07 October 2014

Wayang Tionghoa-Jawa bangkit lagi

Saat ini Ki Subur sedang mementaskan wayang potehi di Kelenteng Krian, Sidoarjo. Pementasan dalam rangka sembahyang rebutan ini digelar selama 62 hari nonstop. Jemaat kelenteng, warga Tionghoa, gantian menanggap dengan biaya rata-rata Rp 600 ribu per hari.

Wayang potehi adalah wayang khas Tionghoa. Asalnya dari Tiongkok Selatan. Dibawa para perantau Tiongkok yang datang ke tanah Jawa sejak zaman penjajahan Belanda, bahkan sebelum itu. Belakangan wayang potehi ini malah dimainkan orang-orang Jawa macam Ki Subur dari Sidoarjo, Ki Mudjiono Surabaya, atau Ki Eddy Sutrisno Surabaya.

Pagi ini saya membaca berita singkat di koran Jakarta tentang wayang Tionghoa-Jawa atau wacinwa (wayang Cina-Jawa). Berbeda dengan potehi yang pakai boneka kain, kayak wayang golek, wacinwa ini sejatinya persis wayang purwa atau wayang kulit. Wayangnya dibuat dari kulit, sepenuhnya meniru wayang purwa yang terkenal itu.

Seperti disampaikan Darmoko, dosen UI, wayang Tionghoa-Jawa ini dirintis oleh Gan Thwan Sing (1895-1967) dari Klaten, Jawa Tengah. Orang-orang Tionghoa peranakan, sudah membaur dengan budaya Jawa, ingin menyajikan pertunjukan tentang cerita-cerita klasik Tiongkok dalam gaya wayang purwa. Lakon paling terkenal tentu saja Sie Jie Kui.

"Lakon-lakonnya sebetulnya sama dengan wayang potehi," kata Darmoko yang rajin meneliti aneka jenis wayang di tanah air.

Saya sendiri belum pernah melihat langsung pertunjukan wayang Tionghoa-Jawa ini. Namun, dari foto di koran dan keterangan singkat Pak Darmoko, bisa dipastikan bahwa permainan wayang purwa ala Tionghoa ini sama dengan wayang kulit Jawa. Cuma beda ceritanya saja.

Sebelum dilarang rezim Orde Baru, kabarnya wayang Tionghoa-Jawa ini juga digemari masyarakat Jawa di Jawa Tengah. Khususnya wilayah-wilayah yang banyak warga Tionghoa peranakan. Sayang, kolaborasi budaya Tionghoa-Jawa ini pelan-pelan berakhir akibat kebijakan Orde Baru. Semua yang berbau Tionghoa, apalagi Sie Jie Kui dan sejenisnya, dilarang sama sekali. Wayang Tionghoa-Jawa pun mati.

Nasib wayang potehi, yang juga dilarang dimainkan di tempat umum, masih jauh lebih baik. Sebab, wayang potehi bisa dipentaskan di dalam lingkungan kelenteng secara diam-diam. Orang Tionghoa yang aktif di kelenteng umumnya menaruh apesiasi yang tinggi pada potehi. Sebab, potehi dianggap bukan hiburan biasa, melankan kesenian untuk persembahan kepada para dewa.

Selain itu, wayang potehi yang asli Tiongkok sudah pasti dipentaskan di negara-negara lain yang ada warga keturunan Tionghoa. Di tempat asalnya, Tiongkok, khususnya Fujian, wayang potehi terus berkembang mengikuti zaman. Kalaupun dilarang di Indonesia, di negara-negara lain tentu masih jalan terus.

Sementara yang namanya wayang Tionghoa-Jawa, adanya ya hanya di Indonesia. Khususnya di Jawa. Khususnya lagi di Jawa Tengah. Lebih khusus lagi di Klaten. "Saya sendiri belum pernah lihat wayang Tionghoa-Jawa," kata Ki Subur, dalang wayang potehi yang sering diundang main di Jakarta dan sekitarnya.

1 comment:

  1. Hubungan yang harmonis antara warga etnis Tionghoa dengan warga setempat di seantero wilayah Nusantara selalu tercipta sejak ratusan tahun yg silam, hingga terjadi kawin mawin.

    Sayangnya hubungan yang baik itu selalu saja menimbulkan perasaan iri dari pihak pihak tertentu yang ingin merusaknya dari masa ke masa.

    Saat ini hubungan ini sudah cukup baik lagi, hanya saja sekarang perkawinan antara warga Tionghoa dan etnis lain relatif lebih jarang dibanding di masa masa yang telah lampau dahulu, disebabkan oleh makin ketatnya masalah agama.

    Semoga kedepannya hubungan ini akan selalu lebih baik.

    Jayalah Indonesia kita.

    ReplyDelete