07 October 2014

Pamer Senjata vs Kesejahteraan Tentara

Selasa, 7 Oktober 2014, hari ulang tahun ke-9 TNI dirayakan secara besar-besaran di Surabaya. Pamer senjata alias alutsista yang baru dan canggih (dan super mahal), demo kehebatan tentara, hingga atraksi sekitar 200 pesawat militer.

Bandara Internasional Juanda harus menyesuakan jadwal penerbangannya. Kabarnya, perayaan Hari TNI ini paling akbar dan istimewa. Sekaligus melepas Presiden SBY yang segera mengakhiri jabatannya pada 20 Oktober 2014. Presiden SBY mendapat apresiasi tinggi dari jajaran TNI karena dinilai berhasil memodernkan persenjataan militer kita di tengah keterbatasan anggaran.

Saya sendiri dari dulu tidak tertarik dengan show of force, pamer senjata, manuver pesawat, senjata-senjata modern, dan sebagainya. Toh, itu kan cuma latihan biasa! Yang paling penting justru kemampuan tempur di medan perang sebenarnya.

Dulu, tentara-tentara kita biasa "latihan" perang di Timor Timur dan Aceh. Begitu banyak anggaran untuk militer untuk operasi di Timtim dan Aceh. Sekarang Timtim sudah jadi negara merdeka bernama Timor Leste.

Aceh juga sudah 80 persen merdeka. Aceh punya partai-partai lokal sendiri, punya konstitusi sendiri, pakai hukum Islam, bukan hukum nasional Indonesia yang berdasarkan Pancasilan. Orang-orang di Aceh yang melanggar qanun (konstitusi) dihukum cambuk. Ketahuan pacaran dicambuk. Minum bir atau tuak juga dicambuk... kalau ketahuan. Aceh ini memang lain dari lain.

Kembali ke Hari TNI yang istimewa di Surabaya dan Sidoarjo. Selain pamer senjata, show of force, menurut saya, yang paling penting itu kesejahteraan tentara. Bukan apa-apa, sebagian besar prajurit kita masih tinggal di barak yang sangat sederhana. Penghasilan prajurit rendahan juga masih jauh dari (istilah serikat buruh) KHL: kebutuhan hidup layak.

Karena itu, teman-teman tentara, lebih tepatnya OKNUM, terpaksa mencari tambahan penghasilan dari sumber-sumber lain yang abu-abu. Ada saja oknum yang jadi beking ini, beking itu, dan sebagainya.

Mudah-mudahan presiden baru, Joko Widodo, lebih memperhatikan kesejahteraan prajurit TNI di seluruh Indonesia. Revolusi mental di jajaran TNI dan Polri tidak akan jalan selama prajurit kita masih pusing tujuh keliling memikirkan urusan perut, biaya anak sekolah, tagihan air, listrik, dan sebagainya.

Dirgahayu TNI!

4 comments:

  1. Bung Hurek, benar sekali. Contoh dari Timor Leste dan Aceh ialah, jalan kekerasan secara militer tidak akan menyelesaikan permasalahan. Diplomasi dan menyelesaikan akar permasalahan akan lebih membawa perdamaian dan kemakmuran. Militer perlu untuk membeking diplomasi oleh sipil, dan untuk membela diri.

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek...jadi kontribusi.apa yang bisa anda berikan untuk kemajuan dan kesejahteraan TNI?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai rakyat, saya hanya ingin tentara bekerja dengan jujur, disiplin, bersih, gak neko2, taat sapta marga dan sumpah prajurit agar dicintai rakyat Indonesia. Sederhana aja Mas!

      Delete
  3. oknum2 TNI dan Polri itu banyak banget... kalo gak ada ceperan ya sulit hidup dr gaji aja..

    ReplyDelete