16 September 2014

Penyakit nginggris SBY kumat lagi




Koran-koran hari ini memberitakan Presiden SBY meresmikan bandara internasional Sepinggan di Balikpapan. SBY mengatakan begini:

 "It's not only airport, tetapi ini adalah centre of growth of economy, of services."

Presiden keenam ini memang sejak dulu punya kebiasaan (atau penyakit) bahasa yang disebut NGINGGRIS. Yakni suka mencampuradukkan kalimat atau frase bahasa Inggris di dalam kalimat-kalimat pidatonya yang berbahasa Indonesia. Padahal SBY berpidato di depan orang Indonesia. Padahal kata-kata English itu cuma bahasa Inggris dasar yang sangat mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak dulu Pak SBY ini dikasih masukan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. (Tidak harus bahasa yang benar asalkan komunikatif.) SBY sangat gandung ungkapan bahasa Inggris karena barangkali dianggap lebih tepat dan kuat. Tapi haruskah seorang kepala negara berbahasa Indonesia campur Inggris dalam pidato resmi di Indonesia? Di Kalimantan pula!

Okelah, kalau bicara di depan orang asing, di luar negeri, pakai bahasa Inggris 100 persen. Tapi mengapa harus campur english di dalam negeri? Kenapa tidak 100 persen Inggris saja kalau memang tidak suka berbahasa Indonesia?

Syukurlah, SBY akan segera lengser pada 20 Oktober 2014 mendatang. Jadi, biarlah tokoh asal Pacitan yang juga jago menulis cerpen dalam bahasa Jawa ini bebas menggunakan gaya bahasa Indo-English sesuka hatinya. Lebih bagus lagi kalau bicara 100 persen Inggris. Tidak usah gado-gado kayak begitu.

Setahu saya, yang namanya pejabat-pejabat negara, mulai tingkat daerah sampai pusat, punya kode bahasa yang harus dipatuhi. Mereka wajib berbahasa Indonesia secara baik di depan publik. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia kalau tak salah adalah salah satu butir Soempah Pemoeda 1928.

Lha, kalau kepala negaranya saja lebih suka bahasa Inggris, bagaimana rakyatnya disuruh menjunjung tinggi bahasa Indonesia? Mustahil bahasa Indonesia jadi bahasa internasional kalau pengguna bahasanya kena penyakit nginggris. Pengguna bahasa minder dengan bahasa nasionalnya. Pengguna bahasanya lebih suka english agar kelihatan maju, cerdas, modern, kosmopolitan, bukan wong kampung berpendidikan rendah.

Setiap kali mendengar Presiden SBY bicara di televisi, atau membaca kutipan di koran yang dicampur english, saya selalu ingat diplomat Tiongkok di Surabaya. Kebetulan dulu saya sering bertemu dan wawancara Konjen Tiongkok Wang Huagen dan (sebelumnya) Fu Shuigen.

Kedua diplomat negara Zhongguo (baca: Cungkuo) ini sebetulnya fasih berbahasa Inggris. Tapi keduanya hanya mau memberikan keterangan pers dalam bahasa nasionalnya: Putunghuo atau yang lebih kita kenal dengan bahasa Mandarin. Mr Wang tak akan bicara kalau tak ada penerjemah yang juga sekretarisnya, si nona cantik An Xiaoshan.

Wow, luar biasa kecintaan orang Tiongkok pada bahasa nasionalnya! Begitu pula diplomat Prancis lebih suka bicara bahasa Prancis meskipun sangat fasih berbahasa Inggris.

Kalau Jokowi yang jadi presiden, kayaknya penyakit nginggris ini tak ada lagi. Kalimat-kalimat Presiden Joko Widodo nanti bakal lebih berasa Jawa ngoko kulonan. Aku sih rapopo!

Malah enak didengar karena renyah, gak ndakik ndakik because... we have to respect our local and national language agar bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap lestari till the end of the world!

Tapi ngomong-ngomong, we have to learn english agar kita sebagai Indonesia people punya skill of communication seperti Pak SBY. Soalnya, dunia ini sudah menjadi sebuah global village yang tidak terpisahkan!

Matur thank you untuk Mr President SBY!

Good pagi dan selamat morning!

5 comments:

  1. Thank you for artikel yang sangat delightful. Sebagai input, the right word is inseparable, bukannya unseparatable. Once more, terima kasih very much!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat morning atas your comment dan correction yang sangat berguna for me. Saya menghargai your attention. Matur thank you very much!

      Delete
    2. Apa yang sekarang masih berupa lelucon, mungkin 10 tahun kemudian akan berubah menjadi Bahasa Resmi di Republik Indonesia.
      So, I should start learning Pidgin Indonesian.
      Ik ben nu begrepen, waarom cewek Lembata lebih senang bekerja di Malaysia Timur dari pada di Jakarta, sebab si-gendhok boten semerep,
      apa maunya nyonya-indonesia.
      Ndhok, look ! dining-table-nya masih kotor, please ya, you have pesut
      sampai bersih !

      Delete
  2. SBY itu terlalu pinter.. makanya harus inggris biar keren.

    ReplyDelete
  3. keren euy tulisannya... SBY emang agak-agak keterlaluan nginggrisnya... :D

    ReplyDelete