14 November 2014

Blog yang kian sepi

Blog pernah diramalkan mati tahun 2009/2010 setelah media sosial merajalela. Berkat telepon pintar (smartphone), orang bisa chatting setiap saat dengan siapa saja di FB, Twitter, dan sebagainya. Lalu lintas percakapan begitu cepat, mengalir, asyik, dan bikin ketagihan.

Dulu, blog sempat booming karena belum ada Facebook dan Twitter. Juga belum ada smartphone. Laptop pun masih belum massal seperti sekarang ini. Karena itu, pada 2004-sempat 2005 terjadi booming blog di Indonesia. Artis-artis pun seakan berlomba bikin blog.

Itu semua cerita lalu. Blog memang belum mati, tapi karakter pengunjung (pembaca) sudah jauh berbeda. Sebagian besar, 97 persen, teman-teman yang dulu rajin membaca blog saya kini sudah tidak ada kabar beritanya. Mbak penggemar kopi di Medan asyik dengan teman-temannya di FB. Mbak satunya di Swiss pun punya kesibukan baru. Yang di negara Singa pun tak ada kabarnya pula.

Yah, teman-teman lama yang dulu blogger aktif, bahkan sering berbagi cerita kiat-kiat sukses membuat blog, kini meninggalkan blogging. Blognya sih masih ada, tapi sudah mangkrak bertahun-tahun. Mas blogger paling top yang juga gurunya wartawan-wartawan se-Indonesia sudah malas posting. Belum tentu sebulan sekali ada naskah baru. Bandingkan dengan tahun 2007-2009, sehari bisa empat lima naskah.

Namun, syukurlah, blog belum mati. Pengunjungnya pun masih ada. Hanya saja, biasanya mereka diantar Pak Google ketika mencari kata kunci di mesin pencari. Setelah dapat apa yang dicari, ya, selesai. Kemudian muncul lagi orang-orang lain yang masuk ke Google, dan seterusnya.

Bulan Juli 2014 lalu, seorang pemusik, guru piano, coba-coba membuat blog. Makalah-makalah musik, seni, budaya dia posting di blogspot itu. Hasilnya? "Belum memuaskan," katanya.

Setelah empat bulan berlalu, pengunjung blognya rata-rata kurang dari 4 orang (klik). Hanya dua tulisan yang dibaca 12 orang. Yang lain cuma 2 klik, 1 klik, atau 3 klik. Maka, sang musisi itu pun kayaknya nyerah. Tak lagi memasukkan naskahnya di blog baru tersebut.

Sebagian blogger lama yang kecewa karena bolg pribadinya sepi pengunjung akhirnya memilih hijrah ke blog keroyokan macam Kompasiana, Detik, atau Tempo. Namanya juga keroyokan, semua tulisan berpeluang dibaca banyak orang. Kalau isunya hangat, panas, ala Koalisi Merah Putih vs Koalisi Indonesia Hebat biasanya langsung dibaca ratusan atau ribuan orang per hari. Anggota komunitas blog keroyokan itu pun ramai-ramai komentar dan debat.

"Tapi lama-lama kita jadi capek sendiri. Debat gak ada juntrungannya," kata seorang teman, pemain lama di dunia blogging.

Dia pun memilih kembali merawat rumah blognya yang sudah lama ditinggalkan. Menulis, menulis, menulis... meskipun dia tahu yang kebetulan nyasar ke blognya tidak sampai 10 orang. Apa pun, termasuk ngeblog, harus dilaksanakan dengan ikhlas. Tanpa pamrih.

Yah, anggap saja menulis, blogging, itu ibadah!

1 comment:

  1. Saya sempet ketawa pas baca the term "blog keroyokan"
    But yes i guess its true that its easier to get more audiences from the websites such as kompasiana and you dont really have to change the settings etc... Sorry for writing in English. Tp saya kalau nulis Indonesia kadang sering bingung nata katanya, as i havent really wrote proper Indonesian for years.....

    Keep up with your blog :). We are still following it from time to time.

    ReplyDelete