11 September 2014

Anak wartawan (terpaksa) jadi wartawan

Belakangan ini saya lihat cukup banyak wartawan baru yang ternyata anaknya wartawan. Anak-anak wartawan ini biasanya tidak pernah diarahkan ayahnya untuk jadi pekerja media. Biasanya, mereka melamar sendiri dan akhirnya diterima di newsroom.

"Ayahmu kan wartawan top, gurunya banyak wartawan di Surabaya. Berarti kamu pasti sudah diajarin ilmu jurnalistik, cara menulis berita, wawancara, 5W + H, dan sebagainya?" tanya saya.

"Nggak pernah," kata reporter baru itu. "Ayah malah suruh saya belajar sendiri. Ayah nggak pernah ikut campur urusan kuliah, pilihan kampus, termasuk saya harus kerja di mana."

Wartawan fresh ini putranya salah satu mbahnya wartawan, yang jago menulis feature alias boks. Saya salah satu muridnya. Dulu dia biasa mengedit tulisan-tulisan saya dengan pola editing yang sangat ketat. Orangnya galak tapi baik.

Aneh juga, pikir saya. Bapaknya sudah menggembleng begitu banyak wartawan, yang sekarang jadi editor dan pemimpin redaksi sejumlah media, kok anaknya tidak diajari sama sekali. Pengetahuan dan keterampilan sang anak diperoleh dari bangku kuliah, baca buku, dan belajar sendiri.

"Barangkali ayahmu pernah mengoreksi tulisan-tulisanmu? Paling tidak membaca dan memberi masukan mana yang kurang, mana yang perlu dilengkapi, ejaan yang salah?" tanya saya lagi.

"Tidak pernah," katanya.

Ya, pantas saja kalau kualitas tulisan si wartawan baru ini masih sangat jauh dari tulisan ayahnya. Poin-poin yang dilarang keras oleh ayahnya, seperti kalimat-kalimat majemuk yang panjang, lead yang mbulet, bertele-tele, fokus tidak jelas, justru dilakukan secara konsisten oleh si reporter baru ini.
"Aneh, wartawan-wartawan lain digembleng dengan sangat keras, sementara anaknya sendiri dibiarkan jalan tanpa arahan," pikir saya.

Akhirnya, saya membuat kesimpulan sendiri yang spekulatif. Besar kemungkinan wartawan-wartawan senior kawakan itu tidak ingin anaknya jadi wartawan. Maka, anak-anaknya tidak disuapi ilmu jurnalistik di rumah. Anak-anak mereka pun umumnya didorong masuk ke perguruan tinggi yang tidak ada kaitannya dengan media atau kewartawanan.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Mereka ternyata dibelokkan oleh alam untuk mengikuti perjalanan yang sudah dirintis orang tuanya. Mereka pun harus belajar jurnalistik praktis kepada editor-editor yang notabene mantan murid orang tuanya.

"Jujur aja, saya malu ngajarin kamu. Wong ayahmumu itu salah satu guru jurnalistik saya," kata saya sambil tertawa.

Saya jadi ingat Ki Subur, dalang wayang potehi di Sidoarjo. Dua anak laki-lakinya, Alfian dan Ringgo, dulu sangat tidak suka dengan kesenian tradisional khas Tionghoa itu. Keduanya juga tidak habis pikir mengapa Ki Subur, yang muslim taat, salat lima waktu, harus masuk keluar kelenteng untuk memainkan wayang para pendekar dan dewa-dewi  dari negeri Tiongkok.

Lima tahun setelah saya menulis profil Ki Subur, berikut pernyataan dua putranya, apa yang terjadi? Saat ini Alfian dan Ringgo malah ketagihan bermain wayang potehi. Keduanya bahkan sudah jadi asisten Ki Subur ketika ditanggap bermain wayang potehi di berbagai kota di Indonesia.

