10 November 2014

Era Baru Indonesia - Tiongkok

Cinta dan benci itu tipis batasnya. Orang yang paling dibenci bisa jadi suatu saat menjadi teman terbaik. Dan sebaliknya. Ungkapan lawas ini rupanya cocok untuk menggambarkan hubungan Indonesia-Tiongkok. Pagi ini, 10 November 2014, koran-koran di Surabaya memasang foto besar Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

"Tiongkok dan Indonesia itu ibarat pepatah: jauh di mata dekat di hati," ujar Presiden Xi Jinping saat menyambut Presiden Jokowi di Beijing. Jokowi tampak senyam-senyum menanggapi sambutan hangat tuan rumah itu.

Mengapa Presiden Jokowi memilih lawatan pertama ke Tiongkok? Bukan ke Malaysia, Singapura, Thailand, atau negara tetangga lain? Bisa jadi karena saat dilantik lalu, 20 Oktober 2014, para kepala pemerintahan negara-negara tetangga sudah hadir. Tapi, bagaimanapun juga, pilihan Presiden Jokowi untuk melawat pertama kali sebagai presiden RI ke Tiongkok tetap bermakna sangat strategis.

Kita tahu, selama Orde Baru, 1966-1998, Tiongkok merupakan negara komunis yang sangat dibenci pemerintahan Presiden Soeharto. Uni Sovyet juga dibenci, tapi tidak segawat Tiongkok. Sebab, Sovyet tak punya warga perantauannya di Indonesia. Beda dengan Tiongkok yang secara langsung atau tidak langsung punya ikatan darah dengan sekian juta warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.

Kita juga sudah tahu dampak kebencian ala perang dingin itu. Bahasa dan aksara Tionghoa dilarang. Nama-nama Tionghoa wajib diganti atau disesuaikan. Sekolah-sekolah Tionghoa sudah lebih dulu ditutup. Semua yang berbau Tionghoa dibredel karena dianggap punya kaitan dengan komunis Tiongkok. Padahal, kita tahu, partai komunis baru berkuasa di Zhongguo pada 1949, sementara orang Tionghoa sudah tinggal di tanah air sejak zaman Belanda. Bahkan sebelum era kolonial Belanda pun sudah ada perantau Tionghoa yang berdagang dan kemudian menyatu dengan penduduk setempat.

Syukurlah, Reformasi 1998, meski sempat memakan korban sejumlah warga Tionghoa, membawa hikmah yang luar biasa. Terjadi arus balik sejarah. Hubungan dengan Tiongkok bukan saja dipulihkan, tapi malah makin mesra. Orang Indonesia juga sangat antusias berkunjung ke kota-kota di Tiongkok.
Bulan lalu, sejumlah santri dari Sidoarjo dan Gresik berangkat ke Guangdong untuk kuliah. Sulit dibayangkan di zaman Orde Baru ada santri yang kuliah di negara mbahnya komunis ala Mao itu. Para kiai, ulama, di Jawa Timur juga sering diajak jalan-jalan ke Tiongkok. "Kita ingin tunjukkan bahwa agama Islam di Tiongkok sudah ada sejak zaman dulu," kata Liem Ouyen, pengusaha yang biasa memimpin rombongan ulama Jatim ke Tiongkok.

Diplomasi Jakarta-Beijing ala Presiden Jokowi tentu berbeda dengan Poros Jakarta-Peking (nama lama Beijing) ala Presiden Soekarno. Konteks sejarah dan politiknya sudah jauh berbeda. Tiongkok hari ini bukan Tiongkok tahun 1960-an pun yang miskin dan serba kekurangan. Tiongkok hari ini sudah menjadi negara kuat di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, bahkan pertahanan. Tiongkok menjadi salah satu aktor utama politik dunia, selain Amerika Serikat.

Semoga kemesraan yang indah antara Indonesia dan Tiongkok ini tidak cepat berlalu!

