19 September 2014

Lafal Mandarin Tionghoa Sidoarjo Menyimpang

Kredit kartun: http://ikman.files.wordpress.com/2008/03/sapek2.jpg


Sebagian besar warga Tionghoa yang berusia 60-80 tahun di Kabupaten Sidoarjo mampu berbahasa Mandarin. Namun, logat atau pelafalan mereka ternyata menyimpang dari pelafalan bahasa Mandarin standar yang berlaku di Tiongkok.

Belum lama ini dua peneliti dari Program Studi Bahasa Tionghoa Universitas Kristen Petra Surabaya, Carolina AS dan Henny PS Wijaya, mengadakan penelitian tentang pelafalan bahasa Mandarin di kalangan generasi tua di Kabupaten Sidoarjo. Keduanya mengambil sampel warga Tionghoa yang berusia rata-rata di atas 70 tahun.

Menurut Carolina, para sesepuh Tionghoa ini sangat fasih membaca aksara hanzi yang dipakai dalam bahasa Mandarin. Namun, ketika mereka diminta membacakan 11 kalimat dengan suara keras, terdapat perbedaan bunyi yang cukup signifikan. "Nada-nadanya berbeda dengan bahasa Mandarin standar yang dipakai di Tiongkok," jelas Carolina.

Setelah digali lebih jauh, menurut dia, pelafalan yang bervariasi ini tak lepas dari perbedaan guru bahasa Mandarin yang mengajar mereka di sekolah-sekolah Tionghoa di Sidoarjo dan Surabaya. Sekolah-sekolah yang ditutup rezim Orde Baru pada akhir 1960-an itu memang menggunakan guru asal Tiongkok.

"Tapi mereka sudah lama tinggal di Indonesia. Jadi, pelafalan mereka sudah agak berbeda dengan bahasa Mandarin standar," katanya.

Nah, setelah bahasa dan tulisan Tionghoa dilarang selama 30-an tahun, bahasa Mandarin hanya dipakai di lingkungan yang sangat terbatas. Hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga putus, sehingga tidak ada lagi guru-guru native speaker dari negara tirai bambu itu. Meski begitu, warga Tionghoa alumni sekolah-sekolah Tionghoa di Sidoarjo itu masih menggunakan bahasa Mandarin untuk komunikasi secara terbatas.

Namun, karena setiap hari lebih banyak berbahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia, menurut Carolina, bunyi bahasa atau pelafalan para senior itu makin menyimpang dari pelafalan standar Mandarin di negara asalnya.  "Orang-orang Beijing sendiri mungkin bingung mendengar orang Tionghoa di sini berbahasa Mandarin. Sebab, bunyinya berbeda," katanya.

Carolina mengaku menemukan tiga macam kesalahan, yakni vokal, konsonan, dan nada. "Semua nada yang dipakai para orang tua itu mengalami penyimpangan," tutur Carolina.
Tak tanggung-tanggung, perbedaan vokal itu bahkan ada 10 macam. Sedangkan konsonan ada lima perbedaan. Banyaknya perbedaan bunyi ini jelas menjadi masalah serius bagi bahasa Mandarin karena mengubah arti kata atau kalimat.

Carolina menjelaskan, bahasa Mandarin standar yang digunakan di Tiongkok dan dunia internasional menggunakan  pelafalan Beijing. Meski Tiongkok sangat luas dengan banyak bahasa lokal, pelafahalan ala Beijing ini yang dianggap standar. Caroline kemudian menyimpulkan: "Kuncinya ada di guru. Apabila guru mengajarkannya salah, murid juga akan melakukan kesalahan yang sama." 

11 comments:

  1. Ada dua sumber salah lafal: gurunya yang berasal dari Tiongkok selatan, dan pengaruh bahasa daerah. Sebenarnya dibilang standar juga itu merupakan propaganda dari pemerintah

    ReplyDelete
  2. Jangan termakan propaganda pemerintah pusat di Beijing. Pertama, jangan menyebut bahasa-bahasa di Tiongkok itu dialek. Sebagai ahli bahasa di universitas ternama, harus tahu bedanya dialek dan bahasa, yang dengan mudah ditemukan di Wikipedia.

