28 November 2014

Suhu Bingo Bahas Tahun Kambing 2015

Saya lihat buku Tahun Kambing 2015 sudah beredar di kios-kios di pinggir jalan Kota Surabaya. Penulisnya siapa lagi kalau bukan Suhu Bingo. Pria kelahiran Jombang itu setiap tahun selalu merilis buku fengshui dan astrologi Tionghoa tiga bulan sebelum tahun baru Imlek. Sincia atau tahun baru Imlek sendiri jatuh pada 19 Februari 2015. 

"Banyak orang yang membutuhkan buku saya. Buat panduan selama satu tahun ke depan," kata Suhu Bingo Taniwijaya. Prediksi ala Suhu Bingo selalu dalam bahasa isyarat, kiasan, sehingga maknanya bisa sangat luas. Namun, ia selalu merasa ramalannya tidak banyak meleset.

"Tahun 2014 saya sebut tahun kuda yang gonjang-ganjing. Kita sudah tahu semua apa yang sudah terjadi selama tahun 2014," kata suhu yang selalu bicara dengan suara rendah dan santai ini.

Bagaimana dengan tahun 2015? 

Selepas kuda, masuklah kita ke tahun kambing. Beda dengan tahun kuda, menurut Suhu Bingo, tahun kambing identik dengan suasana yang lebih damai, tenteram, sejuk, bisa santai dan makan-makan sepuasnya. Yang bermusuhan pelan-pelan mulai menemukan jalan damai.

Namun, Suhu Bingo mengingatkan bahwa tahun kambing 2015 tetap punya elemen kayu dan api. Sama dengan tahun kuda 2014. Kayu mudah terbakar, jadi abu jika terbakar api. Sang kambing itu membawa motivasi yang bisa baik bisa buruk. Ingat, elemen tetapnya api.

"Api akan selalu membawa bara karena berdampingan dengan kayu. Bila ada semilir angin maka timbul letupan, lalu menjadi bola-bola api," ujar Suhu Bingo yang menyebut tahun 2015 sebagai tahun bara api.

Antusiasme akan berkobar seperti api. Orang jadi semangat bekerja, cari uang, memburu kesuksesan. Tapi api semangat itu bisa membakar diri sendiri kalau ada arogansi dan karakter yang lemah. "Tahun kambing itu lebih aman, baik, membawa hoki, tapi tanpa diduga ada bola-bola api yang selalu membayangi manusia," kata sang suhu.

Begitulah wejangan Suhu Bingo menyambut Tahun Kambing Kayu. Wejangan ala Tionghoa selalu bersifat dualistis dan terkesan kontradiktif. Katanya tahun yang aman damai makmur, tapi di sisi lain ada elemen api yang gampang membakar kayu jika tidak waspada.

Intinya ya kerja kerja kerja.. Tetap eling lan waspada. Ojo dumeh!






27 November 2014

Dagelan Timnas di Piala AFF 2014

Dagelan atau lawakan itu membuat orang tertawa. Tapi dagelan tim nasional sepak bola di Piala AFF 2014 ini justru membuat kita sedih. Geleng-geleng kepala. Aneh bin ajaib!

Bagaimana mungkin pemain-pemain bola terbaik Indonesia, timnas senior, begitu konyol saat melawan Filipina? Kalah 4 gol tanpa balas sih biasa. Tapi melihat gol ketiga itu, penonton televisi pasti sulit mengerti. Apakah pemain-pemain timnas tidak paham aturan, law of the game yang dikeluarkan FIFA? Atau, sengaja bikin dagelan di lapangan?

Dagelan konyol itu adalah backpass. Semua pemain bola, bahkan orang awam yang biasa nonton bola, pasti tahu bahwa bola yang dioper teman sendiri haram ditangkap kiper. Penjaga gawang tidak boleh menyentuh bola backpass dengan tangan. Silakan pakai kaki, kepala, badan, bokong, atau bagian tubuh mana saja asalkan bukan tangan.

Lha, kok Kurnia Meiga, kiper timnas asli Arek Malang (Arema) malah menangkap bola backpass. Sudah bertahun-tahun saya menonton Liga Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Piala Dunia, Piala Eropa... juga Liga Indonesia di televisi. Dari ratusan pertandingan ini belum pernah terjadi kasus kiper konyol menangkap bola backpass! Dan baru kali inilah saya melihat kiper timnas Indonesia, nomor punggung 1, membuat kekonyolan itu.

Lebih konyol lagi, ketika hukuman tendangan bebas dilakukan di dalam kotak penalti, pemain-pemain bukannya membuat pagar betis, menutup gawang, malah bengong. Lucunya lagi, si kiper keluar dari gawang, berada di dekat bola, dan memunggungi penendang dari Filipina. Gawang dibiarkan kosong melompong.

Ya, jelas saja bola masuk dengan mulus. Ini hakikatnya sama dengan own goal, sengaja bikin gol bunuh diri, tapi secara halus. "Kelihatan sekali kalau pemain Indonesia itu bodoh-bodoh. Tidak tahu law of the game," kata Jimmy Napitupulu, mantan wasit FIFA asal Indonesia.

Proses terjadinya gol pertama dari titik penalti pun berbau dagelan. Lucu tapi bikin kita jenggel. Bola yang sangat aman, jauh dari gawang, dekat garis pinggir lapangan, malah diarahkan ke tengah. Ke area yang dekat penyerang Filipina. Jelas saja bola itu diserobot sehingga pemain belakang timnas keteran. Jelas penalti dan gol!

Petang itu Indonesia kalah segalanya. Fisik, teknik, semangat... semuanya. Cara bermain Indonesia yang tanpa gairah, konyol, memberi banyak umpan untuk lawan kok mirip banget sepak bola gajah.

Jangan-jangan....
Jangan-jangan...
Jangan-jangan...

KULIAH UMUM MENTERI SUSI

Kemarin, 26 November 2014, Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan, berkunjung ke Sidoarjo. Memberi kuliah umum di kampus Akademi Perikanan Sidoarjo (APS). Pesona Bu Susi yang nyentrik, out of the box, membuat 600-an mahasiswa yang berasal dari semua provinsi di Indonesia itu sangat antusias.

Kuliah umum jadi ajang Bu Susi berbagi pengalaman memulai bisnis jualan ikan di Jawa Barat hingga sukses jadi pengusaha kaya raya. Jadi bos Susi Air, punya puluhan pesawat, dengan pilot-pilot bule.

"Kalian tahu saya tidak lulus SMA. Tapi jangan ditiru lho. Kunci
sukses itu disiplin, kerja keras, dan kerja ekstra," ujar bu menteri
dengan suara khasnya yang berat.

Disiplin! Gampang diucapkan tapi susah dilaksanakan secara konsisten oleh orang Indonesia. Mungkin disiplin itu bukan budaya kita, katanya. Orang Indonesia umumnya antusias saat mulai tapi melempem kalau sudah jalan. Hilang semangat. Karena itu, ia meminta mahasiswa APS untuk selalu disiplin dan kerja keras.

Laut kita begitu luasnya, dari Aceh sampai Papua. Tapi perikanan kita kalah jauh sama Jepang dan Thailand. Bu menteri menantang mahasiswa perikanan ini untuk kreatif menggali potensi, harta kekayaan alam, yang menumpuk di laut kita. Ikan-ikan kita maah dicuri kapal-kapal asing.

Kuliah umum bersama Menteri Susi begitu menarik dan hidup. Anak-anak muda menyimak kata-kata bu menteri yang hanya berijazah SMP tapi sukses luar biasa itu. Masa, kalian yang nanti jadi sarjana perikanan dan kelautan nggak bisa! Harus bisa dong!

Hidup Menteri Susi!

Yasluck Hasan Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Berpulang

Setelah lengser sebagai anggota DPRD Sidoarjo, Yasluck Hasan seperti menghilang dari dunia politik dan kesenian. Tapi sebetulnya ketua Dewan Kesenian Sidoarjo tetap aktif bersilaturahim dengan para seniman di Kabupaten Sidoarjo. Sekadar ngobrol santai, diskusi, atau membahas berbagai perkembangan sosial, politik, dan seni budaya di Kota Delta.

Mas Yasluck ini lincah, ceria, hingga tak banyak yang tahu kalau dia sebetulnya punya penyakit dalam: komplikasi liver dan ginjal. Karena itu, saya terkejut mendapat informasi bahwa Yasluck Hasan, yang juga politisi PAN, berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Selamat jalan Mas Yasluck! Semoga amal ibadah sampeyan diterima Allah SWT!

Berbeda dengan sebagian besar seniman yang pergaulannya terbatas di lingkungan seni budaya, Mas Yasluck Hasan bisa masuk ke kalangan mana saja. Bisa berkomunikasi dengan enak dengan petani, nelayan, buruh, politisi, birokrat, hingga bupati dan wakil bupati. Kemampuan inilah yang membuat dia terpilih sebagai anggota DPRD Sidoarjo 2009-2014.

Posisi di parlemen ini membuat Yasluck sangat diharapkan para seniman, khususnya pengurus dewan kesenian, untuk mengegolkan rencana lama: mewujudkan sebuah gedung kesenian yang representatif di Sidoarjo. Aneh, kota tetangga Sidoarjo yang berambisi jadi kota festival tak punya gedung kesenian! Yasluck secara konsisten ikut memperjuangkan pembangunan gedung itu.

Tidak mudah. Dia dijegal banyak anggota dewan lain yang menganggap gedung kesenian bukan kebutuhan rakyat yang mendesak di Sidoarjo. Rencana lama yang dijadikan Bupati Saiful Ilah sebagai salah satu programnya ini sempat terkatung-katung. Alhamdulillah, tahun ini, gedung kesenian itu sedang dibangun. Tahun 2015 diharapkan sudah selesai. Lokasinya di lingkar timur, dekat ruang terbuka hijau atau Taman Tandjoeng Puri.

Yasluck Hasan pun lega karena tak lagi ditagih gedung kesenian oleh para seniman Sidoarjo. Dia pun lengser, kembali ke masyarakat, komunitas seniman, dengan kepala tegak. Tapi Tuhan punya rencana lain. Di saat gedung kesenian sedang dibangun, diharapkan jadi salah satu gedung kesenian terbaik di Jawa Timur, Yasluck Hasan tutup usia.

Kita kehilangan seorang penggiat kesenian cum politisi yang tak hanya bicara, tapi tahu strategi untuk mewujudkan cita-cita para seniman di Kabupaten Sidoarjo. Kelak, ketika gedung kesenian itu berdiri megah dan digunakan untuk pertunjukan kesenian dan aktivitas berbagai komunitas di Sidoarjo, kita akan selalu mengenang almarhum Yasluck Hasan.

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un!

23 November 2014

Jejak Sekolah Tionghoa di Sepanjang Sidoarjo



Tak banyak orang yang tahu kalau dulu di kawasan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, ada sekolah Tionghoa dan kompleks kelenteng yang megah. Zhonghua Xuexie, nama sekolah setingkat SD itu, akhirnya ditutup rezim Orde Baru (Orba) selepas peristiwa Gerakan 30 September 1965.

"Sekolah Tionghoa Sepanjang itu sekarang jadi SMP Muhammadiyah 2 Taman. Kelentengnya juga ada di situ," tutur Lie Tjin Sam, salah satu alumnus Sekolah Tionghoa Sepanjang, Sidoarjo. Pria 77 tahun ini kemudian memperlihatkan foto para siswa Sekolah Tionghoa Sepanjang berpose di depan kompleks sekolah pada 6 Desember 1951.

Seperti sekolah-sekolah Tionghoa yang lain, menurut Tjin Sam, Zhonghua Xuexie didirikan oleh perhimpunan warga Tionghoa untuk menampung anak-anak Tionghoa. Sebab, saat itu sebagian besar warga Tionghoa di Indonesia belum menjadi warga negara Indonesia. Meski tinggal di seberang lautan, mereka masih dianggap warga negara Tiongkok. Karena itu, anak-anak Tionghoa tidak mungkin bersekolah di sekolah umum atau nasional.

"Tapi, yang menarik, di Sekolah Tionghoa Sepanjang ini ada anak Jawa. Saya tahu anak itu meskipun dia di kelas lain," kata pria peranakan Tionghoa-Bali yang kini lebih dikenal dengan nama Samsu Arliyanto itu.

Sistem pendidikannya, menurut dia, kombinasi antara kurikulum di Tiongkok daratan dan pendidikan Indonesia. Bahasa Mandarin tetap menjadi bahasa pengantar utama. Bahasa Indonesia, sejarah Indonesia, maupun adat istiadat Indonesia pun tidak ketinggalan.

