16 September 2014

Pulau Tanjung Lumpur jadi hutan bakau

Prof Hardi Prasetyo bersama rombongan dari Juanda di Pulau Tanjung Lumpur, Sidoarjo.

Pekan lalu ada penghijauan di Pulau Tanjung Lumpur, Sidoarjo. Pulau buatan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) di muara Sungai Porong, Kecamatan Jabon, ini ternyata sudah meluas hingga 100 hektare. Padahal, pulau yang dibuat dari lumpur Lapindo ini belum genap 10 tahun.

Inilah bedanya pulau yang by design dengan 3 pulau kecil lain yang juga berada di muara Sungai Porong: Pulau Dem, Pulau Pitu, dan Pulau Kedung. Tiga pulau itu nyaris tak punya hutan bakau yang rimbun meski usianya sudah ratusan tahun. Yang ada cuma tambak-tambak sederhana.

Nah, BPLS yang memang punya kepentingan dengan pembuangan lumpur Lapindo sejak awal mendesain Pulau Tanjung Lumpur (warga setempat menyebut Pulau Sarinah) sebagai area penghijauan, budidaya ikan, penelitian, dan wisata laut. Prof Hardi Prasetyo, pakar BPLS yang lulusan University of California, USA, bahkan hampir setiap hari mondok di situ. Bikin penelitian, analisis lumpur, memantau muara Sungai Porong, dan sebagainya.

Saya beberapa kali bertemu Prof Hadi di Pulau Tanjung Lumpur. Orangnya ramah, sederhana, dan sangat antusias menjelaskan kebijakan BPLS terkait semburan lumpur, pengaliran lewat Sungai Porong, hingga endapan yang dimanfaatkan untuk membuat pulau. Melihat sosok Pak Hardi, orang pasti tak menyangka kalau beliau ini profesor doktor lulusan USA pula.

Dia blusukan tak kenal lelah karena passion-nya yang luar biasa terhadap sains. Berbulan-bulan ia meninggalkan keluarga di Jakarta, menyepi bersama beberapa asistennya, untuk riset di Pulau Tanjung Lumpur. "Pulau ini akan menjadi ikon dan kebanggaan Kabupaten Sidoarjo," katanya.

Saat ini sih hutan bakau atau mangrove belum terlihat lebat. Dus belum bisa disebut hutan. Tapi dengan penanaman yang intensif, tahun lalu 30 ribu pohon, minggu lalu 15 ribu pohon, Pak Hardi optimistis dalam 10 sampai 20 tahun mendatang Pulau Tanjung Lumpur bakal menjadi pulau mangrove terbaik di Indonesia. Asalkan pohon-pohonnya tidak mati dan pulaunya tidak digerus air laut di Selat Madura itu.

Abrasi memang jadi ancaman besar untuk Pulau Tanjung Lumpur. Jangankan pulau baru, tiga pulau lama, khususnya Pulau Dem, sering mengalami abrasi. Ini juga terkait pembalakan pohon bakau yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang bisa menjamin ribuan pohon di Pulau Tanjung Lumpur itu tidak akan ditebang oleh mafia kayu?

Selama lumpur Lapindo masih menyembur di Porong, BPLS tentu masih diperlukan. Pulau Tanjung Lumpur pasti dikontrol setiap saat. Namun, jika BPLS angkat koper, karena lumpurnya berhenti sendiri (sudah lama BPLS tak punya metode untuk menyumbat lumpur, selain menampung di kolam untuk dialirkan ke Sungai Porong), Pulau Tanjung Lumpur itu jelas akan ditinggal.

Lantas, Pulau Tanjung Lumpur mau diserahkan kepada siapa? "Itu akan dibicarakan kemudian. Sekarang kami fokus dulu dengan wanamina dan pemberdayaan masyarakat pesisir," kata Prof Hardi.
Rupanya ada blessing in disguise dari tragedi lumpur Lapindo ini. Kabupaten Sidoarjo ketambahan dua destinasi wisata baru yang sangat potensial. Pertama, wisata lumpur di Porong.

Pengunjung dari berbagai daerah penasaran melihat semburan lumpur yang terjadi sejak 29 Mei 2006 dan tak kunjung berhenti sampai sekarang. Lumpur kok gak mandeg? Airnya dari mana? Sampai kapan?

Objek wisata kedua adalah Pulau Tanjung Lumpur yang dikelola BPLS. Demi membuka akses ke pulau ini, BPLS memperbaiki jalan setapak dari Jembatan Porong hingga ke Dermaga Tlocor. Karena itu, jalan ke Tlocor di pinggir Sungai Porong yang dulu terburuk di Kabupaten Sidoarjo sekarang jadi yang terbaik di Sidoarjo.

1 comment:

  1. Wah menyesal saya, coba dulu waktu 4 tahun di Surabaya sempatkan berkunjung ke pulau itu ya...

    ReplyDelete