25 September 2014

Anak sibuk pacaran, ibu jadi pembantu

Bu Ninik tinggal di sebuah perumahan menengah atas di Surabaya. Setiap pagi ibu yang ramah ini rajin membersihkan halaman rumahnya. Menyapu, menata bunga, dan sebagainya. Padahal wanita karir ini punya pembantu.

"Sekalian olahraga," katanya. "Lagi pula, sejak dulu saya suka bersih-bersih. Saya gak puas kalau pembantu yang bersihin rumah saya."

Bu Ninik punya dua anak gadis. Satunya SMA, satunya lagi mahasiswi. Berbeda dengan mamanya yang rajin bersih-bersih, saya tidak pernah melihat dua gadis ini bersih-bersih. Tak pernah pula membantu mamanya menata kembang, menyapu, dan sebagainya. Cuek bebek!

Cewek-cewek itu lebih asyik berpacaran. Berjam-jam keduanya ngobrol dengan pacar masing-masing. Sang mama pun membiarkan saja anaknya menikmati masa muda yang indah. Tak pernah saya dengar Bu Ninik menegur anak gadisnya yang terlalu antusias pacaran dan cuek dengan urusan housekeeping.

"Biarkan aja mereka belajar sambil menikmati masa mudanya," kata Bu Ninik suatu ketika. Yang penting, dia menambahkan, pacaran dalam batas normal.

Lain padang lain belalang! Betapa bahagianya anak-anak di kota besar di Jawa macam Surabaya. Mereka tak perlu kerja membantu orang tua. Cukup belajar, sekolah, garap PR, nonton film, pacaran, dst. Dapat uang jajan yang sangat banyak dari orang tua. Masih diantar jemput pula ke sekolah.

Di NTT, khususnya Flores Timur, termasuk Lembata, anak-anak dipaksa orang tua kerja begitu keras. Harus cuci piring, ambil air cukup jauh, menyapu, ngepel, menggembala ternak, atau memasak. Karena itu, setiap pagi kita melihat anak-anak usia sekolah (SD sampai SMA) sibuk menyapu halaman rumah masing-masing sebelum berangkat ke sekolah.

Mungkin beban kerja ini pula yang membuat nilai ujian nasional anak-anak NTT paling rendah di Indonesia. Sejak dulu peringkat NTT memang selalu buruk sehingga warga dan pemerintahnya tidak cemas. Orang tua pun cenderung cuek aja.

Buat apa nilai unas tinggi, toh sebentar lagi merantau jadi TKI di Malaysia. Tidak lulus pun tak masalah. Toh majikan di Malaysia Timur, khususnya Sabah, tak butuh ijazah.

Di kota besar macam Surabaya dan Jakarta, anak-anak hanya fokus ke sekolah, pelajaran, les ini itu, bimbingan belajar, ngaji, dsb. Sekolah sepanjang hari alias full day school makin menjamur di kota besar. Mana ada waktu untuk bersih-bersih rumah, cuci piring, atau ngepel lantai di rumah?

1 comment:

  1. Ikut prihatin dengan nasib saudara dan saudari kita di NTT.
    Ketika masih kuliah, saya punya seorang teman yang sangat akrab, orang Flores dari Bajawa. Suatu hari dia termenung dan berkata kepada saya; coba kamu ceritakan kehidupan mu sejak kecil sampai dewasa di Indonesia.
    Saya jawab apa adanya, walaupun agak heran dengan pertanyaan yang aneh ini.
    Sejak kecil gua pagi hari sarapan, sepiring bubur Hafer (oats), sebutir telur ayam dan segelas susu sapi. Pulang sekolah langsung dipaksa minum segelas air jeruk peras atau tomat peras. Makan siang tidak terlalu mewah, namun cukuplah gizi-nya, sebagai penutup harus makan buah2-an. Sore dipaksa minum semangkuk kaldu daging atau ayam. Malam hari, ya makan malam dengan lauk pauk daging, ikan dan sayur. Saking bosannya sampai mau muntah kalau dipaksa minum susu dan makan pisang. Sejak usia 15 tahun aku tidak berani lagi makan pisang, pepaya dan minum susu sapi.
    Kenapa lu tanya yang aneh2, Dax ?
    Begini, saya sedang berpikir, mengapa kalian orang cina lebih berhasil daripada kita orang pribumi, terutama dalam bidang sekolah.
    Emangnya kenapa, Dax ?
    Ya itu, kalian orang cina sejak kecil selalu dapat makanan yang bergizi tinggi, sehingga otak kalian lebih cerdas daripada kita pribumi yang kurang makan protein. Kita pribumi makan asal kenyang. Situasi ini tidak berlaku untuk pribadi temanku si Flores, sebab dia anak kepala suku ( raja kecil ) di Bajawa. Kalau aku kesekolah harus ngengkol sepeda, sedangkan dia, si Flores, numpak jaran seperti cowboy kesekolah.
    Ya, temanku satu ini walaupun seorang Katolik tulen, jebolan Seminari, tetapi pikirannya agak condong kekiri, demi bangsa dan negara Indonesia, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya di Indonesia. Dia pengagum berat Deng Xiao-ping. Sejak achir tahun 1974 kita tidak pernah bertemu lagi, kabarnya dia sekarang menikah dengan cewek Sumatra dan menetap disana.
    Bung Hurek, anak2 perempuan teman2-mu koq semuanya nonik2 yang manja.
    Apakah para nonik manja itu sadar, bahwa pada suatu ketika mereka harus masak, cuci piring, cuci baju, nyenerika, ngepel, ngosek kakus sendiri.
    Suatu ketika saatnya akan tiba, dimana wanita pribumi tidak mau lagi menjadi babu. Mereka hanya mau jadi asisten rumah tangga dengan tuntutan gaji 5 juta per bulan, jam kerja maximum 8 jam sehari, sabtu-minggu-hari besar, free., tiap tahun 30 hari libur ( perlop ), tunjangan hari tua dan kesehatan, kamar tidur yang manusiawi, minimum seluas 12 M2 perorang plus kamar mandi &WC extra.
    Semoga tuntutan para ART bisa terwujud secepatnya. Rasain kalian para nonik manja di Indonesia. Nasib kalian nonik manja lain kali, jika beruntung dikawin pria konglomerat atau tetap menjomblo sampai tua, jadi perawan tuwek, mana ada lelaki yang sedemikian bodoh mau kawin sama perempuan yang ora entos opo-opo.

    ReplyDelete