4 comments:

  1. Itu karena sudah garisnya, Bung. Ada gen-nya yang memang membuat si anak tertarik mengikuti mata pencarian orangtuanya. Saya sendiri sekolah tehnik, walaupun ayah saya pengusaha. Akhirnya saya kembali masuk sekolah magister, dan menjadi manajer perusahaan yang berkecimpung di bidang tehnik. Ayah saya tidak pernah mengajari ini itu, semuanya saya belajar sendiri dari mentor-mentor sepanjang karier saya. Beruntunglah para wartawan baru itu yang digodok oleh Bung.

    ReplyDelete
  2. itu karena orangtuanya sangat sadar kalo jadi wartawan itu sangat berat, penuh risiko, jarang di rumah, beda dengan profesi2 lain. makanya dia tidak ingin anaknya jadi wartawan juga. coba lihat aja pasutri wartawan kawakan almarhum Bapak A Aziz dan Ibu Tuty Aziz pendiri dan pemilik Surabaya Post. Semua anak2nya tidak ada yg jadi wartawan atau mengurusin koran. akhirnya, koran Surabaya Post yg hebat itu gulung tikar begitu Pak Aziz dan Bu Tuti meninggal dunia.

    Kita kenal wartawan2 top masa lalu kayak almarhum Rosihan Anwar, almarhum Muchtar Lubis, dan sebagainya. Tidak ada anak2 mereka yg jadi wartawan. Begitu juga Pak Jacob Oetama pendiri dan pemimpin redaksi Kompas. Mana ada anaknya Pak Jacob yg jadi wartawan???

    ReplyDelete
  3. Yang paling menarik itu Pak Dahlan Iskan. Putranya, Azrul Ananda, jadi wartawan dan kemudian jadi bos Jawa Pos. Tadnya Pak Dahlan tidak ingin Azrul jadi wartawan. Saya kutip pernyataan Pak Dahlan Iskan di majalah SWA:


    Dahlan Iskan: "Sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita dan menginginkan Azrul bergabung dan bahkan menjadi pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya lebih senang dia menjadi profesional atau menjadi sesuatu yang dia inginkan. Saya tidak mau dia menderita seperti saya. Apa sih kayanya jadi wartawan itu? Makanya, sejak lulus SMP, dia saya sekolahkan ke Amerika Serikat supaya jauh dari "bau tinta". Di AS kan dia lebih punya banyak pilihan. Saya menyadari sepenuhnya sejak dini kalau saya memang tidak mau menyiapkan Azrul sebagai pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya tidak mau dikecam dan anak saya dikecam karena tindakan nepotisme itu.

    Sepulang dia dari Kansas, AS, tahun 1999, sebagai master international marketing, dia datang kepada saya meminta bekerja di koran Jawa Pos. Saat itu saya masih menjadi Dirut Jawa Pos. Saya jawab saja, gak mungkin kamu bisa kerja di sini. Azrul heran dengan pernyataan saya itu, lalu dia membalas pernyataan saya kalau dia tidak dibolehkan kerja di Jawa Pos, dia akan bekerja di Kompas.

    Waduh. bingung kan saya dan saya merasa dipojokkan dengan pernyataan Azrul yang mau kerja di Kompas kalau tidak diizinkan bergabung dengan Jawa Pos. Saya berada di posisi sulit. Paling sulit dalam kehidupan saya. Saya diskusikan dengan kawan-kawan petinggi Jawa Pos.

    Saya tahu hal ini bertentangan dengan hati nurani saya, dan melanggar prinsip manajemen.Bagi saya, sangat sulit memutuskan menerima Azrul bekerja di Jawa Pos. Saya tahu saya sudah berupaya menjauhkan Azrul sedemikian rupa dari bau tinta Jawa Pos, tapi kalau ternyata dia masih mau dan memilih untuk dekat dengan bau tintanya Jawa Pos, saya anggap itu sudah takdir Azrul. Bahwa akhirnya dia ada di Jawa Pos, ya takdir Azrul."

    ReplyDelete
  4. Intinya seperti dikatakan pak Dahlan Iskan:
    "Saya tidak mau anak saya menderita seperti saya."

    ReplyDelete