02 October 2014

Batik Sekardangan Makin Merana

Ibu Sugiati bersama sehelai kain batik sekardangan buatannya.

Sejak zaman penjajahan Belanda, wilayah Distrik Jenggolo atau Kabupaten Sidoarjo memiliki beberapa sentra batik tulis. Di antaranya, Kedungcangkring (Kecamatan Jabon), Sekardangan (Sidoarjo), Jetis (Sidoarjo), dan Kenongo (Tulangan). Sayang, saat ini hanya sentra batik tulis Jetis dan Kenongo yang bangkit kembali seiring melejitnya batik pada 2 Oktober 2009.

Kejayaan Sekardangan sebagai sentra batik tulis terkenal dari Kota Delta (kini jadi Kota Lumpur) pun tinggal sejarah. Nyaris tidak ada lagi sisa-sisa rumah batik dengan kesibukan ibu-ibu menekuni kerajinan batik sepanjang hari. Syukurlah, saat ini masih ada seorang ibu yang berusaha melestarikan tradisi batik Sekardangan meskipun dengan tenaga, modal, dan sumber daya yang sangat terbatas. Dialah SUGIATI, 60 tahun, warga Jalan Wahidin III, Sekardangan.

"Lha, kalau bukan orang Sekardangan sendiri yang melestarikan, terus siapa lagi? Masak, batik asli Sidoarjo dilestarikan ibu-ibu di daerah lain," ujar Sugiati yang saya temui di rumahnya akhir pekan lalu (27/9/2014).

Di rumah Sugiati yang masuk gang sempit ini tak terlihat kesibukan karyawan mengerjakan batik layaknya rumah produksi batik papan atas. Yang ada hanya tumpukan kain batik di ruang tamu. Sebagian batik sudah jadi, ada yang setengah jadi, ada juga yang masih berupa sketsa.

Sugiati membuat gambar sketsa sesuai dengan motif yang dikembangkan almarhumah Ami, neneknya. "Mbah saya itu (Ami) dulunya salah satu perajin batik di Sekardangan ini. Makanya, sejak kecil saya sudah biasa mengerjakan batik. Rumah saya juga baunya bau batik," kata wanita yang suka bercanda ini.

Ketika masih kecil, Sugiati yang lahir di Sekardangan, 3 September 1954, ini mengatakan, kerajinan batik khas Sekardangan sangat diminati warga baik dari Kabupaten Sidoarjo maupun luar Sidoarjo. Para pedagang dari berbagai kota datang memesan batik untuk dijual kembali. "Paling banyak dari Madura. Sejak dulu orang Madura punya keterikatan dengan batik asal Sidoarjo," ujarnya. 

Tak heran, motif batik Madura sedikit banyak terpengaruh oleh batik Sidoarjo, khususnya Sekardangan. Sayang, kejayaan batik Sidoarjo, tak hanya Sekardangan, perlahan-lahan surut akibat perkembangan ekonomi di Kota Delta. Begitu banyak pabrik berdiri, begitu juga perumahan-perumahan baru.

Anak-anak yang lahir pada tahun 1970-an (apalagi 1990-an dan 2000-an) ini sudah tidak lagi tertarik menekuni kerajinan batik yang dirintis mbah buyut mereka. "Anak-anak lebih suka jadi karyawan, kerja di pabrik, atau buka usaha lain di luar batik," katanya.

Bahkan, dua anak Sugiati, hasil pernikahan dengan Suyoso, pun tak tertarik meneruskan usaha batik Sekardangan. Maka, perlahan tapi pasti, sentra batik di dalam kota Sidoarjo ini meredup. Satu demi satu rumah produksi tutup. Sebab, perajin batik seperti Sugiati ini sangat sulit mendapat karyawan yang betah berjam-jam untuk membatik. 

"Kerja membatik itu lama, tapi hasilnya belum tentu bagus. Ibu-ibu lebih suka kerja di pabrik," ucapnya seraya tersenyum.

Saat ini, September 2014, Sugiati hanya memiliki tujuh karyawati. Namun, mereka tak lagi bekerja di rumahnya, Jalan Wahidin III, melankan di kota lain karena ikut suami. Salah satu pembatik andalan Sugiati tinggal di Tulungagung. "Saya gambar di sini, kemudian antar ke Tulungagung untuk dibatik. Kadang-kadang saya sendiri juga ikut mbatik kalau pesanannya terlalu mepet," katanya.

Sugiati mengaku sudah sering mengajak para remaja atau ibu-ibu muda untuk belajar membatik di rumahnya. Lulusan PGA Islam ini juga sering diminta memberikan pelatihan membatik di berbagai tempat. Namun, hampir tidak ada yang berminat untuk terjun secara total dalam produksi batik tulis Sekardangan. 

Pihak Kelurahan Sekardangan pun berkali-kali mencoba menghidupkan seni batik warisan leluhur ini. "Yah, mau bagaimana lagi? Orang kerja itu nggak bisa dipaksa. Kalau memang nggak suka, ya, kita nggak bisa maksa," katanya.  (*)

1 comment: