26 September 2014

Musik Pring Ori dari Sidoarjo



Sambil menikmati jajan pasar, diterangi api unggun, sekitar 50-an audiens di Sanggar Pecantingan, Desa Sekardangan, Sidoarjo, dihibur enam pemusik asal Porong dengan alunan musik yang tidak biasa. Musik mereka campuran antara tradisional, kothekan, modern, dan sesekali ditingkahi vokal yang bebas. Tidak ada ritme atau melodi yang ajek. Pun tak ada lirik atau syair layaknya musik pop, rock, jazz, atau dangdut.

Pring Ori, grup musik asal Porong itu, akhirnya bangkit kembali dari mati surinya sejak tragedi semburan lumpur Lapindo, delapan tahun silam. Beberapa pemusik jadi korban lumpur, terpaksa mengungsi, tak lagi punya jujukan tetap. Para pemusiknya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Pring Ori itu kelompok yang mengalir begitu saja. Nggak neko-neko. Nggak ngoyo. Yang kami tonjolkan itu spontanitas dan mengalir," ujar Yusri, salah satu pemusik, sekaligus juru bicara Pring Ori, saat tampil di Sekardangan, Sidoarjo, dua pekan lalu.

Grup Pring Ori mulai muncul sejak akhir 1990-an. Saat cangkrukan bersama, ada yang main gitar, biola, dan beberapa instrumen yang kebetulan tersedia. Yang tidak punya alat musik pun spontan meningkahi dengan vokal yang bebas, bertepuk tangan, atau memukul kaleng atau galon air mineral. "Ternyata asyik juga," kenangnya.

Saat itu kebetulan di Sidoarjo sedang tumbuh sejumlah sanggar atau kantong kesenian di berbagai kawasan. salah satunya Sanggar Pecantingan, Sekardangan, Sidoarjo. Arek-arek Pring Ori pun diajak untuk berlatih sekaligus tampil rutin setiap malam bulan purnama. Awalnya para pengunjung, khususnya warga setempat, merasa aneh dengan musik Pring Ori yang memang jauh berbeda dengan musik mainstream di televisi. 

"Tapi lama-lama orang jadi senang menikmati Pring Ori karena nuansanya beda. Rasanya tenang, guyub, khas suasana perkampungan," ujar Suhari, pengelola Sanggar Pecantingan.

Sawung Jabo, musisi kawakan asal Surabaya, pun terkesan dengan Pring Ori. Seniman yang terkenal dengan lagu-lagu kritik sosialnya bersama Swami, Kantata Takwa, dan Sirkus Barock ini pernah mengajak Pring Ori untuk berkolaborasi memeriahkan pentas seni ulang tahun Kabupaten Sidoarjo di alun-alun. 

Tak disangka, masyarakat merespons dengan baik musik tanpa vokal itu. Bupati Sidoarjo (waktu itu) Win Hendrarso pun ikut memberikan apresiasi kepada para seniman kota petis itu. "Ada nuansa baru, nuansa kesenian, dalam perayaan HUT Sidoarjo," kata Pak Win.

Sayang, bencana lumpur Lapindo ternyata ikut menyurutkan aktivitas kesenian di Kota Delta. Satu per satu sanggar dan rumah budaya memilih vakum. Banyak pula seniman muda yang menikah, punya anak, sehingga harus fokus mengurus rumah tangga. Nama Pring Ori pun tenggelam oleh hiruk-pikuk unjuk rasa korban lumpur yang terus menuntut pembayaran ganti rugi tanah dan rumah mereka.

Heri Andriyanto, pemain violin asal Krembung, malam itu ikut nimbrung bersama Pring Ori. Pria yang lebih dikenal dengan nama Heri Biola ini memang sejak awal selalu diajak berkolaborasi dengan grup kontemporer ini. 

"Pring Ori itu komunitas musik yang sifatnya bebas dan terbuka untuk siapa saja. Nama-nama personelnya bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Saya juga bisa dianggap anggota Pring Ori. Anda juga otomatis jadi anggota kalau ikut kolaborasi," kata Heri.

Seperti namanya, menurut Heri, Pring Ori ini ibarat rumpun bambu yang kokoh, punya akar yang kuat, tapi sangat lentur ketika menghadapi terjangan angin kencang. Bambu itu kelihatan rebah, bahkan jatuh, tapi tidak sampai mati. 

"Bambu itu temannya banyak dan selalu tumbuh tunas baru dalam waktu cepat. Filosofi bambu inilah yang dianut teman-teman di Pring Ori," kata pemusik yang juga guru SDN Kebaron, Tulangan.

No comments:

Post a Comment