    Di Tiongkok ada 8 kelompok bahasa, termasuk Mandarin. Di antara 8 bahasa itu ada Bahasa Min (Bahasa Hokkian, dari Propinsi Hokkian) dan Bahasa Yue (Bahasa Kanton, dari Propinsi Guangdong) yang populer di luar Tiongkok. Mereka ini bahasa(!) bukan dialek. Dialek itu misalnya; bahasa Mandarin dialek Yunnan; bahasa Hokkian dialek Tiociu, dialek Quanzhou, dialek Kinmen; bahasa Melayu dialek Larantuka, dialek Betawi. Tetapi Lamalohot, itu bahasa!

    Sudah untung orang mau belajar bahasa Mandarin, walaupun nenek moyang mereka tidak berbahasa itu. Para manula Tionghoa di Sidoarjo, Surabaya bicara dengan logat tidak sama dengan logat Beijing itu karena guru-guru dan orang tua mereka berasal dari propinsi Hokkian. Selain itu ada pengaruh bahasa Jawa karena orang Tionghoa di Jawa banyak yang peranakan, dan menggunakan bahasa Jawa di rumah. Kalau di Lombok, pengaruh bahasa Ampenan (Mataram). Di Makassar, pengaruh juga dari bahasa Makassar.

    Pendiri Republik Tiongkok sendiri, Mr. Sun Yat Sen berbahasa asli Kanton, dan dia sudah pasti berbahasa Mandarin dengan logat selatan. Apakah Joko Widodo yang berbahasa Indonesia dengan logat Jawa medok dianggap menyimpang, karena Bahasa Indonesia Riau yang dianggap standar?

    Boleh-boleh saja mengajarkan bahasa Mandarin dengan aksen Beijing, tetapi harus menghormati bahasa-bahasa lainnya. Sebagai orang Tionghoa Indonesia keturunan Hokkian, jangan termakan propaganda pemerintah Tiongkok pusat yang otoriter. Mereka bahkan berusaha menutup siaran-siaran dalam bahasa Kanton di Guangzhou. Hormati perbedaan dan kemajemukan. Marilah kita berbahasa Mandarin dengan logat menyimpang!

    ReplyDelete
  3. Kamsia atas pencerahan bahasa dari Cak Amrik. Memang betul bunyi bahasa tiap daerah itu berbeda2 meskipun bahasanya sama. Bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur + Lembata, NTT, itu bahkan (hampir) setiap desa punya lagu sendiri. Maka, ketika saya bicara bahasa Lamaholot, orang langsung bisa memastikan saya berasal dari kecamatan apa, desa apa... Apalagi negeri Tiongkok atau Indonesia yang sangat luas. Pasti bunyi bahasanya berbeda-beda.

    Oh ya, bahasa Nagi alias Melayu Dialek Larantuka itu sangat membantu orang Flores Timur + Lembata untuk mengerti bahasa Indonesia karena kosakatanya 93 persen sama dengan bahasa Indonesia. Cuma ucapannya yang agak lain seperti DUDUK jadi DUDO, PAGI HARI jadi PEGARI, SENDOK jadi SUDU, SUMUR dibilang PERIGI, KAIN dibilang CITA...

    Yang menarik, semua orang Larantuka yang berbahasa Nagi itu paham bahasa Lamaholot, dan sebaliknya orang2 kampung Lamaholot macam daerah saya juga lumayan paham bahasa Nagi. Karena itu, orang Larantuka bicara bahasa Melayu dialek Larantuka dijawab dengan bahasa Lamaholot. Beda bahasa tapi saling mengerti. Kira2 begitulah.

    Sekali lagi, terima kasih atas penjelasan Cak Amrik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Lambertus, jaman dahulu memang belum ada internet, belum ada TV, jadi belajar bahasa menurut logat gurunya. Tidak perlu penelitian untuk menyimpulkan. Menurut saya pribadi penelitian ini kelasnya masih sekedar laporan jurnalisme.

      Jaman sekarang, ada film global, tv, internet (youtube), skype, jadi belajar bahasa mudah untuk menuruti aksen yang dianggap standar itu. Anda kalau mau berbahasa Indonesia logat betawi, bisa tidak? Gampang kan. Jaman orangtua kita dulu tidak semudah itu.

