04 September 2014

Anis Roga mantan juara tinju yang apes

Setengah jam lalu saya membaca berita kecil di Jawa Pos (4/9/2014) halaman 27. Judulnya: Mantan Petinju Bikin Onar. Wow, siapakah gerangan mantan petinju itu?

Ternyata Anis Roga. Bekas petinju asal Ende, Flores, NTT, itu memukul seorang satpam Penthouse, tempat hiburan malam di Ngagel, Surabaya, bekas pabrik karet. Biasa, gegeran khas orang dugem. Karakter yang sudah panas dari sananya, ditambah pengaruh alkohol... orang sering sulit kontrol emosi. Anis Roga pun dilaporkan ke Polsek Wonokromo.

Penggemar tinju profesional di Jawa Timur pasti pernah kenal nama Anis Roga. Dulu dia juara IBF Intercontinental ketika aktif di Akas BC. Tekniknya bagus, ngeyel, tidak mau duduk saat istirahat, dan menangan. Kebanyakan lawannya dibuat KO.

"Petinju favorit saya Oscar de La Hoya," kata si Anis yang dulu suka pakai kalung rosario ini. Sebelum naik ring dia biasa meminta misa khusus kepada pastor di gereja. Dia bahkan punya kapel khusus di rumahnya di Probolinggo.

Membaca berita tentang sisi bengal si Anis Roga, mantan juara dunia tinju, banyak kenangan lama saya pun muncul. Sebab, saya pernah agak dekat dengan Eja yang satu ini ketika dia lagi tergila-gila dengan seorang cewek di Jember. Yang kemudian dinikahinya secara resmi di Gereja Katolik St Yusuf Jember, Jalan Kartini 26.

Hehehe.... Banyak kenangan yang lucu. Si Anis sering nekat kabur dari Sasana Akas agar bisa pacaran sama Ninik, gadis asal Patrang, Jember, ini. Pak Bambang, ketua lingkungan, di Patrang pasti tahu lebih banyak karena rumahnya dekat sama si pacarnya Anis. Begitulah, kata almarhum Gombloh: kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasanya cokelat!

Singkat cerita, saya jadi dirigen paduan suara yang mengiringi pemberkatan pernikahan Anis Roga di Jember. Karir Anis melambung terus, kemudian jatuh, seiring meninggalnya Om Aseng, promotor hebat Jatim saat itu. Pelatihnya, M Yunus, pun kehilangan gairah untuk mencetak juara-juara tinju dunia dari Jawa Timur.

Dan kami tak pernah ketemu lagi. Anis sempat jadi pelatih dan kerja serabutan di beberapa tempat. Saya pernah lihat fotonya di koran. Badannya sudah gemuk mekar. Tidak ada tanda-tanda kalau dulunya di juara dunia tinju kelas bantam kalau gak salah.

Berita tentang sepak terjang mantan petinju-petinju hebat yang memprihatinkan, jadi tukang pukul, berurusan dengan polisi, sudah lama menghiasi media-media di Indonesia. Nasib mereka tragis setelah pensiun. Jasa mereka yang pernah mengharumkan nama negara tak lagi diingat orang.

Sebelumnya Ellyas Pical, juara dunia tahun 1980an, juga masuk koran karena kasus macam Anis Roga ini. Kalau tidak salah, Elly Pical jadi satpam, menggeluti pekerjaan yang berkaitan dengan jasa pengamanan. Ada juga bekas petinju yang kesandung narkoba.

Kasus Anis Roga, yang dimuat koran hari ini, relatif ringan ketimbang beberapa mantan atlet hebat lain. Tapi paling tidak bisa membuka mata pemerintah untuk menghargai keringat atlet, khususnya setelah gantung sarung tinju, gantung raket, dan sebagainya.

Salam damai untuk Anis Roga sekeluarga!

1 comment: