16 October 2014

Rumah tua di Balongbendo Sidoarjo



Sejak zaman Belanda wilayah Kabupaten Sidoarjo yang sekarang merupakan daerah pertanian yang luar biasa. Pemerintah Hindia Belanda bahkan membangun sekitar 16 pabrik gula. Saat ini tinggal 4 yang beroperasi. Selain tebu, komoditas tembakau dan padi juga jadi andalan warga Sidoarjo.

Tidak heran di Sidoarjo ini banyak rumah-rumah tua, luas, tinggi, unik, arsitektur kolonial, di berbagai kawasan. Salah satunya di Kecamatan Balongbendo. Dulu ada Pabrik Gula Balongbendo yang sangat terkenal. Pabrik tua ini kemudian tutup, diganti pabrik tekstil Ratatex (Rahman Tamin Textile) yang pernah sangat terkenal. Kemudian tutup juga.

Salah satu kawasan menarik di Kecamatan Balongbendo adalah Desa Penambangan. Kampung pinggir Sungai Brantas yang dekat Kabupaten Gresik dan Kabupaten Mojokerto. Konon Penambangan ini tempo doeloe jadi sentra ekonomi di kawasan barat Jenggolo (nama Sidoarjo pada era Hindia Belanda). Kita masih bisa melihat beberapa bangunan lama berarsitektur Tionghoa di kampung itu.

Yang paling menarik adalah rumah tua di RT 11 RW 3 Desa Penambangan. Bangunan rumahnya sangat besar dengan halaman yang jembar. Pasti rumah saudagar kaya tempo doeloe. Sebab, di kompleks itu ada gudang tembakau dan tempat selep atau penggilingan padi. Sampai tahun 1980an selep itu bisa dikatakan paling besar di Sidoarjo.

"Saya generasi keempat yang tinggal di sini," kata Taufik Hidayat. Pak Taufik ini cicit dari almarhum Haji Abdul Wahab, saudagar kaya di Balongbendo.

Taufik bercerita, mbah buyutnya itu membeli rumah lawas ini dari pedagang Tionghoa yang terjerat utang. Mbah Wahab melihat lokasi rumah yang strategis, dekat sungai, jalur transportasi utama pada masa lalu. Di dekat rumah ada dermaga untuk bongkar muat hasil bumi, khususnya tembakau.

Sepeninggal Mbah Wahab, kakek Taufik meneruskan bisnis besar itu. Hingga perekonomian berubah setelah kemerdekaan. Pabrik Gula Balongbendo tutup. Usaha tembakau pun tak lagi seksi. Namun, bangunan tua itu masih terawat sampai sekarang. Termasuk musala di samping rumah yang biasa dipakai untuk pengajian.

Masjid kecil itu tidak akan dibongkar, sesuai pesan mbah-mbah yang mewariskan rumah itu. Meski Taufik sekeluarga beragama kristiani. "Wasiat almarhum selalu kami pegang teguh. Dan kami berusaha sebisa mungkin merawat rumah ini," kata putra Semaun Mukti ini.

Biaya perawatan bangunan tua ini memang tidak murah. Untuk mengganti genting saja, kata Taufik, biayanya hampir sama dengan membangun sebuah rumah sederhana. Karena beban yang berat ini, bekas gudang tembakau dan penggilingan padi tampaknya dibiarkan mangkrak. Hanya rumah induk yang sangat terawat.

Belakangan banyak anak muda, pelajar, mahasiswa, atau komunitas pencinta sejarah mampir untuk melihat (dan mengagumi) rumah tua. Wow, betapa nyamannya tinggal di rumah mewah ala Hindia Belanda itu. Taufik mengaku welcome dan senang dengan aspirasi warga Kota Delta. "Ada juga pasangan calon pengantin yang foto prewedding," katanya.

Sayang, tradisi jual beli makanan rakyat di halaman rumah ini tidak ada lagi. Acara-acara kesenian yang mengundang ratusan warga pun tak lagi diadakan. Akibatnya, Taufik dan istri kesepian tinggal di rumah peninggalan sang kakek buyut itu. Apalagi anak semata wayangnya kuliah di Surabaya.

4 comments:

  1. Agak scary juga yah...cocok buat uji nyali

    ReplyDelete
  2. luar biasa, rumah mewah yg sangat terawat.

    ReplyDelete
  3. perlu jadi contoh bagaimana melestarikan bangunan2 lama di kota sidoarjo.

    ReplyDelete
  4. Mirip sekali dengan rumah yang digunakan sebagai Islamic Centre diseberang Polsek Balongbendo,sebelum masuk bypass arah Krian, kiri jalan.

    ReplyDelete