banyak lakukan aktivitas penginjilan publik. Kan keren juga kalok Indonesia bisa mengalami iklim kebebasan beribadat seperti itu tha?

    Salam Damai,

    "Oz" Pangudi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf Bapak " Oz " Pangudi, sebelumnya saya ucapkan juga Salam Damai ! Saya ingin bertanya; Apakah seorang Ustadz yang berjenggot brewok dan bersorban, misalnya Habib Rizieg, bisa bebas berkhotbah dan mem-bagi2-an Kitab Suci Al Quran dijalanan yang ramai dikota
      Detroit, Michigan ? Saya hanya pernah berlibur selama 30 hari di California pada tahun 1981, jadi kurang paham dengan situasi di Amerika, walaupun di Pasport saya diberi Visa kunjungan seumur hidup oleh pemerintah Amerika Serikat.
      Saya hidup 48 tahun di Eropa, jadi hal diatas adalah mustahil. Mungkinkah Amerika Serikat engkong-nya kebebasan beragama ?
      Wallahualam ?

      Delete
    2. Detroit, Michigan ialah kota di mana banyak sekali populasi imigran keturunan Arab, jadi tidak heran kalau banyak pendakwah Islam di sana. Di kota Sunnyvale, dekat tempat saya tinggal di California, di stasiun kereta api dan di famer's market (pasar kaget), pendakwah Muslim dengan bebas membagikan Al Quran terjemahan bahasa Inggris dan brosur-brosur tentang agama Islam.

      Delete
  2. Hi Mas Anonymous, salam damai juga ;) apakah pengkhotbah Muslim bisa bebas berkhotbah dan mem-bagi2-an Kitab Suci Al Quran dijalanan yang ramai macam dikota Detroit, atau London, sejuah yang saya tahu mereka juga memiliki kebebasan Mas.

    Waktu saya masih SMA, pernah saya diajak dolan-dolan ke Sydney & Brisbane di Ostrali, suatu Sabtu siang, di (semacam) alun-alun kota Brisbane, saya ketemu dengan banyak penyiar agama dari berbagai agama & denominasi, termasuk beberapa dari kelompok agama Islam, termasuk di Sydney, bahkan mereka juga terlihat seirama dengan gereja-gereja Katolik dan Protestan, bikin acara soup for homeless, pas lagi malem2 dingin.

    Semua kelompok agama di negara2 maju tersebut terlihat dengan bebas menyiarkan aktifitas sosial dan kepercayaan mereka, namun dengan satu catatan, nda onok sing ngajarke atau mekso-mekso orang-orang passerby konten khotbah kelas berat macam Habib Rizieq apalagi yg mirip2 kayak Usamah bin Laden. Bahkan aku dengar, sekarang itu si om habib rizieq dan para pengkhotbah setipenya aja kalok lagi khotbah, sudah "ditemenin" sama intel-nya TNI (kalok ndak salah denger lho), so even di nagari sendiri aja, pemerintah ngga mau ambil resiko terhadap orang-orang ekstremis macam itu...

    Di Jerman, Belanda, Prancis saja saudara-saudara Muslim bisa bangun masjid gwede-gwede, saya pernah mampir ke Grand Mosque di Paris, banyak orang Pakistan, Arab, Iran termasuk sekelompok kecil teman-teman dari Indonesia suka ngaso disitu... sementara di Indonesia, apakah kelompok non-mayoritas benar2 bisa memiliki kebebasan hakiki macam itu dengan gampang? Wallahualam ? :)

    Salam Damai,

    "Oz" P.

    ReplyDelete