05 August 2014

Tidak kenal kepala desanya sendiri

Ada seorang siswi SMA Katolik favorit di Surabaya, Sinlui, minta petunjuk soal teknik fotografi. Soalnya, dia mau ikut lomba foto antarsekolah di Jawa Timur. Oke, nanti saya minta bantuan teman saya yang fotografer kawakan!

Saya sendiri biasa memilih mana foto yang bagus, biasa, dan buruk meskipun tidak pandai memotret. Begitu juga saya bisa membedakan masakan rawon dan pecel yang enak meskipun saya tidak bisa memasak sendiri. Saya pun sering membahas sepak bola, menilai klub-klub yang bagus dan jelek meski saya sendiri tidak bisa main sepak bola.

Maka, datanglah gadis manis Sinlui berkacamata. Obrolan yang asyik, mengalir. Anaknya memang cerdas banget. "Kamu tinggal di mana?" Dia sebut nama perumahan menengah-atas di Kecamatan Waru, Sidoarjo. Wow, kepala desanya ternyata teman saya. Hehehe...

Sang kades itu sering menang lomba foto antarwartawan, bikin pameran foto paling unik, naluri blusukannya hebat. Di sela kesibukannya sebagai kepala desa, Mas Tris tetap saja hunting. Ke mana-mana selalu bawa kamera profesional. "Kades itu cuma hobi, profesi saya sih tetap fotografer," katanya bercanda.

"Kamu kenal fotografer atau wartawan foto di sekitar tempat tinggalmu?" tanya saya.

"Enggak Om. Makanya saya minta konsultasi ke Om. Mama saya yang rekomendasikan," jawab siswi Sinlui. Mamanya dan papanya memang kenalan saya. Beberapa kali bertemu waktu misa di gereja dekat Bandara Juanda.

"Oh, berarti ortunya juga nggak kenal kepala desanya!" kata saya dalam hati.

Maklumlah, warga perumahan! Orang-orang yang tinggal di perumahan di Sidoarjo dan Surabaya memang kebanyakan tidak tahu siapa kepala desa atau lurahnya. Nanti kalau ada urusan surat-surat yang menyangkut RT/RW atau desa barulah dia terpaksa datang ke balai desa.

Beda banget dengan kami di pelosok NTT yang sangat mengenal kepala desa. Bahkan, orang-orang di kampung saya tahu nama-nama kepala desa di satu kecamatan. Lengkap dengan intrik-intrik politik menjelang dan sesudah pilkades. Plus ulah kades-kades nakal yang mungkin punya wanita simpanan.

Nah, sebetulnya saya mau minta teman saya yang kades fotografer itu untuk membimbing anak Sinlui ini. Kan sama-sama satu desa. Tapi kayaknya terlambat. Maka, saya minta teman wartawan foto yang bukan kades untuk kasih bimbingan singkat.

Begitu paradoks orang kota di Surabaya dan Sidoarjo. Kenal nama-nama fotografer beken di tempat jauh, baca dan lihat karyanya di internet, tapi fotografer hebat di desanya sendiri malah tidak tahu. Dan, si fotografer itu pak kadesnya sendiri.

No comments:

Post a Comment