"Di kelas empat ada pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sangat disiplin sehingga teman-teman bisa menguasai bahasa Inggris dengan cepat," ujarnya. Tjin Sam sendiri fasih beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin.

Menurut Tjin Sam, hubungan antara warga Tionghoa dan pribumi di kawasan Sepanjang, Taman, dan sekitarnya pada era 1950-an dan 1960-an itu sangat baik. Warga Tionghoa mencari nafkah dengan membuka toko di sepanjang jalan raya, pasar, hingga di dalam gang.

Tjin Sam ketika muda suka blusukan ke mana-mana dengan kamera andalannya. Karena itulah, pria yang juga penasihat komunitas motor tua ini punya begitu banyak koleksi suasana Kecamatan Taman, Sidoarjo, tempo doeloe.

22 November 2014

Domba di Kanan, Kambing di Kiri

Tak terasa, umat kristiani, khususnya Katolik, telah sampai di akhir tahun liturgi. Hari Minggu 23 November 2014 merupakan minggu ke-34 dalam kalender liturgi. Artinya, Minggu depan, 30 November 2014, mulai masuk Minggu Advent I. Masa persiapan untuk menyambut Natal.

Anak-anak kecil di pelosok NTT, yang mayoritas Katolik, setidaknya zaman dulu selalu bergidik mendengar cerita dari guru SD tentang kambing dan domba. Witi (kambing) dan luba (domba). Binatang peliharaan yang (dulu) hampir dipunyai semua orang kampung di Flores Timur dan Lembata.

Bapak guru membacakan Injil Matius 25:31-46 tentang pengadilan terakhir. Cerita bagaimana Anak Manusia memisahkan umat manusia dalam dua bagian: kambing dan domba. Kambing di sebelah kiri, domba di sebelah kanan. Orang-orang baik itu disimbolkan dengan domba (kanan), yang buruk masuk golongan kambing (kiri).

Mengapa justru domba yang baik? Kambing kok dianggap jelek? Begitu biasanya anak-anak kampung bertanya. Bukan apa-apa. Di daerah Flores Timur kambing justru jauh lebih penting untuk ternak adat, disembelih untuk perayaan-perayaan adat Lamaholot, sementara domba tidak bisa dipakai. Maka, jarang sekali orang memelihara domba.

Pak guru biasanya bingung karena memang cerita di kitab suci memang demikian. Toh cuma ilustrasi saja. Selanjutnya, sang raja itu dengan suara yang sangat berwibawa bersabda kepada orang-orang di sebelah kanan (domba):

"Come, you who are blessed by my Father. Inherit the kingdom prepared for you from the foundation of the world. For I was hungry and you gave me food, I was thirsty and you gave me drink, a stranger and you welcomed me, naked and you clothed me, ill and you cared for me, in prison and you visited me."

Orang-orang di sebelah kanan itu, yang akan dimasukkan di kerajaan yang berlimpah susu dan madu heran. Kapan kami melihat engkau lapar dan memberi engkau makan? Haus dan kami memberi minum? Engkau orang asing dan kami beri tumpangan? Telanjang dan kami beri pakaian?


And the king will say to them in reply, "I say to you, whatever you did for one of these least brothers of mine, you did for me."

Kata-kata dan ganjaran sebaliknya dikenakan untuk manusia-manusia di sebelah kiri (kambing). Cerita yang sangat menggetarkan untuk anak-anak desa yang masih polos dan kurang pengetahuan. Siapa yang tidak takut dijebloskan ke api neraka?

Belakangan, saya mengenal beberapa orang di Surabaya dan Sidoarjo, yang melaksanakan pesan Anak Manusia itu nyaris secara harfiah. Misalnya, Ibu Lanny di Surabaya dan Mas Agus di Sidoarjo. Kedua aktivis gereja itu sama-sama punya program rutin mengunjungi narapidana dan tahanan di Rutan Medaeng, Lapas Sidoarjo, Lapas Porong, Lapas Malang, Lapas Pamekasan, dan beberapa penjara di kota lain.

Program mengunjungi tahanan di penjara itu dilaksanakan secara rutin selama bertahun-tahun. Sisihkan waktu, uang untuk beli makanan, minuman, oleh-oleh untuk warga binaan, menghadapi birokrasi penjara, dan banyak pengorbanan lainnya. Namun, Bu Lanny dan Mas Agus ini (sekadar menyebut dua contoh nyata) menghadapi dengan senyum.

"Ketika aku di dalam penjara... kamu tidak mengunjungi aku. Ketika aku lapar... kamu tidak memberi aku makan. Ketika aku telanjang... kamu tidak memberi aku pakaian."

Asmirandah Pindah Agama Jadi Polemik

Ully Artha Pangaribuan yang meninggal dunia di Jakarta, 16 Juni 2013, merupakan salah satu dari sedikit aktris kita yang hebat. Dia bukan bintang sinetron dadakan, tapi merintis karir dari bawah. Ditambah talentanya yang memang besar, acting Ully Artha senantiasa memukau penonton film atau televisi. Khususnya tahun 1990-an dan 1980-an.

Yang juga menarik dari Ully Artha adalah kehidupan pribadinya. Dulunya Kristen Protestan, jemaat HKBP, tapi kemudian jadi muslimah atau mualaf. Tapi mendiang ini tidak gembar-gembor bicara ke mana-mana untuk kesaksian, ceramah, testimoni, dakwah, dan sebagainya. Agama jadi urusan privatnya.

Bahkan, sebagian keluarga dekatnya pun baru tahu kalau Ully Artha ini sudah memeluk Islam setelah Ully meninggal dunia. Para artis senior, teman-teman dekat Ully, pun begitu. Oh, ternyata Ully Artha mualaf! Saya sendiri kagum dengan sikap Ully Artha yang sangat bijaksana dalam urusan keyakinan. Dia tahu mana ruang publik, mana ruang privat, mana yang perlu diumumkan, dan sebagainya.

Berbeda dengan Ully Artha, di Indonesia, selebriti-selebriti yang pindah agama, Islam ke Kristen atau sebaliknya, Buddha atau Hindu ke Islam, selalu jadi santapan publik. Diangkap di berita gosip di TV (kondang dengan istilah INFOTAINMENT, yang salah kaprah itu), kemudian dibahas secara mendalam dan sangat luas. Ditambah media sosial, internet, Youtube, dsb, artis pindah agama, jadi mualaf, jadi nasrani... begitu ramainya dibahas.

Salah satu yang paling heboh adalah pasangan pasangan artis Asmirandah dan Jonas Revanno. Jonas yang Kristen kabarnya sempat nikah secara Islam dengan Asmirandah. Belakangan Jonas jadi Kristen lagi dan membantah telah menikah si artis sinetron cakep itu. FPI dan ormas-ormas sejenis ikut nimbrung membahas persoalan ini. Ramai dan panas!

Mirip sinetron, beberapa saat kemudian, giliran Asmirandah yang pindah agama jadi Kristen. Ikut Jonas kebaktian di gereja, gabung paduan suara gereja, Asmirandah bahkan membawakan gospel song dalam kebaktian kebangunan rohani (dimuat di YouTube). Pendeta Gilbert Lumoindong bahkan memberi kesempatan kepada Asmirandah untuk memberikan kesaksian di depan jemaat gerejanya (bisa dilihat di YouTube).

Belakangan saya melihat beberapa gereja aliran Haleluya ikut memanfaatkan popularitas Asmirandah dengan mengundangnya ke KKR. Tak lupa ada iklan di surat kabar segala! Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat manuver sejumlah pendeta dan gereja yang sangat tidak bijaksana ini. Sebab, bagaimanapun juga gerak-gerik Asmirandah selalu jadi sorotan media massa dan media sosial. Sudah pasti akan muncul perang komentar yang tidak ada gunanya karena mengandung virus SARA.

Kita tidak bisa menyalahkan Asmirandah begitu saja. Dia cuma pesohor yang diundang gereja-gereja tertentu, dengan sepengetahuan Jonas, untuk keperluan marketing gereja yang bersangkut. Asmirandah hanya dimanfaatkan karena memang ada momentum. Dengan hadirnya Asmirandah, meski cuma nyanyi satu lagi dan bicara lima menit, sang pengudang berharap banyak orang yang datang ke gerejanya. Ujung-ujungnya persembahan kasih alias uang masuk jadi buanyaaak!

Sebaliknya, Asmirandah rupanya tidak paham filosofi Jawa: urip kuwi kudu bener lan pener! Apa yang mungkin benar, belum tentu tepat! Asmirandah jelas kurang bijak dan hati-hati. Di tengah polemik yang sangat tajam seputar konversi agama, kemudian pernikahannya dengan Jonas, Asmiranda bukannya cooling down, tapi speak out!

Padahal, menurut tradisi Gereja (dalam G besar), orang-orang seperti Asmirandah ini masih dalam taraf KATEKUMEN yang masih perlu mengikuti katekese. Katekese itu butuh waktu yang tidak sedikit.Sama saja dengan para mualaf yang perlu banyak waktu untuk belajar mendalami agama Islam.

Sangat aneh kalau seorang katekumen diundang ke mana-mana, dikasih panggung untuk bicara di depan orang banyak. Yang lebih aneh lagi tentu pendeta-pendeta yang sengaja memanfaatkan Asmirandah untuk testimoni di gerejanya. Sayang, di Indonesia ini tidak banyak artis yang arif bijaksana macam almarhumah Ully Artha. Yang tidak suka gembar-gembor soal konversi agamanya hingga tutup usia.

21 November 2014

Akhirnya, hujan turun lagi

Musim kemarau tahun 2014 ini teriknya luar biasa. Surabaya dari dulu dikenal sebagai kota yang panas, sumuk, dengan debu-debu ramai beterbangan. Tapi tahun ini panasnya minta ampun.

Oktober yang zaman dulu menjadi awal musim hujan justru menjadi puncak kepanasan di Surabaya dan sekitarnya. Tanaman-tanaman mati kekeringan. Ternak pun kekurangan air. Warga Buncitan, Sedati, terpaksa membeli air jerikenan karena sumur mengering.

"Semua tanaman penghijauan mati," kata Syaiful, pemelihara Candi Tawangalun di Buncitan, Sedati. Kebakaran pun sempat menimpa padang rumput seluas belasan hektare di kawasan tambak itu.

Lalu, kapan mulai musim hujan? Pertanyaan klasik ini sering ditanyakan wartawan kepada petugas BMKG Juanda di Sedati, Sidoarjo. Dan, seperti biasa, jawaban dan penjelasan BMKG tidak jelas. Itu memang bukan salah BMKG, tapi iklim dunia yang sudah tidak teratur lagi. Sulit diramal seperti sebelum tahun 2000an.

Lha, ramalan BMKG itu lebih sering meleset! Bumi makin tua, makin tandus, makin penuh, makin polutif, sehingga climate change benar-benar menimpa umat manusia. Maka, umat manusia perlu sama-sama action untuk menyelamatkan bumi yang sama ini.

Syukurlah, masih dalam suasana hari pahlawan, Surabaya dan sekitarnya mulai mendung. Tapi gak hujan-hujan. Sementara di televisi kita melihat beberapa daerah malah sudah kebanjiran. Ada foto sebuah kampung di Jakarta yang tenggelam gara-gara banjir dahsyat. Lalu kapan Surabaya dikirimi hujan sama yang empunya alam semesta?

Sabtu 15 November 2014, ketika hendak menonton konser Ari Lasso dan Ahmad Dhani bertajuk Simfoni untuk Negeri, tiba-tiba turun hujan. Belum deras tapi lumayan untuk melarutkan debu-debu yang beterbangan selama enam bulan terakhir. Berhenti sejenak, lalu turun hujan yang lebih deras.

Alhamdulillah! Meskipun tak jadi nonton Ari Lasso, saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Puas! Akhirnya, Surabaya kebagian jatah hujan dari sang Pencipta.

Musim hujan sudah tiba? Belum tentu juga. Kayaknya baru pemanasan menjelang musim hujan yang sebenarnya. Saat yang tepat untuk bersiap diri agar tidak kelelep selama seminggu seperti yang dialami warga Bangah, Sawotratap, Gedangan, Waru, dan Taman di Kabupaten Sidoarjo bagian utara beberapa waktu lalu.

