11 September 2014

Silvia setelah operasi tumor di mulut

BEFORE: Silvia sebelum dioperasi pada  6 Mei 2014.


Akhir-akhir ini Hengki Rumpuin lebih banyak merokok. Asap rokok mengebul tebal di serambi rumahnya di Desa Lebo, Sidoarjo, saat saya bertamu pekan lalu. Membaca kartu nama saya, dia memastikan saya orang NTT, khususnya Flores. Bung Hengki asli Ambon yang sudah karatan di Sidoarjo.

Empat bulan lalu putrinya, Silvia Putri Rumpuin, 11 tahun, jadi berita besar di koran gara-gara tumor di mulut. Daging liar itu memenuhi mulut sang putri. Tim dokter RSUD dr Soetomo berhasil mengangkat tumor ganas itu pada 6 Mei 2014.

Setelah operasi, Hengki dan Paniyem, istrinya, harus mendampingi Silvia untuk kemoterapi setiap dua minggu. "Sekarang sudah paket kelima. Rencananya enam paket. Kasihan beta punya anak ini. Dia punya badan sudah habis dimakan kemo," ujar Hengki dalam logat khas Maluku. Hengki punya istri, Paniyem, saat itu lagi kerja di pabrik sepatu PT Ecco, Candi, Sidoarjo.

Hengki rupanya masih jengkel dengan dokter di Sidoarjo yang salah mendiagnosa penyakit anaknya. Dibilang kena TBC, dikasih obat TBC, ternyata membuat daging di mulut Silvia terus membesar. Setelah diperiksa di dokter lain di Surabaya, baru dipastikan tumor ganas.

"Ada ungkapan mata ganti mata, gigi ganti gigi," ujar Hengki yang pernah sekolah pendeta mengutip ayat Alkitab. Saya senyum masam. Saya paham maksud Hengki yang tidak terima anaknya jadi korban salah diagnosa hingga tumor cepat mengganas.

"Jangan lupa, ada juga ungkapan: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang membenci kamu!" kata saya.

Perang ayat Alkitab memang biasa dilakukan orang-orang Maluku, Papua, atau NTT yang mayoritas penduduknya kristiani. Hengki pun tertawa kecil mendengar celetukan saya.

Sementara itu, Silvia duduk termenung sambil memain-mainkan kartu nama saya. Tak ada kata. Sejak menjalani kemoterapi, bukan saya badannya habis, Silvia pun malas bicara. Murid SDN Lebo, yang untuk sementara tidak bisa sekolah ini, hanya mau bersuara kalau minta ini-itu pada orang tuanya.

"Beta sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Beta dan istri gantian jaga Silvia. Uang simpanan juga sudah habis untuk beli susu, jus, dan kebutuhan dia. Mudah-mudahan Tuhan Allah kasih keajaiban untuk Silvia dan beta punya keluarga," katanya penuh harap.

Operasi tumor yang difasilitasi Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jawa Timur ini memang gratis. Begitu juga kemoterapi. Namun, sebagai orang biasa, bukan pengusaha besar, Hengki mengaku sangat berat menghadapi beban penderitaan yang dialami Silvia. Sebab, perawatan pascatindakan masih sangat panjang dan pasien remaja ini belum bisa dipastikan kapan sembuhnya.

"Bung Hengki, kalau sembuh nanti Silvia dimasukkan ke sekolah pendeta saja. Dia punya bapak gagal jadi pendeta, biarlah Silvia yang ganti," beta kasih usul setengah bercanda.

Hengki malah menanggapi dengan serius. "Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, Bung!" katanya.

Beta setuju. Kalau Tuhan menghendaki, Silvia pasti sembuh!

AFTER: Silvia di rumahnya, 6 September 2014.

1 comment: