09 October 2014

Fenomena Gereja tanpa gereja

Orang Kristen biasa membedakan gereja (g huruf kecil) dan Gereja (G kapital). Bangunan atau rumah ibadah itulah gereja. Sementara persekutuan umat atau jemaat disebut Gereja. Kita boleh tidak punya gereja asalkan tetap ada Gereja. Akan sangat ideal kalau sebuah Gereja punya gereja. Tapi, kalaupun tidak punya gereja, yang penting ada Gereja. Banyak bangunan gereja di Eropa mangkrak, jadi museum atau kafe, karena Gereja-nya bubar. 

Bagaimana kalau gereja sulit dibangun karena ditolak warga atau pemerintah daerah (yang antigereja)? Gampang. Sewa aula, gedung pertemuan, restoran, ruko, atau apa saja yang memungkinkan. Kebaktian di bawah pohon atau tepi pantai pun bisa. Yang penting Gereja sebagai Ecclesia masih ada. Bukankah para murid dulu pun merintis Gereja meskipun tidak punya gereja?

Karena itu, tidak heran di kota-kota besar macam Surabaya ini banyak sekali Gereja yang tidak punya gereja! Ada teman saya yang aliran karismatik dalam setahun pindah-pindah tujuh kali. Dari hotel A, kemudian hotel B, ballroom X, gedung WTC, dan sebagainya. Saking seringnya pindah-pindah tempat, Gereja-Gereja macam ini biasanya tidak punya semangat untuk bikin gereja.

"Susah dapat izin," kata seorang pendeta. "Toh, kami bisa nyewa ruangan di pusat perbelanjaan atau hotel," kata yang lain lagi.

Orang NTT, khususnya Flores, yang mayoritas Katolik, pasti sangat heran dengan fenomena Gereja tanpa gereja di Jawa yang sudah berlangsung sejak 1980an itu. Bagi orang Flores, sebuah Gereja harus punya gereja. Sebuah Gereja tanpa gereja tidak afdal. Lebih mirip doa lingkungan, sembahyang rosario keliling, atau syukuran di rumah jemaat. Begitu antara lain omongan guru agama Katolik saya di SMPK San Pankratio, Larantuka, Flores Timur, dulu.

Karena itu, bagi orang Flores, yang belum pernah merantau ke Jawa atau daerah-daerah yang kistennya minoritas, mengadakan misa atau kebaktian di hotel, ruko, restoran, garasi, rumah, gudang... dianggap tidak sah. Misa atau ibadat sabda tanpa imam harus di gereja. Paling tidak di kapel. Jangan salah, kapel di NTT umumnya lebih besar daripada gereja beneran di Jawa.

"Gereja itu harus punya tabernakel. Gereja itu bangunan khusus yang diniatkan untuk Tuhan. Kalau hotel kan bisa dipakai untuk apa saja," kata Pak Goris dari Ende yang memang Katolik puritan.

Dia juga menolak kebiasaan orang-orang karismatik Katolik di Surabaya atau Jakarta yang suka mengadakan misa di hotel atau gedung yang bukan gereja. Kebiasaan gerakan karismatik ini dianggap tidak cocok dengan ajaran Katolik. "Kecuali Anda di suatu daerah yang memang tidak ada gerejanya. Lha, kalau ada gereja lalu bikin misa di hotel atau convention hall, ya jelas aneh," kata Pak Goris.

Ucapan orang Katolik totok ini mengingatkan saya pada situasi di Sampang. Sampang adalah satu-satunya dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur yang tidak punya gereja. Pemerintah daerah, bupati, pejabat, dan beberapa tokohnya bangga karena di Kabupaten Sampang tidak ada tempat ibadah agama di luar Islam.

Lantas, apakah di Sampang memang tidak ada orang Katolik? Protestan, Pentakosta, Karismatik, Buddha, atau mungkin Hindu? Pasti ada lah. Orang Tionghoa ada di sana sejak dulu. Dan pasti ada yang nonmuslim. Pasti ada juga warga pendatang yang kristiani.

"Kami dari dulu misa pindah-pindah rumah," ujar seorang ibu Katolik, Tionghoa, pengurus Stasi Sampang, kepada saya. Belakangan umat Katolik rutin mengadakan perayaan ekaristi mingguan di sebuah gudang tua yang kondisinya kurang layak untuk ibadah. Yah, namanya saja gudang, tua pula!

Stasi Sampang ini masuk Paroki Pamekasan, kabupaten tetangganya. Bangunan Gereja Katolik di Pamekasan justru sangat megah di kawasan alun-alun nan strategis. Misa mingguan di Sampang dilayani romo ordo Karmelit (OCarm) dari Paroki Pamekasan. Sebab, Pulau Madura ini masuk Keuskupan Malang meskipun lebih dekat dengan Keuskupan Surabaya. Pembagian wilayah keuskupan di Indonesia sejak zaman Belanda memang belum diubah sampai sekarang.

Nah, Sampang ini contoh nyata Gereja tanpa gereja di Jawa Timur. Umat Katolik, kata ibu Tionghoa pengurus stasi itu, sekitar 200 orang. Aktif misa setiap Minggu, begitu juga punya kegiatan liturgis lainnya layaknya Gereja-Gereja normal meski belum diizinkan oleh pemerintah untuk membangun gereja sendiri.

"Umat Katolik di Sampang ini sangat rajin," kata mama itu.

Gereja sistem gerilya alias bawah tanah seperti di Sampang ini jelas tidak sesuai dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Seandainya umat kristiani di Sampang terlalu sedikit untuk punya gereja, pemda mestinya punya solusi. Misalnya, memfasilitasi pembangunan sebuah gereja oikumene yang bisa dipakai semua denominasi Gereja di Kabupaten Sampang secara bergiliran.

Misalnya, Katolik dapat jatah kebaktian sesi pertama. Sesi kedua untuk Protestan (GKJW, GPIB, GKI). Sesi ketiga untuk aliran Pentakosta. Seksi keempat Karismatik. Gereja Advent sudah pasti dapat jatah kebaktian hari Sabtu karena ajarannya memang menolak kebaktian hari Minggu. 

No comments:

Post a Comment