20 November 2014

Pendeta Meninggal, Gereja Ikut Mati

Gereja di pinggir jalan raya di kawasan Surabaya Selatan itu kini berubah menjadi bangunan mangkrak. Kusam. Tak ada lagi kesibukan jemaat, khususnya anak-anak muda, yang dulu rajin bikin macam-macam kegiatan. Tak ada lagi bursa barang murah untuk warga kurang mampu. Tak ada lagi tanda-tanda kalau bangunan itu bekas gereja. Kecuali logo 4 huruf kapital yang masih tersisa.

Yah, sejak ditinggal mati pendetanya, HS, gereja aliran pentakosta-karismatik itu rupanya cuma tinggal nama. Ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Bahkan, belum sempat jadi bunga. "Jemaatnya sudah ikut gereja lain. Sudah nggak ada kegiatan di sini," ujar seorang ibu yang bisnis cuci pakaian di samping eks gereja itu.

Sang gembala, HS, meninggal dalam usia yang masih relatif muda, 40-an tahun. Anak-anaknya pun masih kecil sehingga sulit diharap meneruskan jejak ayahnya sebagai pendeta. Dan, kalaupun anak-anak HS sudah dewasa pun, belum tentu ada yang terpanggil menjadi pendeta. Sebab, orang Kristen percaya bahwa pendeta atau pastor itu panggilan Tuhan, bukan profesi atau pekerjaan biasa.

Sayang, gereja yang sempat terkenal ini, dulu sering masuk koran, meski tidak apa-apanya dibandingkan Bethany atau Mawar Sharon, mati muda. Tenggelam bersama gembalanya yang dipanggil Sang Pencipta. "Mengapa nggak dilanjutkan? Sayang, bangunan gereja sampai telantar seperti ini," kata saya kepada ibu laundry itu.

"Mau bagaimana lagi? Memang jalannya sudah seperti itu. Kita serahkan saja kepada Tuhan," ujar sang ibu yang ramah itu.

Saya pun segera meninggalkan halaman bekas gereja itu. Di tengah perjalanan ke Sidoarjo, saya pun merenung. Seandainya gereja ini GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) atau GKI (Gereja Kristen Indonesia) atau GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), gereja ini tak akan mati. Sang gembala, pendeta, boleh tiada, tapi sinode atau organisasi gerejawi jalan terus. Bahkan, ketika sang pendeta sakit keras, otomatis pihak sinode otomatis mengirim pendeta-pendeta lain untuk melayani jemaat.

Tapi yang ini bukan gereja ala GKJW atau GKI, apalagi Katolik. Ini gereja pribadi yang dimodali sendiri oleh sang pendeta yang meninggal dunia itu. Dia jadi majikan atas dirinya sendiri. Tak punya atasan. Jemaatnya pun dia cari sendiri dengan berbagai teknik marketing dan persuasi. Maka, ketika sang pendeta tidak bisa aktif karena sakit keras, gereja ini sebenarnya sudah lumpuh. Yang namanya kebaktian, ibadah raya, dan sebagainya sudah tak ada lagi.

Syukurlah, para domba gereja-gereja macam ini pun sangat luwes.Mereka bisa dengan enteng pindah ke gereja lain kapan saja dia mau. Dan gereja-gereja macam ini sedang booming di kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Biasanya mereka ngontrak ruko untuk dijadikan gereja dalam jangka pendek. Habis kontrak bisa diperpanjang atau pindah ke ruko lain. Kebetulan Pendeta HS ini memilih membeli (atau menyewa) bangunan di pinggir jalan raya untuk merintis gerejanya.

Begitu banyak hikmah yang saya petik dari kasus gereja mangkrak ini. Tapi kurang elok rasanya kalau ditulis di sini karena pasti akan menyinggung perasaan jemaat gereja-gereja aliran itu. Teologi sukses itu ternyata tidak selamanya sukses!

Haleluyaaaaa!!!!

19 November 2014

Artikel Gombloh sering dicontek

Lagu Kebyar-Kebyar ciptaan almarhum Gombloh masih sering dibawakan band-band anyar. Termasuk Arkana, band asal Inggris, saat syukuran pelantikan Jokowi sebagai presiden di Jakarta pada 20 Oktober 2014. Arkana ternyata bisa membawakan lagu ini dengan aksen bahasa Indonesia yang tidak bule.

Aksen vokalis Arkana, yang bule asli, menurut saya, jauh lebih Indonesia ketimbang aksen beberapa artis lokal macam Cinta Laura, Ahmad Dhani, Mulan, dan penyanyi-penyanyi binaan Republik Cinta. Begitulah dunia. Orang bule asli British, yang sejak bayi sudah pandai bahasa Inggris, berusaha keras agar membawakan syair Kebyar-Kebyar sedekat mungkin dengan ucapan orang Indonesia, sementara orang Indonesia malah ingin kedengaran kayak bule. 

Setelah melihat Arkana di televisi, menyanyi Kebyar-Kebyar, saya jadi ingat kembali almarhum Gombloh. Masuk ke Google, mengetik Kebyar-Kebyar Gombloh. Wow, ternyata Mbah Google antara lain memperlihatkan artikel di blog saya sendiri. Hehehe... Jadi ketawa membaca kembali tulisan sendiri yang dibuat pada April 2006. Sudah lama banget.

Saya juga membaca tulisan-tulisan lain tentang Gombloh di internet. Hehehe... Sebagian besar justru mencontek alias copy-paste tulisan di blog saya. Ada yang mencantumkan sumbernya, tapi lebih banyak yang tidak. Hebatnya, artikel contekan ini peringkatnya di atas artikel aslinya. Di jagat maya, internet, yang serba bebas, termasuk bebas mencuri, tidak jelas lagi mana yang asli dan mana yang palsu. 

Bahkan, artikel tentang Gombloh di Wikipedia pun merujuk ke blog ini. Tapi sumbernya justru dari laman atau blog contekan itu. Gak apa-apalah, anggap saja amal untuk menyebarluaskan nama besar Gombloh, seniman musik yang pernah menjadi motor kesenian di Kota Surabaya itu. "Kalau gak mau di-copas ya jangan nulis di internet," kata teman saya. 

Tak hanya di jagat maya. Tulisan saya tentang Gombloh ini juga diterbitkan jadi buku. Tanpa izin penulis aslinya. Seakan-akan penyusun buku itu yang wawancara, cari data, dan menulis sendiri. Hehehe... 

Saya hanya bisa ngelus dada karena begitulah kondisi perbukuan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Begitu banyak buku instan, hasil copy-paste internet, dicetak, kemudian dijual di toko buku. "Itu namanya kerja cerdas," kata teman saya. "Buat apa capek-capek menulis sendiri kalau bisa copy-paste," kata teman yang lain.

Yo wis! Biarpun matahari terbit dari barat, kau tetap Indonesiaku!

JK tidak pro angkutan publik

Miris membaca pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla di koran pagi ini. JK enteng saja menanggapi aksi mogok massal Organda merespon kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan harga bensin dan solar memang membuat pengusaha angkutan publik yang tergabung dalam Organda menjerit. Mereka menganggap pemerintah tidak pro transportasi massal.

Di koran, JK bilang begini: "... angkutan darat sudah tidak diminati penumpang. Sekarang banyak orang yang sudah memiliki kendaraan pribadi."

Faktanya memang begitu. Sudah lama sekali angkutan publik merana di Indonesia. Jangankan di Jawa, di pelosok NTT sekalipun angkutan umum tidak diminati. Orang lebih suka naik sepeda motor. Atau, naik ojek motor ke mana-mana. Beda dengan tahun 1980-an dan 1990-an yang sangat marak angkutan umum meskipun sangat sederhana. Kondisi di Jawa jauh lebih parah. Sebagian besar keluarga punya motor atau mobil.

Tapi, sebagai wakil presiden, JK mestinya tidak bicara njeplak seperti ini. Tokoh yang paling getol mencabut subsidi BBM ini seharusnya bikin kebijakan untuk memperbaiki kondisi angkutan publik yang sangat buruk itu. Bagaimana membuat puluhan juta pengguna kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan massal. Termasuk bus-bus umum yang dikelola Organda.

Pernyataan JK, yang sebelumnya sudah jadi wapres pendamping Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jelas tidak sejalan dengan program pemerintah-pemerintah daerah untuk membenahi angkutan massal. Pemkot Surabaya lagi getol memperbaiki angkutan massal. DKI Jakarta bahkan lebih dulu maju dengan bus Transjakarta.

Bahkan, Ahok sejak lama berencana makin mempersulit ruang gerak pengguna mobil dan motor. Tujuannya, jutaan pengguna kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan massal. Jika jutaan pengguna kendaraan pribadi ramai-ramai naik kendaraan publik, bisa dibayangkan penghematan BBM di negara ini.

Sayang, Pak JK terkesan meremehkan Organda yang sudah lama membantu pemerintah untuk menyelenggarakan transportasi publik. JK malah terkesan lebih pro kendaraan pribadi yang bikin jalan macet dan telah membuat konsumsi BBM kita tidak karuan itu.

Semoga saja koran-koran salah kutip omongan JK!

18 November 2014

Turunkan Tarif Angkutan Umum

Pengurangan subsidi, atau bahasa Presiden Jokowi 'pengalihan subsidi' bahan bakar minyak (BBM), sudah bisa diterima sebagian masyarakat. Kecuali ahli-ahli ekonomi mazhab Kwik Kian Gie yang sejak dulu mempertanyakan definisi subsidi BBM. Karena itu, kenaikan harga BBM sejak 18 November 2014 tidak menimbulkan reaksi yang sangat keras di masyarakat. 
Bahkan, sebagian warga menyalahkan Presiden SBY yang enggan menaikkan harga BBM meski anggaran negara sedang parah. SBY tak mau ambil risiko, memang bukan tipe risk taker, dan memilih bermain aman. Biarlah presiden baru, Jokowi, yang memutuskan. Biarlah Jokowi yang dimaki-maki rakyat dengan "salam gigit jari".
Yang jadi masalah, dan sejak dulu kurang dipikirkan pemerintah, adalah subsidi BBM untuk kendaraan umum seperti angkot, bus kota, bus antarkota, kereta api, dan sebagainya. Setahu saya tidak ada subsidi khusus untuk angkutan publik. Angkot dan bus publik harus membeli bensin/solar dengan harga yang sama dengan kendaraan-kendaraan pribadi. "Mana patut lah?" kata orang Malaysia.
Karena tidak ada subsidi BBM untuk kendaraan umum, ya, otomatis tarif angkutan umum segera naik sesaat setelah BBM dinaikkan. Akibatnya, rakyat kecil juga yang menjerit karena duitnya tergerus banyak untuk transportasi. Kalau setiap hari harus ganti angkot tiga atau lima kali, betapa bebannya rakyat yang tidak punya kendaraan pribadi.
Dalam sebuah diskusi ala warung kopi, saya pernah mengusulkan agar harga BBM untuk kendaraan-kendaraan umum justru harus diturunkan. Jangan disamakan dengan kendaraan pribadi. Kalau sepeda motor atau mobil pribadi membeli bensin Rp 8500, mestinya kendaraan umum cukup Rp 5000 saja. Disubsidi pemerintah. 
Teknisnya bagaimana, silakan pemerintah menemukan solusi yang efektif. Bukankah pemerintah punya jutaan ahli? Memang akan ada masalah mafia-mafia minyak di lapangan. Tapi membiarkan kendaraan umum minum bensin/solar yang sama dengan kendaraan pribadi, mana patut? Tarif kendaraan-kendaraan umum harus diturunkan, entah bagaimana caranya, agar tingkat kepemilikan kendaraan pribadi semakin berkurang.
Sangat lucu kalau pemerintah, khususnya DKI Jakarta, getol meminta rakyat beralih ke angkutan publik yang jauh lebih mahal dan tidak nyaman dibandingkan kendaraan pribadi. Lha, wong pemerintahnya saja tidak pernah naik angkot, bus kota, bagaimana bisa merasakan penderitaan rakyat jelata? 

