23 September 2014

Jumaadi antara Sidoarjo dan Sydney


Jumaadi dan istri, Siobhan Campbell.

Tinggal dan bekerja di Sydney, Australia, selama hampir 20 tahun, punya istri wanita bule Aussie, tak membuat Jumaadi berubah jadi orang kota. Setiap kali cuti di Desa Sekardangan, Sidoarjo, pelukis ini selalu bikin acara kesenian yang berbau ndeso.

Dua minggu lalu, Jumaadi mengajak teman-teman seniman Sidoarjo untuk kumpul-kumpul di rumah masa kecilnya di Sekardangan. Joglo lawas yang dikelilingi kolam ikan, bambu, dan pepohonan yang bikin sejuk. Main musik dengan penerangan obor, baca puisi, hingga menikmati dolanan anak-anak.

Permainan khas anak-anak kampung memang sangat membekas di hati Jumaadi. Bikin wayang suket dari rumput di sawah, main dalang-dalangan, jamuran, menari di bawah sinar bulan purnama, dengar gending Jawa, sambil ngopi dan menikmati jajan pasar ala kampung.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Australia, kampung halaman Jumaadi di Sidoarjo sudah jauh berubah. Hamparan sawah di Sekardangan tak ada lagi. Yang ada hanyalah perumahan-perumahan kelas menengah atas yang dikelilingi pagar tembok, dijaga satpam, yang penghuninya bukan orang kampung.

Teman-teman masa kecil Jumaadi saling mencar entah ke mana. Jumaadi pun terkejut melihat kampung halamannya sudah jauh berbeda dengan era 1980an dan 1990an. Di mana gerangan bocah-bocah kampung yang bermain, bernyanyi di sawah, mencari ikan di kali? Di mana gerangan seni batik tulis Sekardangan yang dulu sangat terkenal di kampungnya?

Banyaknya perumahan baru, yang mamakan sekian ratus hektare sawah, telah membuat kampung Sekardangan berubah total. Penduduk yang dulunya petani, punya sawah, kini hanya bisa jadi buruh pabrik. Anak-anak punya mainan baru yang jauh berbeda dengan anak-anak era 1980an.

PS, game online, internet, televisi.. tentu lebih menarik ketimbang wayang suket atau mencari ikan di sungai. Karena itu, saya bisa memahami kegundahan para perantau seperti Jumaadi (atau saya sendiri) ketika pulang kampung.

Kok suasananya beda banget dengan masa kecil saya? Kok anak-anak tidak berebut menjabat dan mencium tangan saya? Kebiasaan yang dulu saya lakukan saat bocah ketika om-om baru kembali dari Malaysia atau Jawa. Kok anak-anak lebih asyik main HP ketimbang mengerubuti saya untuk mendengar cerita-cerita ajaib di tanah rantau?

Mas Jumaadi pun tidak bisa lagi melihat wayang suket di Sidoarjo. Bahkan anak-anak sekarang dijamin tidak tahu mainan anak-anak lawas untuk hiburan di kampung itu. Maka, apa boleh buat, Jumaadi pun terpaksa mencari rumput sendiri (jauuuh.. karena sawah tak ada lagi) dan mulai bikin wayang suket di rumah tua milik orang tuanya itu. Syukurlah, ada beberapa anak yang mau diajak latihan membuat wayang suket.

Hanya seminggu Jumaadi berlibur di Sidoarjo. Kemudian ke Amerika Serikat untuk proyek seni rupanya, kemudian kembali ke Sydney. Tahun depan dia cuti lagi di kampung halamannya dan pangling lagi dengan Sekardangan yang makin berubah rupa. Mudah-mudahan rumah joglo tua dengan kolam ikan dan suasana kampung ala 1980an itu masih bisa bertahan.

No comments:

Post a Comment