22 November 2014

Asmirandah Pindah Agama Jadi Polemik

Ully Artha Pangaribuan yang meninggal dunia di Jakarta, 16 Juni 2013, merupakan salah satu dari sedikit aktris kita yang hebat. Dia bukan bintang sinetron dadakan, tapi merintis karir dari bawah. Ditambah talentanya yang memang besar, acting Ully Artha senantiasa memukau penonton film atau televisi. Khususnya tahun 1990-an dan 1980-an.

Yang juga menarik dari Ully Artha adalah kehidupan pribadinya. Dulunya Kristen Protestan, jemaat HKBP, tapi kemudian jadi muslimah atau mualaf. Tapi mendiang ini tidak gembar-gembor bicara ke mana-mana untuk kesaksian, ceramah, testimoni, dakwah, dan sebagainya. Agama jadi urusan privatnya.

Bahkan, sebagian keluarga dekatnya pun baru tahu kalau Ully Artha ini sudah memeluk Islam setelah Ully meninggal dunia. Para artis senior, teman-teman dekat Ully, pun begitu. Oh, ternyata Ully Artha mualaf! Saya sendiri kagum dengan sikap Ully Artha yang sangat bijaksana dalam urusan keyakinan. Dia tahu mana ruang publik, mana ruang privat, mana yang perlu diumumkan, dan sebagainya.

Berbeda dengan Ully Artha, di Indonesia, selebriti-selebriti yang pindah agama, Islam ke Kristen atau sebaliknya, Buddha atau Hindu ke Islam, selalu jadi santapan publik. Diangkap di berita gosip di TV (kondang dengan istilah INFOTAINMENT, yang salah kaprah itu), kemudian dibahas secara mendalam dan sangat luas. Ditambah media sosial, internet, Youtube, dsb, artis pindah agama, jadi mualaf, jadi nasrani... begitu ramainya dibahas.

Salah satu yang paling heboh adalah pasangan pasangan artis Asmirandah dan Jonas Revanno. Jonas yang Kristen kabarnya sempat nikah secara Islam dengan Asmirandah. Belakangan Jonas jadi Kristen lagi dan membantah telah menikah si artis sinetron cakep itu. FPI dan ormas-ormas sejenis ikut nimbrung membahas persoalan ini. Ramai dan panas!

Mirip sinetron, beberapa saat kemudian, giliran Asmirandah yang pindah agama jadi Kristen. Ikut Jonas kebaktian di gereja, gabung paduan suara gereja, Asmirandah bahkan membawakan gospel song dalam kebaktian kebangunan rohani (dimuat di YouTube). Pendeta Gilbert Lumoindong bahkan memberi kesempatan kepada Asmirandah untuk memberikan kesaksian di depan jemaat gerejanya (bisa dilihat di YouTube).

Belakangan saya melihat beberapa gereja aliran Haleluya ikut memanfaatkan popularitas Asmirandah dengan mengundangnya ke KKR. Tak lupa ada iklan di surat kabar segala! Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat manuver sejumlah pendeta dan gereja yang sangat tidak bijaksana ini. Sebab, bagaimanapun juga gerak-gerik Asmirandah selalu jadi sorotan media massa dan media sosial. Sudah pasti akan muncul perang komentar yang tidak ada gunanya karena mengandung virus SARA.

Kita tidak bisa menyalahkan Asmirandah begitu saja. Dia cuma pesohor yang diundang gereja-gereja tertentu, dengan sepengetahuan Jonas, untuk keperluan marketing gereja yang bersangkut. Asmirandah hanya dimanfaatkan karena memang ada momentum. Dengan hadirnya Asmirandah, meski cuma nyanyi satu lagi dan bicara lima menit, sang pengudang berharap banyak orang yang datang ke gerejanya. Ujung-ujungnya persembahan kasih alias uang masuk jadi buanyaaak!

Sebaliknya, Asmirandah rupanya tidak paham filosofi Jawa: urip kuwi kudu bener lan pener! Apa yang mungkin benar, belum tentu tepat! Asmirandah jelas kurang bijak dan hati-hati. Di tengah polemik yang sangat tajam seputar konversi agama, kemudian pernikahannya dengan Jonas, Asmiranda bukannya cooling down, tapi speak out!

Padahal, menurut tradisi Gereja (dalam G besar), orang-orang seperti Asmirandah ini masih dalam taraf KATEKUMEN yang masih perlu mengikuti katekese. Katekese itu butuh waktu yang tidak sedikit.Sama saja dengan para mualaf yang perlu banyak waktu untuk belajar mendalami agama Islam.

Sangat aneh kalau seorang katekumen diundang ke mana-mana, dikasih panggung untuk bicara di depan orang banyak. Yang lebih aneh lagi tentu pendeta-pendeta yang sengaja memanfaatkan Asmirandah untuk testimoni di gerejanya. Sayang, di Indonesia ini tidak banyak artis yang arif bijaksana macam almarhumah Ully Artha. Yang tidak suka gembar-gembor soal konversi agamanya hingga tutup usia.

2 comments:

  1. masalah utama dlm kasus Asmirandah dan Jonas adalah undang2 di indonesia yg tidak membolehkan nikah beda agama. akibatnya, orang pura2 pindah agama, menyesuaikan agama dengan salah satu, agar bisa melaksanakan pernikahan. jadi, orang pindah agama itu umumnya agar bisa menikah. setelah itu biasanya kembali ke agama semula krn sejatinya memang gak serius.

    ReplyDelete
  2. pernikahan beda agama memang selalu jadi masalah serius sejak adanya UU Perkawinan thn 1974, krn pernikahan hanya dianggap sah jika pasangan beragama sama. pernikahan beda agama tidak dikenal di indonesia.

    ReplyDelete