16 October 2014

8 Mahasiswa Sidoarjo Kuliah di Taiwan




Pekan lalu, delapan alumnus SMA Wachid Hasyim, Taman, diberangkatkan ke Taiwan. Mereka akan melanjutkan studi di Shoufu University, perguruan tinggi di Taiwan yang banyak menerima mahasiswa internasional.

"Adik-adik dari Sidoarjo ini mendapat sambutan yang hangat di Taiwan," ujar Andre Su, pengurus ITC Centre, Surabaya.

Belajar di negara dengan adat istiadat, bahasa, dan sistem pendidikan yang berbeda jelas tidak mudah. Karena itu, Andre mengaku mempersiapkan anak-anak Ngelom, Taman, ini selama hampir enam bulan. Mulai dari pengenalan budaya, sistem kuliah, hingga bahasa Mandarin. "Syukurlah, ternyata mereka sudah dapat pelajaran bahasa Mandarin di sekolahnya," kata pria yang juga alumnus sebuah universitas di Taiwan itu.

Hanya saja, Andre mengingatkan bahwa bahasa Mandarin yang diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Timur masih sangat elementer. Itu pun belum sempurna karena tidak ada penutur asli. Karena itu, delapan siswa SMA Wachid Hasyim ini mengikuti kelas intensif untuk mendalami bahasa nasional Tiongkok itu. "Saya nilai mereka sudah bisa berkomunikasi meskipun masih terbatas pada hal-hal sederhana," katanya.

Seperti mahasiswa-mahasiswa sebelumnya yang dikirim Indonesia Tionghoa Culture Centre, pria yang juga dikenal dengan nama Andrean Sugianto ini sangat optimistis anak-anak muda asal Taman ini bakal sukses dalam kuliah mereka. Adapun kendala bahasa, menurut dia, biasanya hanya dirasakan pada bulan-bulan pertama.

"Di kampus Shoufu University itu kuliahnya dalam dua bahasa. Awalnya pakai bahasa Inggris, kemudian pelan-pelan mahasiswa asing dibiasakan untuk kuliah dalam bahasa Mandarin," ucapnya.

Sembari mengikuti perkuliahan sesuai jurusan masing-masing, Andre menjelaskan, para mahasiswa asing juga digembleng dalam kelas khusus bahasa Mandarin. Mereka juga dikondisikan untuk berada di lingkungan yang sepenuhnya berbahasa Mandarin. "Itu yang membuat para mahasiswa Indonesia rata-rata bisa menyelesaikan kuliah di Taiwan dengan baik."

Sistem kuliah di Taiwan juga menggunakan satuan kredit semester (SKS) seperti di Indonesia. Hanya saja, beban kuliah jauh lebih berat karena para mahasiswa harus mengerjakan banyak tugas. Khusus mahasiswa asing harus mengikuti kelas khusus Mandarin pula. "Tapi biasanya empat tahun sudah selesai S1. Kalau molor sampai enam tahun, ya, DO," katanya.

Sebagai penerima beasiswa, menurut pria asal Gorontalo ini, delapan mahasiswa baru asal Taman ini hanya membayar 50 persen biaya pendidikan. Mereka juga mendapat fasilitas lain yang tidak dinikmati mahasiswa-mahasiswa nonbeasiswa. "Kalau ditotal, anak-anak Sidoarjo itu hanya membayar Rp 7 juta setahun. Jauh lebih murah ketimbang kuliah di Eropa atau Amerika," katanya.

No comments:

Post a Comment