Si Kaya pun Antre di Pom Bensin

Seperti biasa, setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), antrean panjang terlihat di semua pom bensin. SPBU-SPBU di Sidoarjo dan Surabaya dijaga ketat oleh polisi. Malam itu, Senin 17 November 2014, pengguna jalan raya Sidoarjo-Surabaya terjebak kemacetan gara-gara antrean panjang para pemburu bensin/solar harga lama.
"Lumayan, selisih Rp 2000 itu cukup besar lho. Kalau beli lima liter kan bisa irit Rp 10 ribu," ujar Mas Tommy yang ikut antre di Buduran. Saya tak ikut antre karena sorenya sudah isi penuh di kawasan Jemursari. Gak nyangka kalau malamnya ada keputusan cepat dari Mr Jokowi.
Yang bikin jengkel, antrean di SPBU yang mengular ke jalan raya itu, seperti syair lagu, sambung menyambung menjadi satu. Sebab, jarak SPBU di jalan raya Sidoarjo-Surabaya ini sangat dekat satu sama lain. Dari Jenggolo, Sidoarjo Kota, ke Wonokromo, Surabaya, ada 6 SPBU di pinggir jalan. Yakni Buduran, Puri Surya Jaya, Aloha, Waru, dan Ahmad Yani (Surabaya). Maka, begitu keluar dari SPBU Buduran, kita langsung disambut ekor antrean kendaraan dari SPBU Gedangan (Puri Surya Jaya).
Yang bikin saya geleng-geleng kepala, dari dulu, adalah banyaknya mobil pribadi yang ikut antre bensin harga lama Rp 6500. Padahal, para pemilik mobil diasumsikan punya duit lebih sehingga bisa membeli bensin/solar nonsubsidi. Ini juga sekali lagi memperlihatkan bahwa subsidi BBM di Indonesia itu salah sasaran. Sebab, yang paling banyak dapat subsidi itu orang-orang kaya yang punya mobil itu. 
Yah, begitulah kalau orang sudah ketagihan subsidi minyak selama bertahun-tahun. Mudah-mudahan saja para pemilik mobil pribadi ini tidak ikut antre raskin (beras miskin) atau nasi bungkus baksos (bakti sosial).
Anehnya, saat cangkrukan di warung kopi, yang paling keras mengecam kenaikan harga BBM, dus pengurangan subsidi, justru seorang bapak yang bermobil. Dia mengeluh karena biaya BBM untuk kendaraan pribadinya nanti membengkak luar biasa. "Kayaknya lebih enak hidup di zaman Pak Harto," katanya seperti memprovokasi pengunjung warkop yang lain.
Saya diam saja. Menikmati obrolan jalanan ala warung kopi sembari menyaksikan televisi yang juga menyiarkan antrean di sejumlah SPBU di Jakarta dan kota-kota lain. Juga unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang memprotes kenaikan harga BBM.

17 November 2014

Sidoarjo Kota Dangdut

Tiada hari tanpa dangdut di Sidoarjo. Kabupaten yang punya 18 kecamatan, tetangga terdekat Kota Surabaya, ini memang sejak dulu demam musik dangdut. Kalau ada hajatan seperti pernikahan atau khitanan, orkes dangdut selalu diundang... bagi yang mampu. Kalau bukan orkes lengkap, biasanya penyanyi dangdut tunggal plus pemain keyboard. Biasa disebut organ tunggal.
"Saya tiap malam keliling ke berbagai tempat di Sidoarjo. Ada saja hajatan yang perlu dangdut," kata Mustakim, pengurus Orkes Melayu (OM) Rolista (jga ditulis Rollysta), kepada saya pekan lalu. 
OM Rolista punya puluhan penyanyi yang siap ditanggap kapan saja. Tergantung bujet yang punya hajatan. Kalau dananya sedikit, Mas Takim biasanya menurunkan penyanyi-penyanyi STW (setengah tua), usia di atas 30 tahun, wajah kurang menawan. Sebaliknya, nona-nona manis, seksi, muda di bawah 24 tahun, yang tampil kalau anggarannya besar.
"Kami ini sangat luwes. Tinggal pemesan saja," ujar Mas Takim di sela pertunjukan dangdut di Lingkar Timur, Sidoarjo. 
Bagaimana kalau dalam sehari ada tiga atau empat job? Gampang. Mas Takim bisa dengan mudah memanggil penyanyi dan pemusik yang tersebar di Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Gresik, Jombang, dan sebagainya. Benderanya tetap OM Rolista.
Saking banyaknya orkes dangdut di Sidoarjo, kita sulit menyebut angka yang pasti. Anggap saja satu desa/kelurahan punya satu orkes, maka di seluruh Kabupaten Sidoarjo terdapat 353 orkes. Padahal, biasanya di sebuah desa/kelurahan selalu ada lebih dari satu orkes. Namun, biasanya pula para pemusik dangdut, juga penyanyi-penyanyi seksi itu, sering bermain dengan bendera OM yang berbeda.
"Orkesnya sih banyak sekali. Tapi banyak yang nggak aktif. Soalnya, persangan orkes saat ini sangat ketat. Kalau nggak punya jaringan, ya, susah," kata Mas Takim yang karatan mengurus musisi dan penyanyi dangdut dengan segala lika-likunya.
Begitu dahsyatnya pengaruh musik dangdut di Sidoarjo, hampir semua kegiatan yang melibatkan massa selalu disertai hiburan dangdut. Acara-acara pemerintah kabupaten hampir pasti ada dangdutnya. Kebetulan Mas Mustakim ini jadi langganan tetap event-event plat merah. Jalan sehat ada dangdut. Car free day pasti dimeriahkan dangdut. Promosi produk apa pun ada dangdutnya. 
Karena itu, kafe-kafe di Sidoarjo yang dulu getol menjajakan musik pop kini tinggal nama saja. Kafe de Shin, Delta Cafe, Akar Jati, Delta Sepanjang... tak ada lagi jejaknya. Kafe Java Mocha di Deltasari yang dulu khusus menampilkan musik jazz lebih dulu gulung tikar. "Suka tidak suka, dangdut itu sudah melekat di hati warga Sidoarjo. Anda bisa lihat, semua kafe yang hidup di Sidoarjo sekarang, ya, kafe-kafe dangdut," kata Mas Takim yang punya peralatan sound system lengkap ini.
Tesis Sidoarjo sebagai kota dangdut, berdasar pengamatan sepintas ini, dibuktikan pula dengan kajian Karyadi, pengamat sosial budaya yang tinggal di Kecamatan Sedati, dekat Bandara Juanda. Karyadi menulis:
"Hasil studi saya menunjukkan adanya dominasi musik dangdut di atas jenis musik lain seperti samroh, pop, keroncong dan hiburan lainnya. Warga Sidoarjo kerap memperdengarkan musik dangdut, baik lewat pementasan hiburan dangdut bersifat live show atau memperdengarkan irama dangdut lewat kaset dengan sistem audio yang berkekuatan besar yang memekakkan telinga. Boleh dikatakan musik dangdut menjadi ikon Sidoarjo baru sebagai Sidoarjo Kota Dangdut."
Dominasi dangdut di Sidoarjo ini, menurut Karyadi, akhirnya melahirkan regenerasi penyanyi dan pemusik yang sangat cepat. Anak-anak muda belasan tahun, pelajar, banyak yang terjun ke dangdut. Mereka sekolah sambil ngamen alias manggung dari satu hajatan ke hajatan lain setiap malam. Ironisnya, ada pelajar yang putus sekolah karena keasyikan ngamen.
"Kegandrungan dan regenerasi pemusik dangdut di Sidoarjo dipastikan relatif lebih lestari di banding kesenian lain, seperti perkembangan ludruk di Surabaya yang kian luluh saja," kata Karyadi. 
Di sisi lain, perkembangan dangdut yang dahsyat ini juga menimbulkan persoalan baru di kalangan sebagian masyarakat Sidoarjo, khususnya kalangan santri dan anggota DPRD Sidoarjo, yang didominasi politisi santri PKB. Mereka resah melihat begitu banyak kafe dangdut yang tumbuh tak terkendali di hampir semua (18) kecamatan. Kafe-kafe dangdut itu malah jadi tempat mangkal wanita penghibur alias purel dan dicurigai sebagai tempat maksiat.
Karena itu, beberapa waktu lalu Banser Sidoarjo ramai-ramai menutup kafe dangdut di depan Gelora Delta. Di Krian, Banser bersama Satpol PP, polisi, dan pemerintah kecamatan menertibkan kafe-kafe dangdut di kawasan pasar baru dan beberapa titik lainnya. Toh, beberapa hari kemudian kafe-kafe dangdut itu beroperasi lagi seperti biasa. 
Predikat "kota santri" yang sudah lama disandang Kabupaten Sidoarjo pun makin dipertanyakan. Kota santri kok banyak kafe-kafe yang menyediakan purel dan minuman keras? Nah, pergeseran itu memang tidak lepas dari "revolusi" dangdut dari musik santri (ala Rhoma Irama, Ida Laila, Sinar Kemala, A Rafiq, S Achmady) ke musik yang benar-benar murni untuk konsumsi hiburan malam yang remang-remang menggemaskan.

Dangdut Lama vs Dangdut Baru

Pagi ini, di sebuah warung sederhana di kawasan Jembatan Suramadu belasan penggowes nongkrong. Istirahat, ngopi, ngobrol ngalor ngidul. Tema besarnya tentang rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagian besar menolak, ada yang setuju, dengan alasan subsidi yang salah sasaran.
"Tapi harga-harga sudah mulai naik. Kalau BBM naik beneran, harga barang naik lagi. Rakyat kecil juga yang susah," kata pesepeda asal Wonokromo. "Lha, kalau gak dinaikin, gimana negara punya uang untuk mbangun jembatan kayak Suramadu ini?" sambung yang lain.
Sementara itu, Bu Siti, pemilik warung yang asli Madura, sibuk melayani pesanan pelanggan tetapnya itu. Kopi, mi rebus, pisang goreng (yang kurang enak karena bukan pisang kepok), ada juga yang beli rokok. Rajin sepedaan, tapi juga rajin merokok. Musik dangdut lawas (lama) menghibur peserta sepeda sehat dadakan itu.
Wow, suara cempreng Ida Laila yang khas berduet dengan S Achmady. Orkes Melayu Awara era 1970-an yang sangat digemari orang-orang desa di seluruh Indonesia. Duet Ida Laila dan S Achmady ini paling banyak mencetak kaset dan hits pada masanya. Dulu, para perantau yang baru pulang dari Malaysia suka memutar lagu-lagu dangdut yang syairnya penuh dengan wejangan keagamaan itu.
Saya terkesan dengan OM Awara ini setelah berkenalan akrab dengan Bapak A Malik Bz (almarhum), pentolan OM Sinar Kemala, Surabaya, salah satu perintis musik melayu (dangdut) di Indonesia. Ida Laila dan S Achmady (asli Mojokerto) sebelumnya vokalis OM Sinar Kemala. "Mas Achmady kemudian bikin orkes sendiri. Ya, OM Awara itu," tutur Pak Malik di rumahnya, Kureksari, Waru, Sidoarjo, beberapa tahun lalu.

Begitulah. Lagu-lagu Awara pagi ini hampir semuanya mengajak manusia untuk taubat, bersembahyang, kembali ke jalan Allah. Ingat anak yatim, dan sejenisnya. "Beda banget dengan dangdut saat ini. Hampir gak ada lagi yang syairnya menyentuh kayak era Ida Laila," kata Pak Ali dari Kenjeran.
Zamannya memang sudah jauh berubah. Kalau di awal 1970-an Rhoma Irama mengaku melakukan revolusi dangdut, dengan memodifikasi orkes melayu (OM) dengan sentuhan rock, instrumentasi yang canggih, penampilan yang tak kalah dengan pop dan rock, sejak awal 2000-an pun telah terjadi revolusi dangdut gaya baru. Revolusi dangdut yang sangat jauh berbeda dari idealisme Rhoma Irama untuk menjadikan musik dangdut sebagai THE SOUND OF ISLAM. 
Syair-syair musik melayu (dangdut) sejak era OM Sinar Kemala, OM Sinar Mutiara, OM Awara, OM Kelana Ria, OM Pancaran Muda, kemudian dipertebal oleh Sonata Group Rhoma Irama yang sangat islami, kini justru sangat kontras. Musik dangdut masa kini, yang dimodifikasi jadi koplo, malah jadi musiknya kafe atau pub yang identik dengan minuman keras, wanita penghibur, bahkan narkoba. 
Kostum penyanyi-penyanyi dangdut saat ini pun terkesan mirip (maaf) wanita nakal. Tentu saja tidak semua artis dangdut sekarang seperti itu. Tapi, lihatlah kafe-kafe yang menjamur di Surabaya dan Sidoarjo. Anda tak akan pernah lagi menikmati dangdut ala Ida Laila, S Achmady, atau Rhoma Irama.
Lantas, bagaimana kinerja Rhoma Irama sebagai sesepuh dangdut? Yang selalu didapuk sebagai ketua umum PAMMI (Persatuan Artis dan Musisi Melayu Dangdut Indonesia) itu? Yang sempat berkonflik dengan Inul Daratista gara-gara goyang ngebor itu? 
Mengapa konsep the sound of Islam, dangdut sebagai musik dakwah, mengajak masyarakat untuk amar makruh nahi munkar, bisa melenceng begitu jauh seperti sekarang? Bang Rhoma Irama, ketimbang sibuk berpolitik, mencalonkan diri sebagai presiden RI, mungkin lebih baik Bang Rhoma dan seluruh jajaran dangdut di Indonesia duduk bersama untuk membenahi dunia dangdut yang makin lengket dengan dunia hitam.
Salam dangdut!

16 November 2014

Mengenal Kampung Kristen di Jawa Timur

GKJW Mlaten di Desa Wonomelati, Krembung, Sidoarjo.

Umat Kristen di Jawa Timur memang sangat minoritas. Namun, di beberapa tempat ada kampung (pedukuhan) atau desa yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen Protestan. Kampung-kampung Kristen ini kemudian dikenal sebagai sentra Kristen Jawi Wetan (GKJW). Yakni, gereja beraliran Protestan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Seperti dikutip Mas Dhani di majalah Jaya Baya, Surabaya, kampung atau pedukuhan kristiani di Jawa Timur itu ada 41. Dulu memang benar-benar kampung Kristen. Namun, seiring perjalanan waktu, kampung itu berkembang menjadi Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, agama yang dianut penduduk bukan lagi cuma Kristen, tapi juga Islam dan sebagainya.


Desa Kristen paling tua adalah Ngoro dan Mojowarno di Kabupaten Jombang. Mojowarno dikenal sebagai cikal bakal GKJW. Sampai saat ini ada bangunan gereja antik di Mojowarno, Jombang. 


Pendeta Handoyomarno dalam buku Benih yang Tumbuh VII, 1976, mengungkapkan bahwa hutan (alas) Ngoro dibuka tahun 1827. Kemudian jemaat nasrani awal babat alas Kracil, sekitar enam kilometer dari Ngoro, pada 1847. Nah, jemaat dari Mojowarno inilah yang kemudian berkeliling wilayah Jawa Timur untuk membuka perkampungan baru. 


Ada yang babat alas di kaki Gunung Kawi, jadi Desa Peniwen, di Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Masih di Malang, ada Desa Suwaru, Sitiarjo, Rowotrate, Tambakasri, kemudian Pujiharjo, dan Tempursari.


Di kawasan Tempursari, Kabupaten Lumajang, desa-desa nasrani ala GKJW dibuka pada 1900-an, yaitu Tunjungrejo. Di Kabupaten Jember ada kampung Sidomulyo, Sidoreno, Sidorejo, dan Rejoagung. Di kawasan Banyuwangi dan Situbondo ada Desa Purwodadi, Purwosari, Tulungrejo, Wonorejo, dan Ranurejo.


Di Jombang muncul pedukuhan kristiani lain: Kertorejo dan Bongsorejo. Di Mojokerto ada Segaran (Dlangu). Di Sidoarjo: Mlaten dan Sidokare. Kampung dan pasamuhan Sidokare, dekat stasiun kereta api, kemudian pindah ke kawasan Luwung, Kecamatan Balongbendo, dan sebagian di Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung. Karena itu, di Sidoarjo ada dua gereja tua, yakni GKJW Mlaten dan GKJW Luwung.


Para leluhur GKJW juga babat alas di Maron (Blitar), Tumpuk (Tulungagung), Segaran, Sindurejo, Sidorejo, Sambirejo, Tunglur, Jatiwringin, Wonoasri (Kediri), Aditoya (Nganjuk), Ketanggung, dan Wotgalih (Ngawi).


Salah satu kampung Kristen yang usianya sudah di atas 100 tahun adalah Segaran, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, sekitar 21 km dari Kota Kediri. Jemaat Kristen di sini dirintis pada 1862.


Sih Handoyo Djoar, tokoh Segaran, mengungkapkan kampung ini dibuka orang Kristen asal Mojowarno yang tinggal di kampung Purworejo dan Sindurejo (sebelah selatan Pare, dekat Wates), dipimpin Kiai Silvanus. Pemimpin umat Kristen zaman dulu memang biasa disebut kiai.


Meski kampung nasrani ini sudah ada sejak 1861-1862, pasamuwan atau jemaat GKJW baru diresmikan pada 9 Oktober 1887. Saat ini GKJW Segaran tercatat memiliki 2.711 jemaat (849 keluarga). Kepala desanya, Teguh Priyono Djoar, yang juga warga GKJW.

15 November 2014

Ketagihan Misa Malam Minggu

Sudah lama saya ketagihan ikut misa Sabtu petang atau malam Minggu di Surabaya dan Sidoarjo. Selain karena Minggu pagi sering ada kegiatan komunitas seperti sepeda sehat, car free day, saya kebetulan dapat jatah libur hari Sabtu. Maka Sabtu petang, pukul 17.00 atau 17.30, harus dimanfaatkan untuk ke gereja.

Satu jam lalu saya misa di Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi, Surabaya. Pastor yang memimpin misa Romo Kris Kia Anen SVD, romo asal Flores Timur, NTT. Khotbahnya membahas perumpamaan tentang talenta: ada yang dapat 5 talenta, 2, dan 1 talenta. Kupasan Romo Kris cukup menarik meski tanpa humor.

Di musim kemarau seperti ini, Surabaya panasnya bukan main. Lebih panas daripada tahun lalu. Dan tidak jelas kapan hujannya. Padahal di daerah-daerah lain sudah mulai hujan deras + banjir. Jam enam pagi pun suhu udara di Surabaya sudah panas banget.

Maka bisa dibayangkan kalau kita ke gereja pukul 07.00 atau pukul 09.00 pagi. Apalagi tidak dapat tempat di dalam sehingga harus duduk di luar. Gerahnya jelas luar biasa! Ini juga menjadi alasan saya mengapa selalu ke gereja malam Minggu dan bukan Minggu pagi. Lebih gawat lagi kalau ikut misa bahasa Inggris di Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, yang dimulai jam 10.00. Di dalam gereja sih sejuk, ada AC, tapi di jalan pulang pasti mandi keringat.

Bagi orang-orang kampung asal NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata, yang mayoritas Katolik, misa Sabtu malam ini cukup aneh. Misa kok hari Sabtu? Butir ketiga dari 10 perintah Tuhan itu kan menyebut kuduskan hari Tuhan, ya hari Minggu? Karena itu, di daerah saya di pelosok Lembata tidak dikenal misa atau perayaan ekaristi hari Sabtu.

Sampai sekarang pun tidak ada misa Sabtu malam di Pulau Lembata, NTT. "Perdebatan soal ini sudah selesai sejak 1980an. Argumentasi teologis dan tradisi Katoliknya sudah selesai," kata kenalan yang bekas siswa seminari.

Intinya, boleh misa Sabtu tapi harus sesudah matahari tenggelam. Bukan Sabtu pagi atau Sabtu siang. Kalau misa Sabtu pagi atau siang ya statusnya sama dengan misa harian. Bukan misa resmi hari Minggu. Begitu penjelasan teman yang asli Flores itu.

Misa malam Minggu juga hanya dilakukan di gereja-gereja yang umatnya begitu banyak sehingga sulit diakomodasi semuanya di hari Minggu. Kalau umatnya sedikit ya cukup misa satu atau dua kali di hari Ahad. Alasannya harus betul-betul kuat.

Apa pun dalilnya, bagi saya, misa malam Minggu ini, di Surabaya, jauh lebih nyaman. Setelah misa, cuaca di halaman gereja dan tempat parkir, terasa sejuk. Umat yang ikut misa pun tak sepadat Minggu pagi misa kedua. Kita dijamin dapat tempat duduk. Bahkan, banyak tempat kosong.

Sisi negatifnya, saking seringnya misa Sabtu malam, saya jadi makin malas kalau harus ke gereja hari Minggu pagi atau siang. Minggu malam sih tetap nyaman. Hari Minggu bahkan sudah saya anggap sebagai hari jalan sehat, sepeda santai, senam masal, atau car free day!

14 November 2014

Mukjizat Tuhan dalam sunyi

Minggu lalu sebuah gereja di Surabaya memasang iklan besar di koran. Isinya mengajak umat kristiani untuk ikut kebaktian di gereja aliran karismatik itu. Rasakan dahsyatnya mukjizat! Kuasa Allah akan Anda rasakan!

Di koran yang sama, juga gereja sealiran, dipampang foto lima artis ibukota yang akan memberikan kesaksian. Termasuk Asmirandah, yang dikabarkan baru masuk Kristen. Wow, modus iklan lawas rupanya masih laku. Yakni menjual selebriti-selebriti sebagai penarik jemaat.


Sudah bertahun-tahun saya tertegun setiap kali melihat iklan kebaktian, KKR, ibadah raya, atau apa pun namanya yang kayak begini. Kata-katanya selalu dahsyat, ajaib, mukjizat, kuasa Allah ditunjukkan, dst. Pujian penyembahan yang bergelora. "Anda akan merasakan dahsyatnya kuasa roh kudus," kata iklan itu.


Syukurlah, tadi saya membaca situs Katolik di internet, Catholic Herald. Media terkenal di Inggris ini mengutip pesan Paus Fransiskus di kediamannya di Vatikan. Paus mengingatkan bahwa kerajaan Tuhan, karya Allah, itu justru lebih sering bekerja dalam senyap. Bekerja di jalan yang tersembunyi.


"Sementara manusia mungkin lebih suka melihat langsung mukjizat Allah yang spektakuler," kata Paus asal Argentina ini.


Paus Frans mengibaratkan karya Tuhan itu seperti benih yang berada di dalam tanah. Roh kudus akan membuat benih itu tumbuh dan berkembang. Namun kita harus terbuka dan mempersiapkan diri agar benih itu tumbuh.


Paus mengingatkan, Yesus berkali-kali mengingatkan kepada para pengikutnya bahwa kerajaan Allah itu tidak jauh. Begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.


Sayang, kita, manusia, kadang lebih suka melihat tontonan mukjizat Allah yang spektakuler. Yang dahsyat. Yang heboh. Yang disampaikan dalam kesaksian artis-artis top.


Paus kemudian menyinggung pernikahan. Bukannya mempersiapkan diri untuk menerima sakramen nikah, menurut Paus Frans, pasangan penganten justru lebih fokus mempersiapkan gaun pengantin.


"The couple arrives for a fashion show, to be seen," ujar Paus Frans.

Blog yang kian sepi

Blog pernah diramalkan mati tahun 2009/2010 setelah media sosial merajalela. Berkat telepon pintar (smartphone), orang bisa chatting setiap saat dengan siapa saja di FB, Twitter, dan sebagainya. Lalu lintas percakapan begitu cepat, mengalir, asyik, dan bikin ketagihan.

Dulu, blog sempat booming karena belum ada Facebook dan Twitter. Juga belum ada smartphone. Laptop pun masih belum massal seperti sekarang ini. Karena itu, pada 2004-sempat 2005 terjadi booming blog di Indonesia. Artis-artis pun seakan berlomba bikin blog.

Itu semua cerita lalu. Blog memang belum mati, tapi karakter pengunjung (pembaca) sudah jauh berbeda. Sebagian besar, 97 persen, teman-teman yang dulu rajin membaca blog saya kini sudah tidak ada kabar beritanya. Mbak penggemar kopi di Medan asyik dengan teman-temannya di FB. Mbak satunya di Swiss pun punya kesibukan baru. Yang di negara Singa pun tak ada kabarnya pula.

Yah, teman-teman lama yang dulu blogger aktif, bahkan sering berbagi cerita kiat-kiat sukses membuat blog, kini meninggalkan blogging. Blognya sih masih ada, tapi sudah mangkrak bertahun-tahun. Mas blogger paling top yang juga gurunya wartawan-wartawan se-Indonesia sudah malas posting. Belum tentu sebulan sekali ada naskah baru. Bandingkan dengan tahun 2007-2009, sehari bisa empat lima naskah.

Namun, syukurlah, blog belum mati. Pengunjungnya pun masih ada. Hanya saja, biasanya mereka diantar Pak Google ketika mencari kata kunci di mesin pencari. Setelah dapat apa yang dicari, ya, selesai. Kemudian muncul lagi orang-orang lain yang masuk ke Google, dan seterusnya.

