17 October 2014

Mbah Sam fotografer Tionghoa Sidoarjo

Mbah Sam yang mracang di depan kantor Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, ternyata fotografer kawakan. Melihat penampilannya, pria 74 tahun ini sama saja dengan kakek-kakek biasa. Tapi, begitu diajak bicara, wow, pengetahuannya tentang masa lalu, khususnya Sidoarjo tempo doeloe sangat luas.

"Saya punya foto-foto lama, khususnya yang mengambil objek di Kecamatan Taman," kata Mbah Sam kepada saya Jumat siang (17 Oktober 2014).

Maklum, pada 1960an hingga 1990an belum ada kamera digital. Kamera analog juga langka dan mahal. Karena itu, hanya orang-orang beruang saja yang hobi jeprat sana sini tanpa mengharapkan dapat uang. "Saya spesialis human interest. Kalau ada peristiwa-peristiwa penting, saya usahakan motret," katanya seraya seraya tersenyum.

Saya pun curiga kakek yang pakai nama Arab ini keturunan Tionghoa. "Maaf, nama Tionghoa panjenengan siapa?"

"Lee Tjin Sam. Teman-teman di sekolah Tionghoa dulu biasa panggil saya Tjin Sam. Sekarang saya disapa orang-orang di sini Mbah Sam," kata sang fotografer yang kini harus duduk di kursi roda karena kecelakaan lalu lintas itu.

Dugaan saya memang tepat. Mbah Sam kemudian meminta saya melihat beberapa foto lawas hasil jepretannya. Ada makam Tionghoa yang dibongkar untuk perumahan. Toko-toko Tionghoa di jalan protokol. Hingga sekolah Tionghoa. "Sekolah kami tutup setelah peristiwa 30 September 1965," katanya.

Lokasi sekolah Tionghoa tingkat sekolah dasar itu sekarang jadi SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Beberapa rumah berarsitektur Tionghoa masih ada. Hanya saja kusam karena tidak terawat.

Yah, dulu Sepanjang yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya ini punya banyak warga Tionghoa. Setelah tragedi politik berdarah itu, menyingkir ke Surabaya. Tapi masih lumayan warga Tionghoa yang tinggal dan menyatu dengan penduduk lokal. Termasuk Pak Bingky Irawan, tokoh agama Khonghucu di Indonesia.

Kelentengnya dulu di mana? "Ya, satu kompleks dengan sekolah Tionghoa itu. Orang Tionghoa yang mau sembahyang selalu datang ke situ," tutur Mbah Sam.

Sempat diubah fungsi jadi tempat pertemuan warga Tionghoa, kelenteng itu kemudian tutup. Tak ada bekasnya lagi. Sudah diratakan untuk bangunan sekolah Muhammadiyah itu. "Peristiwa tahun 1960an itu mengubah begitu banyak hal di Taman ini. Kondisi sekarang sudah sangat berbeda," katanya.

Ngobrol dengan orang tua yang kaya pengalaman dan wawasan ini memang asyik nian. Saya jadi betah berlama-lama di kios sederhananya yang berdebu. Apalagi Mbah Sam ini suka guyon dan blak-blakan.

"Dulu saya ini petualang. Tapi, alhamdulillah, sekarang sudah taubat nasuha. Saya ingin mengakhiri perjalanan hidup ini dengan baik. Insya Allah," kata Mbah Sam.

Saya begitu kagum dengan memori di kepala Mbah Sam yang luar biasa. Dia ingat persis tahun-tahun kapan peristiwa di dalam fotonya itu terjadi. Seperti kapan makam Tionghoa dibongkar. Kapan Gubernur Sunandar meresmikan perumahan khusus untuk tunawisma di dekat kantor Polsek Taman sekarang.

"Perumahan tunawisma itu nggak ada lagi karena dijual penghuninya. Kemudian ditempati banyak orang baru sehingga jadi kampung padat," katanya.

Wow, ternyata dulu negara menyediakan perumahan khusus untuk gelandangan dan pengemis. Bukan hanya sekadar razia, menangkap, tapi tidak kasih solusi. Itu semua direkam Mbah Sam lewat kamera analognya. Tapi, namanya juga tunawisma yang bertahun-tahun hidup beratap langit, mereka lebih suka menjual rumah pemberian gubernur itu dan kembali lagi menjadi tunawisma.

Kamsia Mbah Sam!

1 comment:

  1. Lho ??!!!... iki lak Koh Sam rek !!.... full pengalaman tentang jepret2an daerah Sepanjang emang Koh Sam ini...... nek onok maling ketangkep trus digowo di Kantor Polisi Ketegan, Mesti Koh Sam iki sing Njepret gawe dokumentasine........ Nyang ndi2 mesti kalungan Kamera biyen..... Mugo2 sehat terus Koh Sam... (foto2 arek2 Drum Band Muhammadiyah msh ada gak ya Koh Sam ???).... heheheh tonggo dewe rek !!!

    ReplyDelete