17 November 2014

Dangdut Lama vs Dangdut Baru

Pagi ini, di sebuah warung sederhana di kawasan Jembatan Suramadu belasan penggowes nongkrong. Istirahat, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Tema besarnya tentang rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagian besar menolak, ada yang setuju, dengan alasan subsidi yang salah sasaran.
"Tapi harga-harga sudah mulai naik. Kalau BBM naik beneran, harga barang naik lagi. Rakyat kecil juga yang susah," kata pesepeda asal Wonokromo. "Lha, kalau gak dinaikin, gimana negara punya uang untuk mbangun jembatan kayak Suramadu ini?" sambung yang lain.
Sementara itu, Bu Siti, pemilik warung yang asli Madura, sibuk melayani pesanan pelanggan tetapnya itu. Kopi, mi rebus, pisang goreng (yang kurang enak karena bukan pisang kepok), ada juga yang beli rokok. Rajin sepedaan, tapi juga rajin merokok. Musik dangdut lawas (lama) menghibur peserta sepeda sehat dadakan itu.
Wow, suara cempreng Ida Laila yang khas berduet dengan S Achmady. Orkes Melayu Awara era 1970-an yang sangat digemari orang-orang desa di seluruh Indonesia. Duet Ida Laila dan S Achmady ini paling banyak mencetak kaset dan hits pada masanya. Dulu, para perantau yang baru pulang dari Malaysia suka memutar lagu-lagu dangdut yang syairnya penuh dengan wejangan keagamaan itu.
Saya terkesan dengan OM Awara ini setelah berkenalan akrab dengan Bapak A Malik Bz (almarhum), pentolan OM Sinar Kemala, Surabaya, salah satu perintis musik melayu (dangdut) di Indonesia. Ida Laila dan S Achmady (asli Mojokerto) sebelumnya vokalis OM Sinar Kemala. "Mas Achmady kemudian bikin orkes sendiri. Ya, OM Awara itu," tutur Pak Malik di rumahnya, Kureksari, Waru, Sidoarjo, beberapa tahun lalu.

Begitulah. Lagu-lagu Awara pagi ini hampir semuanya mengajak manusia untuk taubat, bersembahyang, kembali ke jalan Allah. Ingat anak yatim, dan sejenisnya. "Beda banget dengan dangdut saat ini. Hampir gak ada lagi yang syairnya menyentuh kayak era Ida Laila," kata Pak Ali dari Kenjeran.
Zamannya memang sudah jauh berubah. Kalau di awal 1970-an Rhoma Irama mengaku melakukan revolusi dangdut, dengan memodifikasi orkes melayu (OM) dengan sentuhan rock, instrumentasi yang canggih, penampilan yang tak kalah dengan pop dan rock, sejak awal 2000-an pun telah terjadi revolusi dangdut gaya baru. Revolusi dangdut yang sangat jauh berbeda dari idealisme Rhoma Irama untuk menjadikan musik dangdut sebagai THE SOUND OF ISLAM. 
Syair-syair musik melayu (dangdut) sejak era OM Sinar Kemala, OM Sinar Mutiara, OM Awara, OM Kelana Ria, OM Pancaran Muda, kemudian dipertebal oleh Sonata Group Rhoma Irama yang sangat islami, kini justru sangat kontras. Musik dangdut masa kini, yang dimodifikasi jadi koplo, malah jadi musiknya kafe atau pub yang identik dengan minuman keras, wanita penghibur, bahkan narkoba. 
Kostum penyanyi-penyanyi dangdut saat ini pun terkesan mirip (maaf) wanita nakal. Tentu saja tidak semua artis dangdut sekarang seperti itu. Tapi, lihatlah kafe-kafe yang menjamur di Surabaya dan Sidoarjo. Anda tak akan pernah lagi menikmati dangdut ala Ida Laila, S Achmady, atau Rhoma Irama.
Lantas, bagaimana kinerja Rhoma Irama sebagai sesepuh dangdut? Yang selalu didapuk sebagai ketua umum PAMMI (Persatuan Artis dan Musisi Melayu Dangdut Indonesia) itu? Yang sempat berkonflik dengan Inul Daratista gara-gara goyang ngebor itu? 
Mengapa konsep the sound of Islam, dangdut sebagai musik dakwah, mengajak masyarakat untuk amar makruh nahi munkar, bisa melenceng begitu jauh seperti sekarang? Bang Rhoma Irama, ketimbang sibuk berpolitik, mencalonkan diri sebagai presiden RI, mungkin lebih baik Bang Rhoma dan seluruh jajaran dangdut di Indonesia duduk bersama untuk membenahi dunia dangdut yang makin lengket dengan dunia hitam.
Salam dangdut!

No comments:

Post a Comment