10 November 2014

Lagu Anak yang Nabrak Logika

Komponis, pianis, dan budayawan SLAMET ABDUL SJUKUR sering melontarkan pertanyaan ini saat memberikan ceramah musik di Surabaya. "Kenapa Indonesia tidak bisa maju? Mengapa Indonesia tidak bisa menjadi negara maju?"

Mas Slamet, 79 tahun, menjawab sendiri. "Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu-lagu yang tidak bermutu. Lagu-lagu anak-anak yang mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi," katanya serius.

Mas Slamet kemudian mengajak seorang peserta menyanyi BALONKU.

"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. 
Merah, kuning, kelabu... merah muda dan biru. 
Meletus balon hijau, dorrrr!!!"

"Perhatikan warna kelima balon tersebut. Kenapa tiba-tiba muncul warna hijau? Jadi, jumlah balon sebenarnya ada enam, bukan lima," katanya.


Agar logika jalan, mestinya syair lagu BALONKU diganti sedikit. "Hijau, kuning, kelabu...." Dengan begitu, balonnya tetap lima dan yang meletus memang salah satu dari lima balon itu.

Lagu lain yang dikupas Slamet Abdul Sjukur.

"Bangun tidur ku terus mandi. 
Tidak lupa menggosok gigi. 
Habis mandi kutolong ibu. 
Membersihkan tempat tidurku."

Apanya yang janggal? "Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu. Tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!" jawab Mas Slamet. Betul juga!

"Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya. Dia akan selalu terburu-buru."

Lagu anak balita juga dibedah Slamet Abdul Sjukur.

"Pok ame ame.. belalang kupu-kupu.. 
siang makan nasi, 
kalo malam minum susu."

"Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak-anak. Sebab, yang  disebutkan di syair lagu ini adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Anak kecil itu, karena belum bisa makan nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!"

Intermeso Mas Slamet ini kelihatan sepele, tapi penting. Bahwa membuat syair atau lirik lagu anak-anak (juga dewasa) tidak boleh sembarangan. Unsur logika, akal sehat, kewajaran, pendidikan... harus masuk. Selain, tentu saja, harus memenuhi aturan tekanan kata atau suku kata sesuai tekanan nada dalam musik.

Suku kata pertama dalam lagu dengan irama 4/4 harus tegas. Sebaliknya, suku kata kedua atau keempat tidak boleh tegas. Kalau tidak diperhatikan, maka syair dan melodi akan jalan sendiri-sendiri.

Salah satu contoh yang sering dibahas pengamat musik gerejawi adalah lagu Garuda Pancasila. Tekanan kata dan melodinya gak nyambung. Akibatnya, yang terdengar seperti ini: Garudapan... ca.. si.. la...

Sayang, sejak reformasi kita makin jarang mendengar lagu anak-anak baru di televisi. Anak-anak sekarang lebih suka membawakan lagu-lagu pop dewasa ala Peterpan atau Dewa 19 ketimbang lagu-lagu yang memang khusus diciptakan untuk usia dini.

3 comments:

  1. Membangun sesuatu tentu dari hal-hal yang paling sederhana...dari hal-hal kecil akan menjadi besar...Benar apa yg dikata mas Slamet

    ReplyDelete
  2. jarang yg mikir kalo ada kejanggalan dalam syair lagu anak2 kita. hehehe

    ReplyDelete
  3. Bagaimana dengan lagunya Ebiet G Ade yang sempat ngetop

    Perjalanan ini sungguh sangat menyedihkan, sayang engkau tak ada disampingku kawan.....

    Terasa keliru sekali bagi saya lirik diatas, akan lebih pas kalau sbb:

    Perjalan ini sungguh sangat menyedihkan, UNTUNG engkau tak ada disampingku kawan

    Atau

    Perjalanan ini sungguh sangat MENYENANGKAN, sayang engkau tak ada disampingku kawan

    Itu menurut pendapat saya, ma'af ya untuk para penggemar Ebeit, mungkin saja saya yg salah.

    ReplyDelete