Bulan Juli 2014 lalu, seorang pemusik, guru piano, coba-coba membuat blog. Makalah-makalah musik, seni, budaya dia posting di blogspot itu. Hasilnya? "Belum memuaskan," katanya.

Setelah empat bulan berlalu, pengunjung blognya rata-rata kurang dari 4 orang (klik). Hanya dua tulisan yang dibaca 12 orang. Yang lain cuma 2 klik, 1 klik, atau 3 klik. Maka, sang musisi itu pun kayaknya nyerah. Tak lagi memasukkan naskahnya di blog baru tersebut.

Sebagian blogger lama yang kecewa karena bolg pribadinya sepi pengunjung akhirnya memilih hijrah ke blog keroyokan macam Kompasiana, Detik, atau Tempo. Namanya juga keroyokan, semua tulisan berpeluang dibaca banyak orang. Kalau isunya hangat, panas, ala Koalisi Merah Putih vs Koalisi Indonesia Hebat biasanya langsung dibaca ratusan atau ribuan orang per hari. Anggota komunitas blog keroyokan itu pun ramai-ramai komentar dan debat.

"Tapi lama-lama kita jadi capek sendiri. Debat gak ada juntrungannya," kata seorang teman, pemain lama di dunia blogging.

Dia pun memilih kembali merawat rumah blognya yang sudah lama ditinggalkan. Menulis, menulis, menulis... meskipun dia tahu yang kebetulan nyasar ke blognya tidak sampai 10 orang. Apa pun, termasuk ngeblog, harus dilaksanakan dengan ikhlas. Tanpa pamrih.

Yah, anggap saja menulis, blogging, itu ibadah!

Pidato Pejabat Makin Renyah

Dibandingkan masa lalu, khususnya Orde Baru, bahasa para pejabat kita saat ini jauh lebih renyah. Kalimat-kalimat panjang, teknik, majemuk, berbelit-belit, makin jarang terdengar. Ini tak lepas dari banyaknya orang swasta yang jadi pejabat baik di pusat maupun di daerah.

Gaya bahasa orang swasta yang informal, santai, cakapan, dibawa juga ke dunia birokrasi. Di Jawa Timur, orang sangat senang mendengar pidato Gus Ipul, wakil gubernur Jatim, karena retorikanya yang cair dan penuh humor. Selalu ada kejutan-kejutan humor yang bikin orang ger-geran. Tidak heran, kedatangan Gus Ipul dalam sebuah acara sangat dinantikan orang, yang sudah paham gaya Gus Ipul.

Maklum, Gus Ipul ini meskipun sudah lama jadi pejabat, bahkan pernah jadi menteri urusan daerah tertinggal, latar belakangnya bukan birokrat. Pria asal Pasuruan ini santri NU yang aktif di organisasi nahdliyin sejak kecil. Tentu saja dia sudah biasa berkhotbah di depan ratusan atau ribuan orang dengan gaya yang menghibur. 

Jangan harap Gus Ipul ini membacakan pidato. Biarkan Pak Wagub ini bicara mengalir saja dan nikmati humornya yang genuine dan sangat lucu.

Rupanya, retorika Gus Ipul ini pelan-pelain ikut mempengaruhi gaya pidato Gubernur Jatim Soekarwo yang berlatar belakang birokrat murni. Pakde Karwo ini sejak Orde Baru sudah jadi pejabat penting. Dia merintis karir dari bawah, tahu betul isi perut birokrasi, termasuk tata bahasa dan gaya pidato pejabat. 

Kalau saya simak retorikanya, Pakde Karwo ini makin lama makin cair dan conversational. Selalu ada bumbu-bumbu humor, sedikit sentilan, meskipun tidak selucu Gus Ipul. 

Orang swasta yang benar-benar merevolusi gaya bahasa pejabat adalah Dahlan Iskan. Pak Dahlan asli swasta, pengusaha koran, mantan wartawan yang tulisan-tulisannya paling asyik dibaca. Jauh sebelum jadi pejabat, Dahlan Iskan sudah mengkritik kebiasaan pejabat-pejabat Indonesia, khususnya di Jawa Timur, yang suka membacakan sambutan. Pidato tertulis, menurut Pak Dahlan, sudah tidak cocok dengan tuntutan zaman. Apalagi kalau acara itu disiarkan televisi.

Nah, ketika dipercaya jadi pejabat, mulai dirut PLN sampai menteri BUMN, gaya swasta Dahlan Iskan yang pendek, efisien, cerdas, dan elegan dibawa ke birokrasi. Sambutan Pak Dahlan selalu ditunggu karena memang selalu memberikan wawasan baru. Selalu di luar kotak, out of the box! Ketika harus membuat pidato tertulis untuk pengukuhan doktor kehormatan pun gaya asli Pak Dahlan tidak hilang. Jauh dari bahasa pejabat yang mbulet, berbelit-belit tak karuan.

Suatu ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Menteri Pendidikan M Nuh menghadi acara jalan santai di Surabaya. Sebelum peserta diberangkatkan, kedua menteri dari Surabaya itu diminta memberikan sambutan. Pak Nuh bicara pertama, agak panjang dan mendalam. Setelah itu giliran Pak Dahlan diminta memberikan sambutan. Apa isi pidato Pak Dahlan?

"Assalamualaikum.... Sambutan saya sama persis dengan sambutan Pak Nuh. Jadi, saya tidak perlu mengulang lagi. Sekian. Assalamualaikum...," kata Pak Dahlan disambut tepuk tangan dan tawa renyah peserta jalan sehat. Saya pun terkaget-kaget dengan gaya swasta Pak Dahlan yang tetap melekat meski saat itu berstatus menteri BUMN.

Tadi pagi, Jumat 14 November 2014, saya pun terkejut dengan gaya Bahrul Amig, kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo. Pak Amig yang berlatar belakang birokrat, mantan camat, orang dinas alias SKPD, diminta pembawa acara untuk menyampaikan sambutan sekaligus laporan di hadapan bupati, wakil bupati, dan pejabat-pejabat lain di Pemkab Sidoarjo. Tentang peluncuran acara Sidoarjo Berhsih dan Hijau plus peresmian Taman Tandjoeng Puri di kawasan lingkar timur.

Pak Amig tampak berlari kecil dari tempat duduknya ke atas panggung. Tidak pakai contekan apa pun, Pak Amig bicara dengan enak dan fasih tentang program-program DKP, khususnya SBH serta pembuatan taman-taman di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Gaya Pak Amig sangat informal dan asyik. Poin-poin yang disampaikan pun runut dan jelas. 

Gaya Pak Amig ini sangat kontras dengan beberapa kepala dinas sebelumnya. Biasanya, di acara seperti ini, sang kepala dinas membacakan laporan yang disusun mirip makalah. Tentu saja hadirin malas menyimak, bahkan bicara sendiri-sendiri. Pak Amig ini tipe pejabat baru yang membawa angin segar ke Pemkab Sidoarjo.

Gaya pidato Pak Saiful Ilah, bupati Sidoarjo, pun sebentulnya informal dan santai karena latar belakangnya yang pengusaha dan swasta murni. Pak Saiful begitu enak ketika bicara lisan di luar teks. Sayang, bupati yang biasa disapa Abah Ipul ini biasanya membacakan sambutan (tertulis) lagi meskipun sudah bicara lisan. 

Sambutan tertulis inilah yang membuat pidato Pak Bupati yang juga nahdliyin, sekaligus ketua PKB, ini jadi panjang dan membosankan. Padahal, poin-poin penting di sambutan tertulis itu sebetulnya sudah disampaikan Abah Ipul di luar teks. 

13 November 2014

Iseng-Iseng Mencoba AdSense

Apa betul sangat sulit mendapat persetujuan Google untuk AdSense? Begitu banyak curhat dan keluhan di internet soal 'kerja keras' untuk meyakinkan Mbah Google agar laman blog seseorang dipasangi AdSense.

Ada yang mencoba belasan kali, tapi gagal. Ada yang tiga atau lima kali baru berhasil. Banyak yang patah arang karena menganggap Google diskriminatif terhadap blogger Indonesia.

Maka, saya iseng-iseng mendaftar AdSense. Syaratnya, antara lain, harus menghapus semua link yang berbau iklan. Termasuk hitstats untuk memonitor pengunjung blog setiap hari. Senang juga kalau blog kita dikunjungi ratusan orang setiap hari. Data statistiknya ya di hitstats itu tadi.

Apa boleh buat, demi mengikuti kemauan Mbah Google, saya pun melepas link hitstats itu. Disetujui syukur, ditolak gak papa. Sebab, blogging ini sebetulnya hanya sekadar hobi sambil berbagi informasi. Bukan untuk cari AdSenSe, apalagi bikin macam-macam trik untuk mengakali SEO dan sebagainya.

Puji Tuhan, ternyata saya hanya perlu waktu satu hari untuk disetujui Mbah Google. Muncul surat elektronik dari pengelola AdSense seperti berikut:

"Selamat! Permohonan Google AdSense Anda telah disetujui. Anda akan segera mulai melihat iklan Google yang relevan tampil di http://hurek.blogspot.com/. Harap perhatikan: Akun AdSense hanya mengizinkan monetisasi konten yang Anda buat di situs mitra host AdSense."

Senang juga hati ini. Ternyata permohonan AdSense saya disetujui dengan cepat. Mungkin pihak Google menganggap blog sederhana ini memang memenuhi syarat untuk dipasangi AdSense. Dan, yang paling penting, konten atau isi blog ini bermanfaat dan orisinal.

Karena itu, jika teman-teman melihat gambar iklan di sidebar dan bawah naskah, itu bagian dari iseng-iseng untuk mendalami apa sebetulnya AdSense itu. Salam semangat!

10 November 2014

Lagu Anak yang Nabrak Logika

Komponis, pianis, dan budayawan SLAMET ABDUL SJUKUR sering melontarkan pertanyaan ini saat memberikan ceramah musik di Surabaya. "Kenapa Indonesia tidak bisa maju? Mengapa Indonesia tidak bisa menjadi negara maju?"

Mas Slamet, 79 tahun, menjawab sendiri. "Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu-lagu yang tidak bermutu. Lagu-lagu anak-anak yang mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi," katanya serius.

Mas Slamet kemudian mengajak seorang peserta menyanyi BALONKU.

"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. 
Merah, kuning, kelabu... merah muda dan biru. 
Meletus balon hijau, dorrrr!!!"

"Perhatikan warna kelima balon tersebut. Kenapa tiba-tiba muncul warna hijau? Jadi, jumlah balon sebenarnya ada enam, bukan lima," katanya.


Agar logika jalan, mestinya syair lagu BALONKU diganti sedikit. "Hijau, kuning, kelabu...." Dengan begitu, balonnya tetap lima dan yang meletus memang salah satu dari lima balon itu.

Lagu lain yang dikupas Slamet Abdul Sjukur.

"Bangun tidur ku terus mandi. 
Tidak lupa menggosok gigi. 
Habis mandi kutolong ibu. 
Membersihkan tempat tidurku."

Apanya yang janggal? "Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu. Tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!" jawab Mas Slamet. Betul juga!

"Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya. Dia akan selalu terburu-buru."

Lagu anak balita juga dibedah Slamet Abdul Sjukur.

"Pok ame ame.. belalang kupu-kupu.. 
siang makan nasi, 
kalo malam minum susu."

"Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak-anak. Sebab, yang  disebutkan di syair lagu ini adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Anak kecil itu, karena belum bisa makan nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!"

Intermeso Mas Slamet ini kelihatan sepele, tapi penting. Bahwa membuat syair atau lirik lagu anak-anak (juga dewasa) tidak boleh sembarangan. Unsur logika, akal sehat, kewajaran, pendidikan... harus masuk. Selain, tentu saja, harus memenuhi aturan tekanan kata atau suku kata sesuai tekanan nada dalam musik.

Suku kata pertama dalam lagu dengan irama 4/4 harus tegas. Sebaliknya, suku kata kedua atau keempat tidak boleh tegas. Kalau tidak diperhatikan, maka syair dan melodi akan jalan sendiri-sendiri.

Salah satu contoh yang sering dibahas pengamat musik gerejawi adalah lagu Garuda Pancasila. Tekanan kata dan melodinya gak nyambung. Akibatnya, yang terdengar seperti ini: Garudapan... ca.. si.. la...