1 comment:

  1. Sejak zaman Orde Baru mayoritas penduduk Tionghoa memeluk Agama Kristen,
    sangat disayangkan mereka2 ini ( Tionghoa-Belandis ) cenderung kurang toleran, jika berhadapan dengan Tionghoa yang beragama Islam, se-olah2 berhadapan dengan manusia yang aneh.
    Kasian nasib Tionghoa Muslim yang juga dicurigai oleh kaum Bumiputera sebagai
    Muslim gadungan, dianggap hanya kedok untuk memuluskan business mereka.
    Jika Bung Hurek ada kesempatan pergi kekota Quanzhou, dijalan Tu-men, Anda akan melihat sebuah Mesjid Besar ( Al Ashab - Qingjing si ) yang didirikan pada tahun 1009. Menurut almarhumah mama-saya, daerah disekitar Tu-men-str.,
    merupakan lingkungan warga China-Muslim, tempat mama waktu belita membeli daging sapi dan kambing. Letaknya di-centrum kota Quanzhou ( Zaytun ).
    Tahun 1009 menurut sejarah Nusantara adalah zaman Kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Airlangga, disekitar Sidoarjo sekarang. Ergo; sebagian orang2 China sudah memeluk agama Islam ber-abad2 lebih dahulu daripada penduduk Nusantara.
    Kakek moyang saya zaman Belanda mendirikan delapan pabrik beras di Jawa Timur dan Bali, karena takut polusi, mesin tenaga uap, maka oleh pemerintah kolonial, pabrik2 hanya boleh didirikan dilokasi pinggiran kota, jauh dari daerah Petjinan yang biasanya berada dipusat kota. Jadi sejak lahir saya se-hari2 hanya
    berkawan dengan anak2 Bumiputera. Selama situasi damai, saya tidak pernah merasa ada perbedaan antara cina dan pribumi, para penduduk dewasa juga semuanya mengenal keluarga-saya, sebab sebagian besar dari mereka, adalah karyawan pabrik kami. Tetapi lazimnya anak2, kadang2 berkelahi, maka timbullah caci-maki, kata2 cina ! Saya tekankan tempo doeloe, tidak ada istilah tawuran atau keroyokan, kita berlaga satu lawan satu, diadu bak ayam jago, oleh teman2 pribumi yang usianya lebih tua.
    Cacian yang sering saya dengar dan melekat dikalbu sbb.: Cino muliho menyang negoro mu, mangan suket ning kono !
    Sekarang saya sudah 15 tahun Hwee-kuok, menjadi penduduk Tiongkok. Saya keliling Tiongkok, mengunjungi desa2 permukiman Hoakiao-Indonesia yang exodus pada awal tahun 1960. Pertanyaan saya pertama, setelah Selamat Siang, adalah; Koh, betulkah waktu lu pertama kali datang ke Tiongkok mangan suket ? Jawabannya selalu sama : benar, jangankan suket, dedek juga kita telan !
    Aku bilang: Koh, lu jangan bergurau, masakah dedek iso dipangan !
    Jawabnya ; mengapa gua harus berbohong kepada lu, itulah kenyataannya .
    Itu wawancara dengan engkoh2 dan tacik2 dari Jawa Timur.
    Kalau engkoh2 Hoakiao asal NTT ( Pulau Rote, Sabu, Sumba ) jawabannya lain lagi: Waduh perut-kita lapar terus, tidak ada makanan, kita malam hari selalu mencuri ubi, ketela, jagung, dll. dari kebunnya pribumi cina ! Kalau dikejar petani pribumi cina, kita lari ter-kencing2.
    Pertanyaan berikutnya: kalian menyesal hwee-kuok ?
    Dulu waktu baru datang menyesal, sekarang tidak lagi ! Lihat sekarang kemajuan
    negara Tiongkok, kita diberi rumah, diberi pension, sandang pangan cukup, kita puas lah ! Seorang engkoh dari Sumba bercerita; gua tahun lalu baru pulang dari Waingapu, bayangkan 50 tahun pulau Sumba hampir tidak ada kemajuan, sama seperti waktu gua tinggalkan tahun 1960. Yang dari Rote dan Sabu ceritanya sami mawon.
    Saya di Tiongkok kalau kumpul ngobrol dengan warga China, sering mengkritisi mereka, kalian orang China sangat egoist, sekarepe dhewe, selalu melanggar aturan, tidak mengenal Caritas, dasar OKB !
    Mereka tidak marah dikritik, hanya berdalih; ya, tidak semua China begitu !
    Betul tidak semua jelek, tetapi mayoritas harus direparasi mentalnya.
    Bung Hurek, enak ya, bisa merasakan menjadi seorang pribumi. Di Tiongkok saya merasa 100% sebagai pribumi. Dikandang kerbau menguak, dikandang kambing mengembik. Aku ning negoro cino, yo melok mereka sekarepe dhewe,
    apalagi wis tuwek rambut putih semua ubanan, tidak ada yang berani mengganggu.



    ReplyDelete