02 September 2014

Pulau Dem Hanya Dihuni 9 Orang



Empat tahun lalu, ketika pertama kali saya blusukan ke Pulau Dem di Dusun Pandansari, Desa  Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur, pulau di muara Kali Porong itu dihuni 35  jiwa. Kini, 1 September 2014, penghuni pulau seluas 500-600 hektare di depan Dermaga Tlocor itu tinggal sembilan orang.  Sebagian besar warga Pulau Dem memilih pindah ke desa-desa di sekitar Tlocor karena sulit mendapat air bersih.

Ada juga yang memilih kembali ke kampung asalnya di Blitar seperti Ibu Isparmini dan suaminya, Pak Supeno. "Mbah Saliyem meninggal dunia. Pak Subandi juga pindah karena anaknya harus sekolah. Kalau tinggal di Pulau Dem, bisa-bisa sekolahnya anak-anak berantakan," ujar Lihayati, pemilik warung di Pulau Dem, kepada saya.

Bu Yati, sapaan akrab Lihayati, tergolong penghuni lama pulau yang seluruh arealnya dijadikan lahan tambak itu. Sejak tahun 1980-an dia bersama suami bekerja sebagai pengurus tambak milik juragan dari Sidoarjo. Yah, penghuni pulau kecil ini memang semuanya keluarga penjaga tambak. Orang-orang sederhana yang sudah biasa tahan banting, tahan panas, tahan menderita.

Saat ini di Pulau Dem hanya ada dua rumah sangat sederhana. Yakni, Lihayati bersama suami, Slamet, dan dua anak mereka serta ibunda Lihayati yang sudah sepuh. Lantai dari tanah, dinding gedhek, lebih pantas disebut gubuk ketimbang rumah. Di belakang rumah ada kandang kambing. Bu Yati menambah penghasilan dari beternak kambing.

Satu rumah lagi ditempati Misnatum bersama istri, anak, dan seorang cucunya. Misnatun merupakan orang pertama yang babat alas dan membuka gubuk di Pulau Dem sejak 1977. Meski hidup dengan segala keterbatasan, khususnya air bersih, karena air sumurnya asin, Misnatun mampu bertahan di kawasan terpencil itu. Kehidupan ekonominya bahkan jauh lebih baik ketimbang kebanyakan warga Jabon di wilayah pesisir.

Pria asal Jember itu juga yang pertama kali memperkenalkan listrik dengan gensetnya pada 2010. Begitu juga televisi, VCD, hingga warung makanan dan minuman untuk para pengunjung dan penjaga tambak (yang tidak menetap). "Mbak Nar, cucunya Pak Misnatun, sudah cerai. Anaknya cantik lho," kata Bu Yati seraya tersenyum.

Berbeda dengan generasi pertama seperti Bu Yati, yang buta huruf, generasi kedua dan ketiga di Pulau Dem ini sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Karena itu, anak-anak mereka disekolahkan di SDN Kedungpandan. Lulus sekolah dasar, generasi ketiga ini mengajak orang tuanya untuk hijrah ke luar Pulau Dem. Agar mereka bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah.

Selain itu, mereka selalu kesepian dan tak punya teman bermain. "Tapi bapaknya si Bayu tetap kerja di sini sebagai buruh tambak," kata Bu Yati.

Kebutuhan warga Pulau Dem ini, menurut Bu Yati, sebetulnya tidak banyak. Yang paling penting adalah air bersih. Setiap hari mereka harus membeli air seharga Rp 5.000 per jeriken besar. Belum termasuk ongkos perahu tambang Rp 2.000 per orang. "Kalau musim hujan sih masih bisa menampung air hujan untuk mandi atau mencuci. Tapi, kalau musim kemarau seperti ini susah," katanya.

Sementara itu, Misnatun, kepala suku Pulau Dem, tenang-tenang saja meskipun permukiman Pulau Dem yang dirintisnya sejak 37 tahun lalu itu ditinggal sebagian besar penghuni. Pasalnya, setiap pagi hingga sore pulau ini selalu didatangi banyak pekerja tambak, pemancing, maupun pencari kepiting. Bahkan, malam hari pun ada saja orang yang memancing di kawasan tambak.

"Makanya, saya nggak pernah merasa kesepian. Tiap hari banyak orang yang cangkrukan di rumah saya," katanya.

Pak Misnatun rupanya tak punya keinginan untuk balik ke kampung halamannya di Jember. Suasana tambak yang tenang, jauh dari kebisingan, meskipun panas, sudah terlalu merasuk ke dalam dirinya. (rek)


2 comments:

  1. kalo mau kesana gimana mas hurek?

    ReplyDelete
  2. Lokasinya dekat Pulau Sarinah atau pulau lumpur buatan BPLS di muara Sungai Porong. Jalannya mulus dari Jembatan Porong lewat pinggir sungai bagian selatan (Gempol) lurus terus sekitar 10 km sampai ke Dermaga Tlocor. Di situlah tempat pembuangan akhir lumpur Lapindo yg terkenal itu.

    Tidak begitu jauh dari lokasi semburan lumpur Lapindo. Banyak orang Sidoarjo sendiri tidak tahu Pulau Dem atau Pulau Sarinah. Bilang saja mau ke pantai Tlocor. Nanti di Tlocor naik perahu tambangan sekitar 5 menit sudah sampai di Pulau Dem.

    suwun wis moco tulisanku.

    ReplyDelete