02 September 2014

Wayang Potehi 62 Hari di Krian



Sejak 15 Agustus 2014, Ki Subur bersama Grup Fuk Ho An menggelar pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Teng Swie Bio, Krian. Pentas wayang boneka dari kain ala Tiongkok ini berlangsung setiap hari selama 62 hari.

"Pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Krian ini berlangsung hingga 15 Oktober 2014. Setiap hari digelar dua sesi sampai pukul 20.30," ujar Ki Subur.

Pria asli Jawa yang menekuni kesenian Tionghoa sejak remaja ini merupakan satu-satunya dalang wayang potehi di Kabupaten Sidoarjo. Selain di Kelenteng Krian, setiap tahun Ki Subur menggelar pertunjukan di halaman Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah, Sidoarjo. Lama pergelaran biasanya satu bulan hingga dua bulan.

"Kalau wayang kulit biasa cuma main semalam suntuk, wayang potehi ini mainnya bisa satu bulan, dua bulan, bahkan bisa lebih," kata dalang yang sering ditanggap ke Jakarta, Tangerang, Semarang, dan sejumlah kota lain di tanah air itu.

Pertunjukan boneka potehi di Krian ini, menurut Subur, untuk memeriahkan perayaan King Hoo Ping atau sembahyang leluhur yang jatuh pada pertengahan Agustus lalu. Ki Subur menawarkan lakon tentang kepahlawanan pendekar Kwee Tjoe Gie dari  Dinasti Tong.

Pendekar ini dikenal sebagai sosok yang selalu tampil membela wong cilik ketika ditindas oleh penguasa yang lalim. "Kwee Tjoe Gie dan Sie Djin Kwie itu lakon yang paling disukai orang Tionghoa di Indonesia," tuturnya.

Selama dua bulan penuh, Ki Subur yang dibantu empat pemusik dan asistennya mencicil cerita sedemikian rupa hingga tuntas. "Namanya juga dalang, cerita itu bisa dibuat panjang atau pendek sesuai kebutuhan. Kalau diminta tampil 30 menit, ya, ceritanya saya padatkan. Tapi, kalau main dua bulan ya ceritanya lebih detail dan panjang," tutur pria bernama asli Sugiyo Waluyo itu.

Lamanya pertunjukan wayang potehi ini, diakuinya, tidak lepas dari kepedulian warga Tionghoa di Krian untuk melestarikan seni budaya leluhurnya. Karena itu, jemaat kelenteng di pinggir Jalan Raya Krian ini bergotong-royong untuk menanggung biaya pertunjukan. Nilai tanggapan wayang potehi ini bervariasi antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta per hari.

Ada pengusaha yang menyumbang Rp 3 juta untuk tiga hari. Ada juga jemaat yang nanggap enam hari dengan nilai Rp 3,6 juta. "Tapi ada juga yang cuma memesan satu hari saja. Kalau kebetulan nggak ada yang nanggap, maka pengurus kelenteng yang nanggap," katanya.

Taruhlah setiap malam grup potehi asal Kota Delta ini dibayar Rp 600 ribu. Maka, dalam dua bulan Ki Subur dan anak buahnya mendapat Rp 36 juta. "Masih kalah jauh sama dalang wayang kulit. Tapi, yang paling penting, wayang potehi tetap eksis sehingga saya dan teman-teman bisa main terus," katanya lantas tertawa kecil.

11 comments:

  1. Tionghoa Indonesia4:37 AM, September 04, 2014

    Waktu kecil saya suka diajak mama saya nonton wayang potehi, tapi krn waktu itu hanya berumur 4 tahun, saya sudah lupa ceritanya. Kalau Sie Djien Koei saya pernah lihat bukunya. Tetapi kalau Kwee Tjoe Gie belum pernah.

    Setelah cari-cari, Kwee Tjoe Gie itu dalam ejaan Mandarin disebut Guo Ziyi, lengkapnya sejarah pahlawan ini bisa dilihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/Guo_Ziyi

    ReplyDelete
  2. Kamsia banyak mas Tionghoa Indonesia. Saya juga sempat cari2 di Google siapa gerangan Kwee Tjoe Gie itu tapi tidak ketemu. Ketemunya mbulet ke berita pementasan wayang potehi Ki Subur dengan lakon yg sama di Semarang. Ki Subur sendiri juga gak tahu nama Mandarin pendekar Kwee Tjoe Gie tersebut. Rupanya belum ada orang muda Tionghoa yg membahas cerita kepahlawanan Kwee Tjoe Gie di internet.

    Kamsia, dengan diketahui nama Mandarinnya, Guo Ziyi, kita bisa membaca sejarah Kwee Tjoe Gie di internet (bahasa Inggris) yang lengkap dan komprehensif. Rupanya orang Tionghoa di Indonesia punya sebutan sendiri untuk nama2 pendekar Tionghoa. Barangkali Mr Xi Jinping sendiri pun bingung kalau ditanya siapakah Kwee Tjoe Gie itu. Sekian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tionghoa Indonesia1:42 PM, September 12, 2014

      Pinyin-nya Guo Ziyi, tapi kalo lidah Jawa bacanya: Kuo Tje-yi.

      Delete
    2. Mungkin Kwee Kian Gie (Hok Kian) itu Guo Jian Yi (Mandarin) 郭 健 儀
      gitu ya

      hehehe

      Delete
    3. Tionghoa Indonesia7:02 AM, April 10, 2015

      Bung Hurek, kalau Sie Djien Koei itu Xue Rengui (lidah jawa: Syüe Ren Kui). ü umlaut itu untuk mengingat bibir agak dimonyongkan sambil membaca "sie" hehehe. Kamsia, cak.

      Delete
    4. @Tionghoa Indonesia dan om Hurek
      Beberapa teman kesulitan menemukan namanya sendiri juga nama mendiang orang tua mereka dalam aksara Kanji.

      Yang teman teman itu punya terbatas nama dalam dialek Hok Kian dalam ejaan Indonesia lama

      Kasihan juga ya

      Apakah ada buku atau petunjuk petunjuk yang bisa dipakai dalam membantu pencarian aksara Kanji dari nama nama Hok Kian itu?

      Terima kasih

      Delete
    5. Wong Tji Lik, susah kalau ga tahu aksaranya. Anda tahu sendiri satu bunyi bisa arti macem2. Bisa ditebak kalau paling tidak tahu artinya. Jalan yang terbaik tanya sama encek2 di klenteng2 yg masih bisa bahasa Hokkian dan Mandarin. Harus cepat2 sebelum mereka pun lewat dari dunia ini.

      Delete
  3. mantabh...sy barusan jg dari sini kemarin...

    ReplyDelete
  4. upaya pelestarian seni tradisi yg perlu kita contoh untuk menjaga kesenian kita tidak punah. harus ada tindakan nyata dgn mengundang kelompok2 seni tradisional dlm hajatan2 kita. salut sama orang tionghoa.

    ReplyDelete
  5. wayang potehi ini bisa bertahan krn selalu ada pengusaha tionghoa yg menghidupi dan minat anak2 sekitar kelenteng kayak pak subur ini untuk mempelajarinya. sayang, wayang wong di jawa malah makin lama makin mati.

    ReplyDelete
  6. selamat sore, saya sedang mencari kontak dalang wayang potehi. mohon informasinya. terima kasih

    ReplyDelete