22 October 2014

Kwik Kian Gie kok begitu?

Sudah sangat lama saya tidak membaca analisis ekonomi Kwik Kian Gie. Sebab memang tulisan Pak Kwik tidak muncul di koran-koran utama seperti Jawa Pos, Kompas, atau Tempo. Mungkin Pak Kwik sibuk mengurusi sekolah, kampus, atau perusahaannya sehingga tidak sempat menulis?

Eh, secara tak sengaja saya menyaksikan Kwik Kian Gie muncul di tvOne saat saya mampir ke sebuah kafe. Acara ILC yang dipandu Karni Ilyas. Pak Kwik dikasih kesempatan bicara cukup lama.

"Kok gini ya omongan Pak Kwik? Tidak seperti Pak Kwik yang analisis ekonomi politiknya saya baca bertahun-tahun. Bahkan bukunya saya beli," kata saya dalam hati.

Bukan apa-apa. Omongan Kwik Kian Gie di forum ILC itu kata orang Jawa: sengak! Gak enak didengar. Begitu berbeda dengan suara mayoritas rakyat Indonesia dan kalangan penggiat demokrasi.

Kwik Kian Gie masih mengaku kader PDI Perjuangan tapi kritiknya terhadap PDIP, Jokowi, Megawati sangat keras. Lebih keras daripada partai-partai yang jelas musuh ideologis PDIP. Jokowi yang sudah dilantik jadi presiden pun disikat habis-habisan.

Seakan-akan semua omongan dan kebijakan Jokowi itu salah, gak ada yang benar. Yang benar itu ya Kwik Kian Gie itu. Karni Ilyas sang moderator pun seakan memberi angin kepada Kwik untuk menumpahkan semua unek-uneknya yang panas terhadap Jokowi. "Kok jadi gini Kwik Kian Gie yang dulu teman seiring barisan oposisi Orde Baru?" saya membatin.

Pemikiran Kwik Kian Gie soal BBM pun rasanya lain sendiri. Sejak dulu dia menafikan argumentasi pemerintah tentang besaran subsidi. Andai saja cara berpikir Kwik ini dipakai, pemerintah tak perlu pusing dengan subsidi yang membengkak. Argumentasi Kwik ini selalu dipakai pihak oposisi yang menolak beleid kenaikan harga BBM.

Posisi Kwik Kian Gie sebelum dan sesudah reformasi rupanya sudah jauh berbeda. Kalau dulu dia jadi bahan bakar barisan pro demokrasi untuk melawan hegemoni Orde Baru, kini Kwik cenderung berseberangan dengan arus demokrasi. Misalnya, Kwik getol membela pemilihan kepala daerah secara tidak langsung.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa analis-analisis ekonomi politik Kwik Kian Gie tidak lagi muncul di media-media utama. Kecuali tvOne pimpinan Karni Ilyas yang sangat gigih membela koalisi Prabowo Subianto.


Sent from my BlackBerry

2 comments:

  1. KKG itu oposan sejati yg akan selalu kritis kepada pemerintah, termasuk pemerintahan dari partainya sendiri. Bahkan ketika jadi menteri pun KKG ini bicara dan bersikap seperti oposisi. makanya gak dipakai sama bu Megawati. tapi orang2 berwatak pengganggu kayak KKG sangat perlu untuk kontrol pemerintah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, ga juga. masalahnya namanya kritikus kalo ga ada yang dikritik pun akan dikritik abis2an. susah cari orang yang punya motivasi murni dan jikalau pihak yang dikritik sudah melakukan yang benar, banyak yang tidak mau mengakuinya. Inilah yang bermasalah

      Delete