28 October 2014

Suroan di Kelenteng Cokro Surabaya

Perayaan tahun baru Jawa, 1 Suro, di kelenteng? Itulah yang terjadi di Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya, Sabtu 25 Oktober 2014. Tradisi Suroan ini, yang sejatinya perayaan tahun baru Islam, bahkan sudah lama diadakan di kelenteng yang didirikan pada 1919 itu.

Layaknya masyarakat Jawa yang benar-benar njawani, kejawen, warga Tionghoa di kelenteng ini menyiapkan tumpeng lengkap. Kalau tidak salah, kemarin ada sekitar 50-60 tumpeng yang ditatakan di halaman kelenteng. Nama-nama pemilik tumpeng kemudian dibacakan agar didoakan secara khusus oleh Kiai Abdul Wahab, seorang modin atau ulama Islam asal Surabaya.

Tepat pukul 12.00 ritual Suroan ala Kelenteng Cokro dimulai. Umat duduk lesehan di halaman, dekat tumpeng, mengikuti doa yang dipimpin Kiai Wahab. Luar biasa! Bayangkan, rohaniwan muslim diminta memimpin doa bersama yang diikuti jemaat kelenteng yang sudah pasti bukan Islam.

"Ini kan tahun baru Islam. Jadi, lebih cocok yang mimpin doa ulama Islam. Kita lebih menekankan kebersamaan dan pelestarian tradisi budaya Jawa," kata Ibu Juliani Pudjiastuti, pengurus Kelenteng Hong San Ko Tee.

Sementara itu, Suhu Gunawan, rohaniwan Tridharma, duduk berdampingan dengan Kiai Wahab. Suhu Tionghoa-Surabaya ini sibuk mengurus perapian dan memercikan air suci (airnya sih aqua botolan) kepada jemaat. Ada juga biksu asal Thailand yang duduk meditasi di halaman.

Kiai Wahab memimpin doa dalam bahasa Jawa halus, dicampur Arab dan Indonesia. Isinya sangat universal: memohon kebijaksanaan untuk Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla serta kesejateraan dan kemakmuran untuk warga Indonesia. Khususnya umat Kelenteng Hong San Ko Tee. Khususnya lagi umat yang mnyumbang tumpeng suroan tadi.

Upacara berangsung selama 40-an menit. Tumpeng-tumpeng itu kemudian dibawa pulang oleh si empunya untuk bancakan tetangganya di rumah. Sebagian tumpeng dinikmati ramai-ramai di halaman kelenteng. Enak banget nasi kuning siang itu!

Saya pun mengajak sang biksu asal Thailand itu untuk makan siang bersama. Menikmati tumpeng khas Jawa di hari pertama bulan Suro atawa Muharram. Sang biksu langsung menjawab dengan bahasa Inggris, "No, no, no... thanks!"

Lho, kenapa? Nasinya enak banget?

"Kalau yang memberkati itu Sang Buddha, saya mau makan. Tapi makanan itu kan yang berkati dewa-dewa Tionghoa," ujarnya seraya tersenyum.

Hehehe... Saya hanya bisa tertawa kecil. Geli sekaligus sangat memahami prinsip dan keyakinan sang biksu.

No comments:

Post a Comment