Sayang, sejak reformasi kita makin jarang mendengar lagu anak-anak baru di televisi. Anak-anak sekarang lebih suka membawakan lagu-lagu pop dewasa ala Peterpan atau Dewa 19 ketimbang lagu-lagu yang memang khusus diciptakan untuk usia dini.

Menjajakan Agama di Pasar Bebas

Bolehkah menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama? Bukankah (hampir) semua orang di sini beragama Islam? Mengapa buku-buku, majalah, dan selebaran nasrani dipamer dan dibagikan?

Begitu antara lain keluhan seorang kenalan di Sidoarjo pekan lalu. Pria 30-an tahun ini tidak suka ulah beberapa aktivis sebuah gereja made in America yang gencar bikin pameran buku, majalah, selebaran, mendadak di tempat umum.

"Kalau yang dipamerkan itu buku-buku umum sih bagus. Harus kita dukung. Lha, yang dipamerkan ini semuanya buku-buku tentang ajaran agama dari sekte itu. Nggak ada satu pun majalah atau buku umum," kata karyawan tersebut.

Syamsul, sebut saja begitu, menganggap semua yang berbau nasrani atau kristiani itu sama saja. Baik itu Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent, Baptis, itu sami mawon. Sama-sama percaya Yesus Kristus, sama-sama paka salib. Karena itu, dia curhat agar saya yang dia kenal sebagai orang Katolik ikut membantu menghentikan kegiatan kristenisasi berkedok pameran buku itu.

"Jangankan sampean yang Islam, Mas, saya yang Katolik malah jadi target utama. Sekte itu mnganggap kami sesat sehingga perlu ditobatkan. Supaya jadi jemaatnya sekte itu," kata saya saat ngopi.

Kita jadi serba salah. Menghentikan paksa bisa dianggap melanggar HAM. Membiarkan saja bisa menimbulkan kesalahpahaman, khususnya di kalangan umat Islam. Evangelisasi jalanan berkedok pameran buku rohani itu semakin menjustifikasi serangan umat Islam sejak 1970-an bahwa kristenisasi di Indonesia sangat sistematis, gencar, dan eksesif.

Maka, saya lalu berusaha menjelaskan latar belakang sekte dari USA itu. Dulu, di zaman Orde Baru, dilarang karena dianggap sesat oleh gereja-gereja mainstream di Indonesia. Tapi, setelah reformasi, larangan itu dicabut jaksa agung, yang juga mantan komisioner Komnas HAM, Marzuki Darusman. Maka, begitulah jadinya.

"Negara Indonesia ini begitu lekas merespons keluhan ulama Islam, tapi tidak mau mendengar masukan dari PGI dan KWI yang mewakili umat Kristen Protestan dan Katolik di Indonesia," kata saya mengutip pendapat banyak tokoh kristiani (mainstream) yang saya baca di majalah rohani.

Tapi, memang di era keterbukaan, banjir informasi di internet, yang mudah diakses di HP, rasanya pemerintah semakin sulit melarang kegiatan agama atau sekte tertentu. Negara ibarat pasar bebas yang menyediakan komoditas apa saja. Termasuk agama-agama dengan sekte-sektenya yang begitu banyak. Orang bebas menjajakan apa saja, termasuk keyakinannya, di pasar itu. Selanjutnya, terserah konsumen, mau beli atau tidak.

Era Baru Indonesia - Tiongkok

Cinta dan benci itu tipis batasnya. Orang yang paling dibenci bisa jadi suatu saat menjadi teman terbaik. Dan sebaliknya. Ungkapan lawas ini rupanya cocok untuk menggambarkan hubungan Indonesia-Tiongkok. Pagi ini, 10 November 2014, koran-koran di Surabaya memasang foto besar Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

"Tiongkok dan Indonesia itu ibarat pepatah: jauh di mata dekat di hati," ujar Presiden Xi Jinping saat menyambut Presiden Jokowi di Beijing. Jokowi tampak senyam-senyum menanggapi sambutan hangat tuan rumah itu.

Mengapa Presiden Jokowi memilih lawatan pertama ke Tiongkok? Bukan ke Malaysia, Singapura, Thailand, atau negara tetangga lain? Bisa jadi karena saat dilantik lalu, 20 Oktober 2014, para kepala pemerintahan negara-negara tetangga sudah hadir. Tapi, bagaimanapun juga, pilihan Presiden Jokowi untuk melawat pertama kali sebagai presiden RI ke Tiongkok tetap bermakna sangat strategis.

Kita tahu, selama Orde Baru, 1966-1998, Tiongkok merupakan negara komunis yang sangat dibenci pemerintahan Presiden Soeharto. Uni Sovyet juga dibenci, tapi tidak segawat Tiongkok. Sebab, Sovyet tak punya warga perantauannya di Indonesia. Beda dengan Tiongkok yang secara langsung atau tidak langsung punya ikatan darah dengan sekian juta warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.

Kita juga sudah tahu dampak kebencian ala perang dingin itu. Bahasa dan aksara Tionghoa dilarang. Nama-nama Tionghoa wajib diganti atau disesuaikan. Sekolah-sekolah Tionghoa sudah lebih dulu ditutup. Semua yang berbau Tionghoa dibredel karena dianggap punya kaitan dengan komunis Tiongkok. Padahal, kita tahu, partai komunis baru berkuasa di Zhongguo pada 1949, sementara orang Tionghoa sudah tinggal di tanah air sejak zaman Belanda. Bahkan sebelum era kolonial Belanda pun sudah ada perantau Tionghoa yang berdagang dan kemudian menyatu dengan penduduk setempat.

Syukurlah, Reformasi 1998, meski sempat memakan korban sejumlah warga Tionghoa, membawa hikmah yang luar biasa. Terjadi arus balik sejarah. Hubungan dengan Tiongkok bukan saja dipulihkan, tapi malah makin mesra. Orang Indonesia juga sangat antusias berkunjung ke kota-kota di Tiongkok.
Bulan lalu, sejumlah santri dari Sidoarjo dan Gresik berangkat ke Guangdong untuk kuliah. Sulit dibayangkan di zaman Orde Baru ada santri yang kuliah di negara mbahnya komunis ala Mao itu. Para kiai, ulama, di Jawa Timur juga sering diajak jalan-jalan ke Tiongkok. "Kita ingin tunjukkan bahwa agama Islam di Tiongkok sudah ada sejak zaman dulu," kata Liem Ouyen, pengusaha yang biasa memimpin rombongan ulama Jatim ke Tiongkok.

Diplomasi Jakarta-Beijing ala Presiden Jokowi tentu berbeda dengan Poros Jakarta-Peking (nama lama Beijing) ala Presiden Soekarno. Konteks sejarah dan politiknya sudah jauh berbeda. Tiongkok hari ini bukan Tiongkok tahun 1960-an pun yang miskin dan serba kekurangan. Tiongkok hari ini sudah menjadi negara kuat di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, bahkan pertahanan. Tiongkok menjadi salah satu aktor utama politik dunia, selain Amerika Serikat.

Semoga kemesraan yang indah antara Indonesia dan Tiongkok ini tidak cepat berlalu!

08 November 2014

Obbie Messakh keluhkan pembajakan



Obbie Messakh ternyata masih ada. Pagi ini, saya baca di Kompas, pencipta lagu lawas era 1980-an dan 1990-an itu membahas masalah pembajakan karya musik yang merajalela di tanah air. Begitu parahnya pembajakan kaset, CD/VCD/DVD, dan sebagainya sehingga para seniman gigit jari.

Kerja keras bikin lagu, musik, rekaman, dsb, tapi hasilnya nol. Dulu, menurut Obbie, para pembajak juga sudah ada tapi tidak separah di era internet dan digital ini. Aparat keamanan pun tidak berdaya melindungi para pelaku industri kreatif di bidang musik, film, dsb.

"Tahun 1980-an, penyanyi, pencipta lagu, pengusaha rekaman masih dapat 80 persen, 20 persen dinikmati pembajak. Sekarang terbalik: pembajak yang dapat 80 persen," kata pemusik dan penyanyi pop melankolis asal Pulau Rote, NTT, itu.

Obbie Messakh sebetulnya sudah sering mengungkapkan hal ini. Ketika berada di Surabaya, seniman yang melejit lewat JK Records itu pun mengungkapkan kegundahan yang sama. Gara-gara dibajak, banyak musisi yang stres, kurang gairah, bahkan merana di usia senja.

Lagu-lagu Obbie Messakh misalnya masih terus diputar sampai sekarang. Tapi berapa royalti yang dia nikmati? "Nggak ada," katanya. Iklim industri musik yang jelek inilah yang membuat sebagian besar perusahaan rekaman di Indonesia tutup. Hanya ada beberapa gelintir pengusaha yang masih nekat bermain di industri ini.

Obbie sendiri, di usia 57 tahun, masih terus berkarya. Bikin lagu, hobi yang tak disangka menjadi pekerjaannya selama bertahun-tahun. Tapi, karena industri musik yang galau, jarang sekali ada lagu ciptaan Obbie Messakh yang direkam untuk dinikmati masyarakat.

Satu-satunya lagu terbarunya yang dirilis tahun 2014 ini berjudul Yang Ku Sayang Sudah Jadi Milik Orang. Obbie dapat pesanan dari Leonard Kristianto, putra JK (Judhi Kristianto) untuk membuat lagu baru yang benar-benar bernuansa 80an khas Obbie. Lagu ini direkam Bang Nyo, sapaan akrab Leonard, yang kini tengah berjuang untuk meghidupkan kembali JK Records yang sudah lama tenggelam.

Manis juga lagu yang dibawakan Novika, penyanyi pendatang baru asal Bandung. Gaya Obbie benar-benar terasa di sini. Tapi lebih mirip lagu-lagu Obbie di luar JK Records seperti versi Ratih Purwasih atau Tio Fanta. Toh, banyak orang lawas, yang pernah menikmati lagu pop lawas, antusias meyambut kehadiran kembali Obbie Messakh ke blantika musik pop yang penuh ranjau bajakan itu.

"Musik itu sudah jadi jalan hidup saya. Yah, saya jalani saja," kata Obbie Messakh. Meskipun di zaman internet ini, kita tak perlu lagi ke toko kaset agar bisa menikmati lagu. Cukup duduk di depan komputer (laptop), masuk ke YouTube, dan... Novika pun menyanyikan lagu ciptaan Obbie Messakh, Yang Ku Sayang Sudah Punya Orang:


Ketika kulewati jalan ini
Aku ingat kau...
Ingat kenangan bersamamu

Di situ di lorong itu 
Rumah mantan pacarku
Yang pernah ada dalam hidupku

Rasanya kuingin kembali 
Kembali ke masa lalu

Memang harus kuakui
di antara rasa benci 
masih ada juga rasa rindu
....................

06 November 2014

Seriosa berbisik ala Mas Slamet



Slamet Abdul Sjukur, komponis asal Surabaya, yang dianggap nyentrik dan aneh itu, ternyata pernah mengarang lagu seriosa yang syahdu. Komposisi untuk piano dan soprano ini berjudul KABUT. "Saya karang tahun 1960," ujar Mas Slamet suatu ketika.

Slamet Abdul Sjukur, meski sudah berusia 79 tahun, lebih suka disapa Mas Slamet. Bukan Pak Slamet, apalagi Mbah Slamet atau Eyang Slamet. Jiwanya memang selalu muda, kritis, ide-idenya segar dan selalu bisa dieksekusi. Gak ngomong thok!

Iseng-iseng saya blusukan di YouTube dan menemukan komposisi Kabut. Dinyanyikan Ika S. Wahyuningsih (soprano) diiringi Krisna Setiawan (piano). Saya langsung ngeh melihat foto Mas Slamet di YouTube itu. Mas Slamet yang lagi motret. Itu tidak lain foto jepretan saya ketika menyaksikan resital musik klasik di Hotel Majapahit Surabaya beberapa tahun lalu.

Waktu itu saya mendekati Mas Slamet untuk wawancara pendek. Lebih tepatnya, minta komentar beliau tentang permainan piano sang artis. Mas Slamet malah asyik jeprat-jepret dengan kamera sakunya. "Komentarku nanti saja. Sekarang saya motret dulu. Banyak orang cantik nih," katanya enteng.

Meskipun dipakai tanpa izin, saya senang foto yang agak buram itu dipakai untuk ilustrasi Kabut karya Slamet Abdul Sjukur. Saya jadi makin ingat sepak terjang Mas Slamet di musik klasik atau musik kontemporer Indonesia. Tapi, saya juga kaget menikmati komposisi yang saya anggap bukan khas Slamet Abdul Sjukur.

