19 November 2014

Artikel Gombloh sering dicontek

Lagu Kebyar-Kebyar ciptaan almarhum Gombloh masih sering dibawakan band-band anyar. Termasuk Arkana, band asal Inggris, saat syukuran pelantikan Jokowi sebagai presiden di Jakarta pada 20 Oktober 2014. Arkana ternyata bisa membawakan lagu ini dengan aksen bahasa Indonesia yang tidak bule.

Aksen vokalis Arkana, yang bule asli, menurut saya, jauh lebih Indonesia ketimbang aksen beberapa artis lokal macam Cinta Laura, Ahmad Dhani, Mulan, dan penyanyi-penyanyi binaan Republik Cinta. Begitulah dunia. Orang bule asli British, yang sejak bayi sudah pandai bahasa Inggris, berusaha keras agar membawakan syair Kebyar-Kebyar sedekat mungkin dengan ucapan orang Indonesia, sementara orang Indonesia malah ingin kedengaran kayak bule. 

Setelah melihat Arkana di televisi, menyanyi Kebyar-Kebyar, saya jadi ingat kembali almarhum Gombloh. Masuk ke Google, mengetik Kebyar-Kebyar Gombloh. Wow, ternyata Mbah Google antara lain memperlihatkan artikel di blog saya sendiri. Hehehe... Jadi ketawa membaca kembali tulisan sendiri yang dibuat pada April 2006. Sudah lama banget.

Saya juga membaca tulisan-tulisan lain tentang Gombloh di internet. Hehehe... Sebagian besar justru mencontek alias copy-paste tulisan di blog saya. Ada yang mencantumkan sumbernya, tapi lebih banyak yang tidak. Hebatnya, artikel contekan ini peringkatnya di atas artikel aslinya. Di jagat maya, internet, yang serba bebas, termasuk bebas mencuri, tidak jelas lagi mana yang asli dan mana yang palsu. 

Bahkan, artikel tentang Gombloh di Wikipedia pun merujuk ke blog ini. Tapi sumbernya justru dari laman atau blog contekan itu. Gak apa-apalah, anggap saja amal untuk menyebarluaskan nama besar Gombloh, seniman musik yang pernah menjadi motor kesenian di Kota Surabaya itu. "Kalau gak mau di-copas ya jangan nulis di internet," kata teman saya. 

Tak hanya di jagat maya. Tulisan saya tentang Gombloh ini juga diterbitkan jadi buku. Tanpa izin penulis aslinya. Seakan-akan penyusun buku itu yang wawancara, cari data, dan menulis sendiri. Hehehe... 

Saya hanya bisa ngelus dada karena begitulah kondisi perbukuan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Begitu banyak buku instan, hasil copy-paste internet, dicetak, kemudian dijual di toko buku. "Itu namanya kerja cerdas," kata teman saya. "Buat apa capek-capek menulis sendiri kalau bisa copy-paste," kata teman yang lain.

Yo wis! Biarpun matahari terbit dari barat, kau tetap Indonesiaku!

No comments:

Post a Comment