      Reaksi saya ialah terhadap upaya pemerintah pusat Tiongkok yang berusaha memberantas bahasa daerah. Ini sifat imperialisme seperti Orde Baru dulu. Bahasa Hokkian dan Kanton masih bisa bertahan krn ada siaran TV dan film dari Taiwan dan Hongkong, yang di luar pengawasan RRT dan PKT. Di kota kelahiran kakek saya (yang masih di propinsi Hokkian), sudah jarang anak-anak muda yang berbahasa Hokchia karena pecegahan berbahasa daerah itu.

      RRT banyak kemajuan tetapi sebagai negara otoriter mereka ketinggalan jauh dari Indonesia dari segi demokratisasi dan reformasi birokrasi. Tidak lama lagi negara itu akan menghadapi tantangan besar seperti yang dialami Orde Baru sebelum reformasi.

      Delete
  4. Baca kutipan berita di AFP edisi Agustus 2014:

    China Is Forcing Its Biggest Cantonese-Speaking Region To Speak Mandarin


    Though people in Hong Kong speak Cantonese, it is becoming increasingly marginalized.

    Free-wheeling and business-oriented, the southern Chinese city of Guangzhou is a long way from Beijing physically, culturally and linguistically -- and hackles have been raised by reports Communist authorities are demanding local television drop Cantonese in favour of Mandarin.

    ReplyDelete
  5. orang2 Tionghoa di Malaysia dan Singapura juga saya denger kesehariannya berbahasa Mandarin tapi dgn aksen berbeda jauh sekali dgn aksen Beijing... kurang lebih sama dgn aksen orang Taiwan dan daerah selatan...
    aksen Beijing banyak memakai partikel "er", misalnya "na(3) er" (mana???), "zai(4) zhe(4) er" (di sini)... nah orang selatan lebih sering mengganti "er" dgn "li", karena pelafalan "er" mereka susah... jadinya ya "na li", "zai zhe li"...

    ReplyDelete
  6. aq kira aksen yg berbeda2 itu wajar selama orang masih bisa saling mengerti satu sama lain. tapi mungkin aksen mandarin beijing yg dituntut utk penyiar TV dan acara2 resmi. kalo komunikasi sehari2 sih gak masalah..

    ReplyDelete
  7. * Wo kasih lu sa pek ceng lah !
    > Wah kelarangen cek, kai ki lang, ni kasih wo korting go ban lah.
    *Bwe tui koh, uwe kulaknya sudah no pek go ceng, aku lak sip pun.
    > Uwalah lu orang dagang selalu bilang sip pun.
    *Tenan koh, wo gak bujuk.
    > Wis cek, ngene wae, lu kasih gua harga mati.
    *Sorry koh, sak ripis pun tidak bisa kurang.
    > Jancuk, gua pergi kepasar Turi saja !
    * Karep mu kono, bo ceng li.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia... percakapan yang enak, segar, dan bikin kita senyum sendiri.

      Delete
    2. Bung Hurek, saya kagum dengan polyglott Anda, nah sekarang saya ingin ngetest kemahiran bahasa Anda.
      Saya sesaudara ada 11 orang, 8 lelaki, 3 perempuan. Sejak kecil kami mempunyai seorang tukang cukur dijalan Wangaye, Denpasar.
      Engkoh saya ke-4, sekarang usia 75 tahun, meninggalkan Indonesia tahun 1959, pergi kuliah ke Eropa. Tahun 2003 dia berlibur ke Bali untuk bernostalgia. Kecuali menemui bekas teman2 sekolahnya, para tetangga, dan dia juga pergi kelangganan tukang cukur kita. Bapak tukang cukur sudah meninggal, usahanya diteruskan oleh putranya.
      Waktu potong rambut, diatas kaca ada tulisan : I dot you.
      Bung Hurek, apakah artinya I dot you ?
      Engkoh saya selama dicukur terus memeras otak, apakah arti kalimat diatas ? Achirnya dia menyerah, setelah selesai baru bertanya kepada si tukang cukur.

      Delete
  8. Orang generasi dulu ada kemungkinan terpengaruh dengan pelafalan dialek Nanjing yang sampai abad 19 jadi standar bahasa Mandarin. Dan itu juga termasuk guru2 yang didatangkan dari Tiongkok untuk mengajar di sekolah Tionghoa. Pengucapan Mandarin standar sendiri ada perubahan di tahun 1932. Yang sebelumnya disebut Old National Pronunciation (老國音), barangkali masih ada guru-guru yang belum up to date atau belum bisa lepas dari kebiasaan pengucapan yang lama.

    ReplyDelete