"Oh, ternyata Mas Slamet ngarang lagu seriosa juga," kata saya dalam hati.

Nah, komposisi lama itu, yang tadinya cuma saya saksikan di YouTube, akhirnya bisa dinikmati langsung di STKW Surabaya. Istimewanya lagi, Mas Slamet yang main piano mengiringi Ika Wahyuningsih. Suasana di aula STKW yang nyelempit, sunyi, membuat karakter lagu ini jauh lebih terasa. Vokal Ika yang bening terdengar jelas meski tidak pakai mikrofon.

Mas Slamet juga terlihat seperti seorang pertapa yang memainkan komposisinya sendiri dengan syahdu. Lagu Seriosa berjudul Kabut ini beda dengan kebanyakan seriosa Indonesia yang terasa menggelegar, memaksa penyanyi bersuara tinggi, dengan vibrasi yang sering berlebihan. Kabut ini komposisi yang berbisik, halus, meditatif.

Mirip suara Mas Slamet yang cenderung berbisik, tidak bisa bicara dengan keras. Bisikan halus tapi tetap bertenaga.  Salam sluman slumun slamet!


Link lagu Kabut karya Slamet Abdul Sjukur:
https://www.youtube.com/watch?v=13tzhn3F2xc

02 November 2014

Wartawan Indonesia Malas Membaca

Gairah membaca buku di Paris. Luar biasa!!!!

Banyak orang Barat yang mengikuti proses pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2014. Apalagi, sebagian besar televisi meliput secara detail, panjang, berjam-jam, diulang-ulang dari pagi sampai tengah malam. Ada seorang wartawan Australia, Pak Duncan, yang menyindir kualitas pertanyaan wartawan-wartawan kepada Jokowi dan istri, juga anaknya.

"Pertanyaan wartawan-wartawan Indonesia fokus pada sarapan. Makanan apa yang dimakan saat sarapan. Kemudian pakaian yang dipakai Iriana, ibu negara," tulis Pak Duncan.

Selanjutnya, wartawan senior yang banyak mengupas masalah Indonesia itu menulis begini:

"There has been no interest in what books are on the couple’s bedside table, probably because the reporters, like many Indonesians, are not great readers of anything longer than a 140 character tweet."

Waduh, sentilan yang sangat mengena. Jujur, memang tidak ada wartawan Indonesia yang berpikir untuk menanyakan buku-buku apa saja yang dibaca sang pejabat. Buku-buku di atas meja, kamar, perpustakaan (memangnya ada perpustakaan di rumah), dan sejenisnya. Dari dulu kita melulu bertanya soal makanan kesukaan, hobi, band atau artis favorit.

Budaya membaca di Indonesia, harus diakui, memang belum terbentuk. Budaya lisan jauh lebih menonjol. Ketika budaya baca belum ada, muncullah kelisanan baru berupa media sosial. Maka, orang Indonesia pun lebih asyik membaca 140 karakter di Twitter seperti disinggung Duncan Graham tadi.

Seperti disentil Duncan Graham, wartawan-wartawan Indonesia pun sama saja. Sangat jarang ada wartawan yang betah berlama-lama membaca buku-buku tebal. Kecuali wartawan lama sekelas Dahlan Iskan yang setiap hari berkawan dengan buku tebal dan selalu dibaca sampai tuntas.

Dulu, sebelum jadi menteri, Pak Dahlan sering ndelosor begitu saja di Graha Pena, Surabaya, untuk membaca buku-buku tebal. Biasanya novel atau buku-buku best seller baik dalam maupun luar negeri. Sayang, reading habit para jurnalis senior ini tidak bisa diikuti para juniornya yang sudah telanjur berteman dengan internet dan media sosial.

Ketahuilah, saudara-saudara, barangsiapa yang terlalu asyik chatting, gaul di media sosial, bisa dipastikan kehilangan minat membaca buku, majalah, atau koran. Saya melihat beberapa putra-putri wartawan senior yang jarang membaca buku. Padahal, ayahnya dulu pembaca buku yang rakus. "Gak ada waktu baca buku. Gak asyik. Enak baca internet," begitu alasan adik-adik wartawan generasi baru.

Karena itu, beberapa wartawan Barat, yang bertugas di Indonesia, sejak dulu mengeluhkan tulisan-tulisan di media massa Indonesia yang tidak mendalam. Tidak ada referensi atau kutipan dari buku-buku yang berbobot. Jauh berbeda dengan Bung Karno dan generasi pendiri bangsa ini yang tulisan-tulisannya menggambarkan betapa luas dan dalamnya bacaan mereka.

Pak Duncan bertanya: "Has Indonesia’s new president Joko (Jokowi) Widodo read the ancient works of Chinese general Sun Tzu, author of The Art of War?"

Paroki Juanda dari SVD ke Praja

Romo Cuncun, Romo Sony, Romo Didik, dan Romo Damar saat misa sertijab Pastor Paroki Santo Paulus, Juanda, Sidoarjo.


Cukup lama saya tidak misa di Juanda, Paroki Santo Paulus, sehingga tidak tahu ada perubahan kepemimpinan. Ternyata kepala paroki, Romo Petrus Sony Keraf SVD, sudah digantikan oleh Romo Cuncun, sapaan akrab RD Tri Kuncoro Yekti.

Romo Sony yang asli Lembata, NTT, itu memang sudah lama bertugas di Paroki Santo Paulus, Juanda, Sidoarjo, sejak gereja di pinggir jalan raya Juanda ini resmi menjadi paroki mandiri pada 2005 (kalau gak salah). Dulu saya rajin misa di sini karena memang masuk paroki ini. Sebelumnya ikut Paroki Sakramen Mahakudus, Pagesangan, Surabaya.

Paroki Juanda ini memang tergolong paroki pendatang baru. Ia mengakomodasi sebagian umat Katolik yang dulunya ikut Paroki Pagesangan (Surabaya), Paroki Sidoarjo (Maria Annuntiata), Paroki Salib Suci (Tropodo, Waru), dan Paroki Gembala Yang Baik (Surabaya). Paroki induknya adalah Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Sidoarjo.

Seperti di Pagesangan, gereja ini merupakan monumen bersejarah, warisan misionaris SVD, yang sejak dulu dikenal sebagai tukang babat alas paroki. Kalau Gereja Pagesangan, samping Masjid Al-Akbar Surabaya, dibangun Romo Johannes Heijne SVD, Gereja Santo Paulus Juanda didirikan Romo Heribert Ballhorn SVD asal Jerman yang bertugas di Paroki Salib Suci. Model arsitekturnya unik, mengadopsi gaya bangunan Majapahit tempo doeloe.

Karena dirintis misionaris SVD, ketika resmi menjadi paroki pun imam-imam SVD alias kongregasi sabda Allah (Societas Verbi Divini) yang mengelola paroki. Maka, Romo Sony Keraf SVD dipercaya sebagai pastor paroki sejak masih bakal paroki, kemudian jadi paroki, hingga 2014. Eh, saya baru tahu kalau Romo Sony Keraf SVD diganti Romo Cuncun, imam diosesan yang baru pulang tugas belajar di Eropa.

Mutasi pastor paroki di Keuskupan Surabaya memang sangat biasa dan periodik. Kalau tidak salah, setiap tiga tahun pastor paroki di-rolling agar tidak terlalu lama hanya di paroki tertentu. Tapi, khususnya paroki-paroki yang imamnya bukan diosesan (RD), seperti Paroki Santo Paulus Juanda ini, pergantian Romo Sony Keraf SVD ke RD Cuncun, yang dulu bertugas di Paroki Hati Kudus Yesus, Katedral, Surabaya, jelas istimewa dan khusus.

Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai penyerahan penggembalaan Paroki Juanda dari SVD ke imam praja Keuskupan Surabaya. Mirip dengan Paroki Pagesangan yang awalnya SVD, romo parokinya juga Romo Sony Keraf SVD, kemudian diserahkan ke imam praja/diosesan. Ini juga sekaligus menepis prediksi umat di Juanda bahwa Romo Sony Keraf SVD bakal diganti romo lain yang sama-sama SVD.

Romo Cuncun, pastor paroki baru, yang dulu saya kenal sebagai moderator kaum muda, mudah-mudahan bisa membawa Paroki Juanda lebih dinamis dan mampu membaca tantangan zaman. Juga terima kasih kepada Romo Sony Keraf SVD yang telah berjasa dalam merintis dua paroki besar di Keuskupan Surabaya: Paroki Juanda dan Paroki Pagesangan. Semoga romo yang suka menyanyi ini selalu diberkati Tuhan dan sukses di kebun anggur yang baru.

01 November 2014

PDIP masih dibuat mainan!

PDI Perjuangan yang dipimpin putri Bung Karno justru sering melupakan pesan Bung Karno: Jas merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Di awal reformasi PDIP menang dalam pemilu 1999. Tapi, kita tahu, Megawati gagal jadi presiden. Yang jadi presiden justru Gus Dur yang didukung koalisi Poros Tengah. PDIP gagal merangkul partai-partai lain di MPR untuk mendukung Bu Mega.

Masih untung waktu itu poros tengah tidak kemaruk. Koalisi yang dipimpin Amien Rais, ketua MPR, itu masih memberi kesempatan kepada Bu Mega jadi wakil presiden. Kalau mau, sebetulnya poros tengah bisa memutuskan orang lain sebagai wapres. Dan PDIP sebagai pemenang pemilu akan ngaplo. Tidak dapat apa-apa.

Sayang, pengalaman pahit ini tidak menjadi bahan pelajaran bagi PDIP untuk berbenah. Dan belajar siasat politik, merangkul lawan jadi teman, bikin strategi di parlemen. Maka, PDIP yang menang pemilu 9 April 2014 kembali terantuk batu yang sama. Menang pemilu tapi tidak dapat posisi apa pun di DPR, MPR, bahkan komisi.

PAN dan PKS yang suaranya sedikit justru menduduki banyak kursi penting di legislatif. PDIP lagi-lagi gagal menggalang koalisi dan hanya bisa interupsi, walkout, stres. Bu Mega sebagai ketua umum PDIP rupanya tidak sadar bahwa kursinya di parlemen masih jauh di bawah 50 persen!

Suara 20 persen sama saja dengan 10 persen, 7 persen, atau 5 persen. Bahkan, PDIP membuktikan bahwa suara 20 persen malah lebih buruk ketimbang 7 persen. Kasihan PDIP! Kasihan Bu Mega! Kasihan Puan! Kasihan semua kadernya yang sebetulnya gak jelek-jelek amat.

Masih untung PDIP punya kader cemerlang bernama Jokowi alias Joko Widodo. Jokowi menang dalam pilpres langsung pada 9 Juli 2014 meski beda suaranya dengan Prabowo tidak terlalu jauh. Seandainya pilpres lewat MPR bisa dipastikan Jokowi tak akan pernah jadi presiden. Selama tetap ikut PDIP yang naif itu.

Bagaimana jika pilpres kemarin yang menang Prabowo? Koalisi merah putih pendukung Prabowo akan menguasai secara sempurna posisi pimpinan di DPR, MPR, komisi, alat kelengkapan... dan presiden. Jangan harap koalisi Prabowo merelakan posisi legislatif kepada PDIP dan koalisinya yang lemah itu.

Koalisi merah putih ini raja tega, Bung! Beda dengan poros tengah yang tidak tega membiarkan Bu Mega kalah pilpres dan kalah pilwapres. Koalisi poros tengah juga berjasa menurunkan Gus Dur dan menaikkan Bu Mega ke kursi presiden kelima.

Sebagai partai besar, terlepas berbagai kelemahannya, PDIP sebetulnya punya modal yang kuat untuk membentuk koalisi 51 persen. Sejelek-jeleknya PDIP pasti adalah partai yang mau diajak kerja sama. Termasuk dengan Gerindra atau PKS atau PAN atau Golkar. Kebencian yang luar biasa terhadap PDIP tidak akan abadi. Bukankah politik itu urusan kepentingan, siapa dapat apa?

Sekarang tinggal kader-kader PDIP, khususnya Bu Mega sebagai orang nomor satu, untuk mendengarkan pesan Bung Karno: Jas Merah! Masak partai pemenang pemilu tidak mampu mengajak koalisi partai-partai lain! Kalau memang tidak bisa berkoalisi ya silakan berjuang agar bisa menang 50 persen. Dan itu bukan hil yang mustahal.